Prabowo Pramono Anung dan LRT Jakarta: Akrab, Anggaran, Arah

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Prabowo Subianto dan Pramono Anung mencuri perhatian saat menjajal LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai. Keakraban mereka di gerbong, diselingi candaan soal Danantara dan kalimat “Jakarta kaya”, segera menjadi bahan baca publik tentang politik dan transportasi.

Peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai pada Rabu (16/9/2026) diposisikan sebagai etalase kemajuan mobilitas ibu kota. Prabowo dan Pramono menempuh perjalanan 28 menit, ditemani pejabat serta penumpang dari pelajar hingga penyandang disabilitas.

Di tengah perjalanan, Pramono menyampaikan harapan dukungan Danantara untuk pengembangan rute LRT lain. Prabowo menimpali singkat, “Jakarta kaya,” sambil menepuk pundak Pramono, lalu rombongan tertawa.

Di panggung peresmian, Prabowo melanjutkan suasana cair dengan mengomentari kemiripan nama “Pramono” dan “Prabowo”. Ia juga menyapa Wakil Gubernur Rano Karno dengan panggilan “Si Doel”, menegaskan gaya komunikasi yang akrab dan populis.

Adegan akrab di transportasi publik selalu punya daya simbolik, karena negara tampil sebagai “penumpang” yang menyatu dengan warga. Namun simbol tidak otomatis menjawab pertanyaan inti: bagaimana rute baru ini memperbaiki konektivitas, tarif, dan integrasi antarmoda secara berkelanjutan.

Permintaan “dibantu sedikit dengan Danantara” membuka isu yang lebih besar daripada sekadar kelakar. Publik membaca itu sebagai sinyal bahwa ekspansi LRT membutuhkan skema pembiayaan kreatif, bukan hanya mengandalkan APBD atau APBN.

Jawaban Prabowo, “Jakarta kaya,” terdengar ringan, tetapi menyimpan logika fiskal yang tajam. Kekayaan daerah tidak selalu berarti ruang belanja bebas, karena ada prioritas layanan dasar, beban pemeliharaan, dan risiko pembengkakan biaya proyek.

Dalam banyak proyek transportasi perkotaan, tantangan terbesar justru biaya operasi dan perawatan, bukan seremoni pembukaan. Jika pendapatan tiket tidak menutup biaya, maka subsidi menjadi keniscayaan, dan keputusan subsidi adalah keputusan politik.

Kehadiran pelajar dan penyandang disabilitas di gerbong memberi pesan inklusi yang penting. Tetapi inklusi menuntut detail teknis yang konsisten, mulai dari akses lift, guiding block, informasi audio-visual, hingga koneksi trotoar yang aman.

Pidato Prabowo yang menyorot “Pra” dan “Bowo” pada nama Pramono adalah strategi retorik untuk membangun kedekatan personal di depan kamera. Dalam politik, kedekatan personal sering dipakai untuk mempercepat koordinasi, tetapi juga bisa mengaburkan batas evaluasi kinerja.

Yang publik butuhkan setelah momen viral adalah transparansi rencana jaringan, target ridership, dan jadwal integrasi dengan KRL, MRT, TransJakarta, serta simpul Manggarai. Tanpa peta jalan yang terukur, LRT berisiko menjadi proyek yang ramai di awal, tetapi sepi manfaat di tengah.

Keakraban Prabowo dan Pramono dapat dibaca sebagai sinyal stabilitas hubungan pusat-daerah. Stabilitas itu penting, karena transportasi Jakarta selalu memerlukan sinkronisasi kewenangan, pendanaan, dan perizinan.

Namun stabilitas tidak boleh berubah menjadi euforia komunikasi yang meninabobokan kritik. Candaan “Jakarta kaya” semestinya memicu diskusi publik: kaya untuk siapa, dipakai untuk apa, dan bagaimana akuntabilitasnya dijaga.

Jika Danantara benar menjadi opsi dukungan, maka prinsip kehati-hatian harus dipasang sejak awal. Skema pembiayaan harus jelas, risiko harus terbuka, dan manfaat sosial harus lebih besar daripada keuntungan jangka pendek.

Di sisi lain, Pramono tampak sedang mengunci legitimasi politik melalui proyek yang kasat mata. LRT adalah panggung ideal, karena setiap menit perjalanan adalah narasi tentang efisiensi, modernitas, dan harapan kota yang lebih tertib.

Masalahnya, kota tidak hidup dari narasi saja, melainkan dari konsistensi layanan. Publik akan menilai dari headway, keterpaduan tiket, keamanan akses, dan kemudahan berpindah moda, bukan dari seberapa hangat suasana di gerbong.

Peresmian LRT Kelapa Gading–Manggarai memperlihatkan dua hal sekaligus: kemajuan infrastruktur dan seni mengelola kesan politik. Keakraban Prabowo dan Pramono memang menenangkan, tetapi pertanyaan kebijakan justru harus dibuat lebih tajam.

Jika Jakarta benar “kaya”, maka kekayaan itu seharusnya tampak pada layanan yang makin terjangkau, terintegrasi, dan ramah semua warga. Pada akhirnya, yang menentukan bukan tawa di perjalanan 28 menit, melainkan apakah LRT menjadi kebiasaan harian yang memudahkan hidup jutaan orang. (Orbit dari berbagai sumber, 18 September 2026)