Denny JA: Surga yang Terluka di Papua - Pengantar Buku SATUPENA Papua

Ilustrasi warga Papua.

Ilustrasi warga Papua.

Opini

SURGA YANG TERLUKA DI PAPUA - Pengantar Buku SATUPENA Papua

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Seorang ayah duduk di tepi rawa sambil memegang jaring tua. Anaknya menggenggam busur. Keduanya terdiam. Rawa tempat keluarga itu mencari makan perlahan menghilang.

Di kejauhan, mesin bekerja. Tanah ditimbun. Jalan dibangun. Sang ayah bertanya pelan kepada anaknya: jika rawa lenyap, di manakah mereka akan menjaring ikan?

Anaknya tak menjawab. Busur masih berada di tangannya, tetapi hutan tempat ia berburu menyusut. Jaring masih berada di pangkuan ayahnya, tetapi air menjauh.

Hari itu, sebuah keluarga memahami tragedi yang lebih dalam daripada kemiskinan: manusia dapat tetap memiliki rumah, tetapi kehilangan dunia yang membuat rumah itu berarti.

Adegan itu saya bayangkan dari cerpen Gorry dan Rawa yang Hilang dalam antologi ini. Sejak halaman itu, saya tahu buku ini tidak sedang bercerita tentang Papua dari kejauhan.

-000-

Buku yang Membuat Papua Terasa

Saya membaca antologi ini bukan sebagai laporan mengenai sebuah wilayah. Saya membacanya sebagai sekumpulan manusia yang sedang mempertahankan hak untuk menceritakan rumahnya sendiri.

Judulnya segera menciptakan tegangan: Papua, Surga yang Terluka: Sebuah Antologi tentang Tanah, Manusia, Luka, dan Harapan. Terbit pada 2026, buku ini menghimpun lima belas penulis.

Nama-namanya beragam, dari Wilhelmus Kolyaan, C. Sarivah, Frengki Ilintamon, Gunawansa, Yudhi Kaiway, hingga Simon Peter Sarkol, Muhammad Afgan, Yohanes Apoka, Franz Aliknoe, dan Gerd Maury.

Di antara mereka terdapat dosen antropologi, musisi sekaligus pendidik, rohaniwan, penyair, serta pencerita yang mengenal Papua bukan semata sebagai tema, tetapi sebagai ruang kehidupan.

Keragaman manusia itu menjelaskan keragaman bentuk bukunya. Ada empat cerita, enam belas puisi, enam puisi esai, empat cerpen, dan lima opini. Papua berbicara melalui banyak pintu.

Buku ini karena itu bukan paduan suara yang dilatih agar seragam. Beberapa suara keras. Beberapa lirih. Beberapa argumentatif. Beberapa menggugat. Semuanya meminta didengar.

Justru ketidakseragaman itulah kekuatannya. Papua tidak dipaksa menjadi satu kalimat. Ia dibiarkan menjadi percakapan tentang tanah, identitas, pembangunan, pendidikan, kebudayaan, konflik, dan harapan.

Membaca halaman demi halaman, terasa bahwa buku ini sedang melakukan sesuatu yang bersahaja tetapi penting. Ia menggeser Papua dari objek pembicaraan menjadi subjek yang berbicara.

-000-

Lama saya merenungkan buku ini dan menemukan tiga mutiara, tiga keistimewaan.

Keistimewaan Pertama: Tanah Menjadi Biografi

Ada satu kesadaran yang berkali-kali muncul: tanah bagi masyarakat adat tidak selesai dijelaskan oleh koordinat, sertifikat, harga pasar, ataupun jumlah hektare yang tercatat dalam dokumen.

Tanah menyimpan kebun, pangan, makam leluhur, sungai, sejarah, pengetahuan, dan hubungan antargenerasi. Maka ketika tanah berubah, cara sebuah komunitas mengenali dirinya dapat ikut berubah.

Inilah keistimewaan pertama antologi ini. Ia mengubah tanah dari kata benda menjadi biografi. Tanah bukan sekadar tempat manusia berdiri. Tanah ikut menjelaskan siapa manusia itu.

Bagi spreadsheet pembangunan, seribu hektare hanyalah angka. Bagi keluarga yang leluhurnya dimakamkan di sana, seribu hektare dapat menjadi seribu halaman dari sejarah keluarga.

Kehilangan tanah pun mempunyai dimensi yang tidak selalu tertangkap laporan ekonomi. Manusia mungkin menerima kompensasi, tetapi uang tidak selalu mampu membeli kembali geografi ingatan.

Frengki Ilintamon merumuskannya tajam. Ketika tanah adat terluka, ingatan dan identitas masyarakat adat dapat ikut terluka karena hutan menyimpan cerita, batas adat, dan pengetahuan antargenerasi.

Saya berhenti cukup lama pada gagasan itu. Dunia modern terbiasa mengukur sesuatu berdasarkan harga. Padahal sebagian hal terpenting dalam kehidupan justru tidak mempunyai harga pengganti.

Makam seorang ayah tidak mempunyai harga pasar. Bahasa ibu tidak mempunyai harga pasar. Ingatan masa kecil juga tidak. Namun kehilangan semuanya dapat memiskinkan jiwa manusia.

Di sinilah pembangunan membutuhkan kecerdasan tambahan: kemampuan memperhitungkan sesuatu yang sulit dimasukkan ke tabel, tetapi justru menentukan martabat dan keberlanjutan kehidupan sebuah komunitas.

-000-

Keistimewaan Kedua: Papua Tidak Diterangkan, Papua Dialami

Simon Peter Sarkol memilih jalan berbeda. Ia membawa pembaca menyusuri kali dengan perahu, mendengar dayung menyentuh air, memetik buah dalam perjalanan, lalu mendengar lagu di antara pepohonan.

Pada malam lain, pelita menyala. Tifa terdengar dari kejauhan. Di sebuah rumah tergantung salib. Ingatannya kemudian kembali kepada seorang lelaki yang berdiri di depan pohon sagu.

Lelaki itu membuat tanda salib sebelum menebangnya. Ia kemudian berbicara kepada pohon tersebut dalam bahasa setempat. Sarkol menyaksikannya, tetapi memilih tidak menafsirkan apa yang tidak ia pahami.

Di situlah etika penulisan memperoleh bentuk yang indah. Tidak semua yang asing harus segera kita terjemahkan. Kadang penghormatan dimulai dengan keberanian mengakui keterbatasan pemahaman sendiri.

Dari pesawat, hutan hanyalah warna hijau. Setelah berjalan di dalamnya, hijau memiliki bunyi dayung, rasa buah, cahaya pelita, nyanyian manusia, doa, dan pohon sagu.

Pesan tak tertulisnya jelas: jangan memahami Papua hanya dari ketinggian. Turunlah. Berjalanlah. Dengarkanlah. Peta dapat menunjukkan lokasi, tetapi belum tentu mampu menjelaskan makna sebuah tempat.

Di sini sastra melakukan sesuatu yang statistik tidak mampu kerjakan sendirian. Statistik memberikan skala persoalan. Menurut BPS, Indeks Pembangunan Manusia Papua Pegunungan pada 2025 hanya 54,91, terendah di Indonesia, jauh di bawah Jakarta yang mencapai 85,05.

Pada Maret 2025, sekitar tiga dari sepuluh penduduk provinsi itu hidup di bawah garis kemiskinan. Angka itu memberi skala. Sastra memberikan wajah, napas, ketakutan, kesunyian, dan rasa kehilangan.

Kebijakan tanpa cerita mudah berubah menjadi angka. Sebaliknya, cerita tanpa fakta mudah tergelincir menjadi romantisisme. Buku ini paling kuat ketika pengalaman manusia dan fakta saling menerangi.

-000-

Keistimewaan Ketiga: Luka Tidak Dijadikan Takdir

Bagian yang paling menarik bagi saya muncul ketika buku berhenti bertanya tentang apa yang tersimpan di bawah tanah Papua, lalu mulai bertanya tentang manusia yang hidup di atasnya.

Salah satu esainya menggeser pusat percakapan. Jangan hanya menghitung emas. Hitung pula berapa banyak anak Papua menjadi ahli pertambangan, pengusaha perikanan, ahli kehutanan, dan pembuat keputusan.

Pergeseran ini fundamental. Luka tidak lagi hanya dicatat sebagai keluhan. Ia diubah menjadi daftar kerja: siapa yang harus dididik, keahlian apa yang harus dikuasai, kursi mana yang harus diisi.

Sebuah masyarakat tidak otomatis berdaya atas kekayaannya hanya karena kekayaan tersebut berada di wilayahnya. Pengetahuan diperlukan untuk mengelola dan menegosiasikannya.

Di sinilah pendidikan menjadi jembatan antara martabat dan masa depan. Bukan pendidikan untuk sekadar memperoleh ijazah, melainkan untuk membaca kontrak, hukum, teknologi, ekonomi, dan perubahan dunia.

Namun pengetahuan modern tidak harus menggantikan pengetahuan leluhur. Keduanya justru dapat bertemu: teknologi dengan kearifan lokal, pendidikan dengan budaya, tata kelola modern dengan tanah adat.

Modernisasi terbaik bukan mesin penghapus ingatan. Modernisasi terbaik memperluas kemungkinan hidup tanpa meminta manusia membayar kemajuan dengan kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Kisah Yudhi Kaiway memberi gambaran yang lebih lembut. Sewaktu kecil, seorang guru mengajarinya lagu Papua. Pengalaman kecil itu ternyata menetap jauh lebih lama daripada ruang kelas.

Bertahun-tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi musisi dan pendidik. Kini dialah yang berdiri di hadapan mahasiswa dan anak-anak, mengajarkan kembali musik Papua kepada generasi berikutnya.

Saya menyukai lingkaran kecil itu. Di tengah seluruh perdebatan besar mengenai kekuasaan dan pembangunan, peradaban ternyata dapat bertahan karena seseorang pernah mengajarkan sebuah lagu kepada seorang anak.

Seorang guru. Sebuah lagu. Seorang anak. Puluhan tahun kemudian, anak itu mengajarkannya kepada anak lain. Kebudayaan kadang bertahan bukan melalui monumen, tetapi melalui ingatan.

-000-

Dua buku di bawah ini membantu kita memahami isu Papua.

Buku Pertama: Peta untuk Membaca Luka

Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future, disunting Muridan S. Widjojo dan ditulis bersama Adriana Elisabeth, Amirudin Al Rahab, Cahyo Pamungkas, serta Rosita Dewi.

Buku ini penting karena menolak penjelasan tunggal mengenai Papua. Persoalannya dikelompokkan ke dalam empat rumpun yang saling berkelindan dan tidak mungkin diselesaikan secara terpisah.

Pertama, marginalisasi serta diskriminasi terhadap orang asli Papua. Kedua, kegagalan pembangunan, terutama pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat. Ketiga, perbedaan konstruksi sejarah dan identitas politik.

Keempat adalah persoalan kekerasan negara masa lalu dan pertanggungjawabannya. Kerangka ini menunjukkan mengapa persoalan Papua tidak cukup dijawab hanya dengan anggaran dan pembangunan fisik.

Jalan penting. Sekolah penting. Rumah sakit penting. Namun rekognisi, kepercayaan, dialog, keadilan, dan ingatan sejarah juga penting. Pembangunan fisik tidak otomatis menyembuhkan luka relasional.

Kekuatan intelektual buku ini terletak pada kompleksitas tersebut. Papua tidak direduksi menjadi masalah ekonomi, keamanan, sejarah, atau identitas semata. Lapisan-lapisan itu dibaca secara bersamaan.

Bagi pembaca antologi SATUPENA Papua, buku ini menyediakan peta analitis. Antologi memberikan suara manusia. Papua Road Map membantu memahami struktur tempat suara-suara tersebut bergema.

-000-

Buku Kedua: Memahami Manusia Sebelum Kekayaan

The Amungme of West New Guinea, karya Kal Muller, membawa pembaca mendekati masyarakat Amungme, kebudayaan dataran tinggi Papua, serta perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Buku ini membicarakan asal-usul, bahasa, struktur kekerabatan, organisasi sosial, kepemimpinan, perburuan, pertanian, kehidupan spiritual, serta perubahan yang datang bersama perjumpaan dengan dunia luar.

Relevansinya sangat kuat. Sebagian wilayah kehidupan Amungme mengalami perubahan besar bersama berkembangnya kompleks pertambangan Freeport di sekitar Ertsberg dan kemudian Grasberg.

Pembaca juga perlu tahu bahwa sebagian karya Muller tentang Amungme sebelumnya terbit bersama lembaga yang berkaitan dengan Freeport. Hal itu tidak menghapus nilai etnografisnya, tetapi mengingatkan kita untuk membaca setiap sumber dengan kesadaran akan posisinya.

Istilah “masyarakat adat” karenanya bukan kategori abstrak. Di belakangnya terdapat kosmologi, hubungan sosial, pengetahuan ekologis, sejarah, sistem makna, serta cara tertentu memahami manusia dan alam.

Pelajarannya terang. Sebelum bertanya berapa nilai mineral sebuah gunung, kita perlu memahami lebih dahulu apa arti gunung tersebut bagi manusia yang selama bergenerasi hidup bersamanya.

Ekonomi menghitung apa yang dapat diekstraksi. Antropologi bertanya apa yang mungkin ikut hilang. Kebijakan yang matang membutuhkan kedua mata itu agar kemajuan tidak menjadi rabun.

Dua buku akademis itu memberi kita kompas dan peta geopolitik, tetapi antologi SATUPENA ini memberi kita jantung yang berdetak; peta menuntun langkah, namun nuranilah yang menentukan arah perjalanan.

-000-

Sebuah Kontra-Argumen yang Harus Didengar

Tentu ada keberatan yang sah. Bukankah terlalu menekankan luka membuat Papua seolah hanya berisi penderitaan, sementara jalan, sekolah, investasi, teknologi, pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi juga diperlukan?

Keberatan itu penting. Papua tidak boleh diromantisasi menjadi museum kebudayaan. Masyarakatnya mempunyai hak yang sama untuk menikmati universitas, internet, rumah sakit, industri, teknologi, dan kemakmuran modern.

Bahkan Muhammad Afgan dalam antologi ini mengakuinya. Pertanyaannya bukan apakah Papua membutuhkan pembangunan, melainkan pembangunan seperti apa yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Itulah jalan tengah yang lebih produktif. Pilihannya tidak harus pembangunan atau adat. Tidak harus modernitas atau identitas. Tidak harus investasi atau kepentingan masyarakat lokal.

Pertanyaan sesungguhnya ialah apakah pembangunan mampu menghasilkan kemakmuran sekaligus memperbesar kemampuan masyarakat setempat untuk menentukan, memiliki, mengelola, mengawasi, dan menikmati manfaat perubahan tersebut.

Ada alasan lain untuk menjaga jarak kritis. Antologi ini tidak selalu berbicara dengan nada moderat. Beberapa tulisan menggunakan tuduhan, metafora politik, dan kesimpulan yang sangat keras.

Klaim-klaim seperti itu sebaiknya dipahami sebagai suara dan posisi penulisnya. Sebuah antologi memang menyediakan ruang kesaksian, tetapi kesaksian tidak dengan sendirinya menjadi konsensus akademik.

Empati tidak menghapus kebutuhan verifikasi. Kritik membutuhkan disiplin bukti. Sebaliknya, ketelitian akademik juga tidak boleh menjadi alasan untuk menutup telinga terhadap pengalaman manusia yang tidak nyaman.

Sikap kritis justru menghormati buku ini. Sebuah antologi tidak harus menjadi kitab kebenaran untuk menjadi dokumen kemanusiaan yang penting dan menggerakkan percakapan yang lebih dewasa.

-000-

Rumah yang Tidak Boleh Kehilangan Penghuninya

Ada satu cerpen yang terus mengganggu pikiran setelah buku ditutup, yaitu Gorry dan Rawa yang Hilang. Tokohnya mengenal alam dengan pengetahuan yang tidak diajarkan sekolah.

Gorry mampu membaca arah angin, jejak binatang, air, lumpur, dan hutan. Pengetahuan itu diwariskan ayahnya, diperoleh melalui kehidupan, bukan melalui ruang kelas atau sertifikat.

Namun ketika Gorry melamar pekerjaan, dunia baru bertanya tentang ijazah dan pengalaman kerja formal. Ia hanya berijazah sekolah dasar. Pengetahuan hutannya tidak masuk kolom formulir.

Di sanalah tragedi modernisasi memperoleh bentuk paling halus. Seseorang dapat sangat terampil dalam dunianya, lalu dianggap tidak terampil setelah dunia di sekelilingnya berubah.

Pengetahuan membaca rawa kehilangan nilai ketika rawa menghilang. Keahlian berburu kehilangan ruang ketika hutan menyusut. Manusia dipaksa beradaptasi terhadap perubahan yang tidak sepenuhnya ia tentukan.

Namun jalan keluarnya bukan membekukan Papua dalam masa lalu. Itu sama kelirunya. Anak Papua berhak memasuki universitas, laboratorium, perusahaan, dunia digital, bahkan pusat inovasi kecerdasan buatan.

Yang diperlukan adalah jembatan. Pengetahuan lama jangan dihina. Pengetahuan baru jangan ditakuti. Anak yang mampu membaca hutan harus memperoleh kesempatan pula untuk membaca algoritma dan kontrak.

Pada titik itulah buku ini terasa sangat personal bagi saya. Sepanjang hidup, saya selalu tertarik pada satu pertanyaan: apa yang terjadi ketika zaman berubah lebih cepat daripada manusia?

Teknologi datang. Institusi berubah. Cara bekerja berubah. Mereka yang tidak memperoleh kesempatan belajar mudah menjadi penonton, bahkan ketika perubahan besar berlangsung tepat di halaman rumahnya sendiri.

Kisah Gorry pun melampaui Papua. Ia berbicara mengenai tantangan universal manusia: bagaimana memasuki masa depan tanpa harus membuang seluruh pengetahuan yang membawa kita sampai hari ini.

Saya membayangkan Papua terbaik lahir dari perjumpaan tersebut. Anak adat memasuki dunia modern tanpa meninggalkan dirinya di depan pintu. Kemajuan memperbesar dirinya, bukan menghapusnya.

-000-

Dari Luka Menuju Martabat

Pada akhirnya, buku ini bukan terutama mengenai surga. Bukan pula terutama mengenai luka. Ia mengenai pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang menjadi subjek perubahan?

Sebuah daerah belum sungguh maju hanya karena jalannya bertambah panjang. Kemajuan menjadi manusiawi ketika orang yang hidup di sana bertambah sehat, terdidik, berdaya, dan bermartabat.

Ukuran masa depan Papua bukan hanya berapa banyak kekayaan yang dikeluarkan dari bumi, tetapi berapa banyak manusia yang ikut tumbuh bersama perubahan tersebut.

Antologi ini menyebut dirinya ruang perjumpaan antara pengalaman dan harapan. Ia juga mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak seharusnya selamanya diceritakan hanya oleh mereka yang datang dari luar.

Epilognya menyebut buku ini sebagai “monumen dari ingatan-ingatan yang menolak untuk dikubur.” Ungkapan itu menjelaskan mengapa sastra tetap diperlukan di tengah statistik, regulasi, dan kebijakan.

Angka memberi tahu berapa hektare berubah. Peta menunjukkan batas wilayah. Anggaran menunjukkan biaya. Tetapi manusia mengatakan bagaimana rasanya ketika sebuah tempat perlahan kehilangan maknanya.

-000-

Karena itu, membaca buku ini sebaiknya tidak berakhir dengan kemarahan. Jangan pula berakhir dengan rasa kasihan. Keduanya terlalu kecil untuk sebuah persoalan sebesar Papua.

Biarlah pembacaan berakhir dengan kesediaan mendengar. Mendengar pemerintah dan pengkritiknya. Mendengar masyarakat adat dan pendatang. Mendengar mama, guru, gereja, pengusaha, seniman, dan generasi muda.

Masa depan Papua tidak memerlukan satu suara yang membungkam suara lainnya. Ia memerlukan ruang tempat perbedaan bertemu, dan tempat luka disembuhkan bersama dengan pengetahuan, keadilan, dan dialog.

Sebab surga bukanlah tanah yang tak pernah terluka, melainkan tanah tempat anak-anaknya tetap dapat pulang, mengenali dirinya, dan berkata dengan bermartabat: ini rumah kami.*

Jakarta, 26 September 2026

REFERENSI

1. Papua Road Map: Negotiating the Past, Improving the Present and Securing the Future

Muridan S. Widjojo (ed.), Adriana Elisabeth, Amirudin Al Rahab, Cahyo Pamungkas, dan Rosita Dewi.

Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, LIPI, dan ISEAS, 2010.

2. The Amungme of West New Guinea

Kal Muller.

Galda Verlag, 2023.

3. Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia 2025 dan Profil Kemiskinan Provinsi Papua Pegunungan Maret 2025. Jakarta: BPS, 2025.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.

https://www.facebook.com/share/p/1DiM6XVsw8/?mibextid=wwXIfr