Mikrobioma Ötzi Ungkap Ragi Dingin dan Jejak Usus Zaman Tembaga

Phys.org

Phys.org

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Mikrobioma Ötzi, mumi manusia alami tertua di Eropa, kini dipetakan lebih rinci oleh peneliti Eurac Research. Temuan kuncinya mencolok: jejak flora usus manusia Zaman Tembaga masih terbaca, sementara ragi tahan dingin dari lingkungan gletser tetap “hidup” hingga hari ini.

Selama ini Ötzi lebih sering dibahas sebagai ikon arkeologi dan forensik, bukan sebagai ekosistem mikroba. Padahal, tubuh yang dibekukan ribuan tahun adalah arsip biologis yang menyimpan cerita tentang kesehatan, lingkungan, dan dampak konservasi modern.

Studi yang terbit di jurnal Microbiome ini mencoba menjawab pertanyaan yang sering luput: mikroorganisme mana yang berasal dari masa hidup Ötzi, dan mana yang datang setelah kematian. Pembedaannya penting karena masa tinggal di gletser ribuan tahun dan perawatan museum puluhan tahun sama-sama bisa “menulis ulang” jejak mikroba.

Tim Eurac Research menggabungkan banyak sumber sampel: es di permukaan, air lelehan dari dalam mumi, serta puluhan usap (swab) dari berbagai bagian tubuh. Mereka juga memakai data lama dari jaringan usus dan isi lambung, lalu menambahkan sampel tanah lokasi penemuan yang dibekukan sejak pemulihan Ötzi pada 1991.

Dari jaringan internal, peneliti mendeteksi materi genetik bakteri yang dikaitkan dengan flora usus asli Ötzi. Mikrobioma ini pernah dideskripsikan dalam studi Eurac Research tahun 2019, dan disebut mirip dengan sedikit contoh flora usus populasi manusia awal yang masih diketahui.

Implikasinya tajam untuk riset kesehatan modern: bakteri semacam itu jarang ditemukan pada manusia di masyarakat industri saat ini. Ötzi menjadi “jendela” langka ke masa lalu mikroba manusia, sekaligus pengingat bahwa perubahan pola makan dan lingkungan mungkin mengubah ekologi usus secara drastis.

Kejutan terbesar datang dari ragi tahan dingin yang ditemukan pada sampel kulit, air lelehan dari dalam mumi, dan bahkan isi lambung. Analisis genetik menunjukkan kekerabatan dengan strain dari wilayah ekstrem dingin seperti Antarktika, sehingga asalnya diduga kuat dari lingkungan gletser.

Peneliti menemukan dua wajah DNA: ada yang sangat terdegradasi (purba) dan ada yang terawat baik (modern). Ini menandakan mikroba tersebut bukan sekadar “fosil” biologis, melainkan masih bertahan dalam kondisi pelestarian saat ini, yakni sekitar minus enam derajat Celsius dengan kelembapan tinggi.

Frank Maixner, direktur Institute for Mummy Studies di Eurac Research, menekankan kontinuitas itu dengan kalimat yang mudah diingat: “We see continuity here.” Ia menambahkan, ragi-ragi ini “telah menemani Ötzi dalam perjalanan panjangnya melintasi milenia.”

Di titik ini, studi tersebut menggeser cara pandang konservasi: mumi “bukan relik statis, melainkan sistem biologis dinamis,” kata Maixner. Artinya, setiap keputusan perawatan berpotensi mengubah keseimbangan mikroba, baik menguntungkan maupun merusak.

Temuan lain yang lebih problematik menyasar praktik konservasi masa lalu. Tiga dari empat ragi memiliki kapasitas genetik untuk menguraikan fenol, bahan aktif yang pernah digunakan setelah pemulihan Ötzi untuk membersihkan permukaan dari pertumbuhan jamur.

Jika ragi mampu “memakan” fenol, maka intervensi yang dimaksudkan menekan jamur bisa saja tanpa sengaja memberi sumber makanan bagi mikroba tertentu. Di sini konservasi tampak seperti eksperimen ekologi, di mana satu tindakan bisa menciptakan seleksi alam mikroba yang tak direncanakan.

Mohamed S. Sarhan, mikrobiolog sekaligus penulis utama, merangkum paradoks tersebut: mikrobioma mumi unik karena berisi mikroba berusia lebih dari 5.000 tahun dan mikroba modern yang masuk sejak penemuan. Dengan kata lain, Ötzi adalah pertemuan masa lalu dan masa kini dalam satu kulit yang sama.

Elisabeth Vallazza dari South Tyrol Museum of Archaeology menegaskan kondisi pelestarian saat ini sangat stabil, dengan pemantauan mikrobiologis ketat agar mumi tidak rusak. Namun ia juga mengakui riset lanjutan dan upaya konservasi penuh tetap dibutuhkan untuk menjaga Ötzi bagi generasi berikutnya.

Marco Samadelli, ahli konservasi dan salah satu penulis, menyoroti keterbatasan pengetahuan kita tentang pelestarian mumi gletser. Studi ini memperluas pemahaman, tetapi sekaligus menandai bahwa “manual” konservasi untuk tubuh yang membeku ribuan tahun masih jauh dari selesai.

Di luar museum, ada jalur manfaat lain yang mengintai: mikroorganisme tahan dingin berpotensi dipakai untuk proses industri hemat energi. Contohnya fermentasi suhu rendah, yang dapat menekan biaya dan emisi jika dibandingkan proses yang memerlukan pemanasan tinggi.

Riset mikrobioma Ötzi memperlihatkan bahwa sains warisan budaya tidak lagi hanya soal menjaga benda tetap utuh. Ia kini juga soal mengelola kehidupan mikro yang tak kasatmata, yang bisa menjadi ancaman sekaligus aset pengetahuan.

Namun ada risiko narasi yang terlalu merayakan “penemuan” tanpa menimbang konsekuensinya. Jika mikroba dapat beradaptasi pada minus enam derajat dan kelembapan tinggi, maka perubahan kecil pada suhu, bahan pembersih, atau prosedur sampling bisa memicu pergeseran komunitas mikroba yang sulit diprediksi.

Di sinilah kritiknya: konservasi modern bisa menjadi faktor evolusi yang aktif, bukan sekadar “penjaga” pasif. Ketika fenol diduga ikut menyeleksi ragi tertentu, kita belajar bahwa niat baik tidak otomatis menghasilkan ekologi yang sehat bagi mumi.

Di saat yang sama, daya tarik industrial dari ragi dingin berpotensi memunculkan godaan baru: eksploitasi bioteknologi dari mikroba yang melekat pada peninggalan manusia. Pertanyaannya bukan hanya “bisa atau tidak,” tetapi juga “pantas atau tidak,” dan siapa yang berhak mengambil manfaat.

Ötzi mengajarkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar beku. Di permukaan kulitnya, mikrobioma Ötzi terus bernegosiasi dengan gletser, museum, dan keputusan manusia yang merawatnya.

Jika mumi adalah arsip, maka mikroba adalah tinta yang masih bergerak. Kita mungkin perlu bertanya: sejauh mana kita menjaga warisan, dan sejauh mana kita tanpa sadar sedang menulis bab baru di tubuh yang seharusnya kita lindungi. (Orbit dari berbagai sumber, 9 Juni 2026)