Calvin Dores Jual Kornea Rp350 Juta, Potret Kerja Serabutan
ORBITINDONESIA.COM – Calvin Dores, putra mendiang Deddy Dores, disorot setelah niat menjual kornea mata Rp350 juta memicu hujatan netizen. Isu jual kornea dan tudingan “pemalas” membuka debat tentang kemiskinan, kerja serabutan, dan akses kerja bagi lulusan SD.
Calvin tinggal di Tangerang Selatan dan menyebut dirinya pekerja lepas di bidang jasa dengan bayaran berbasis proyek. Ia menolak label pemalas dan menegaskan tetap bekerja, meski pendapatan tidak pernah stabil.
Ia mengaku menjalani pekerjaan yang beragam, dari menciptakan lagu, menjadi calo motor, hingga joki game online. Namun ia menyebut tiga bulan terakhir tanpa pemasukan sama sekali, di tengah kebutuhan keluarga yang terus berjalan.
Upaya melamar kerja formal pun ia klaim kandas pada syarat pendidikan karena ia hanya memiliki ijazah SD. Ia bahkan menyebut sempat ada peluang pekerjaan bergaji UMR, tetapi terbentur kualifikasi yang mensyaratkan minimal SMA.
Kontroversi “jual kornea” cepat viral karena menyentuh dua tabu sekaligus, yakni tubuh sebagai komoditas dan kemiskinan sebagai tontonan. Di ruang digital, simpati dan penghakiman sering beradu, tetapi keduanya kerap mengabaikan akar masalah struktural.
Di Indonesia, transplantasi kornea secara prinsip hanya dapat dilakukan lewat donasi, bukan transaksi jual-beli organ. Kerangka etik dan hukum kesehatan menempatkan organ manusia sebagai sesuatu yang tidak boleh diperdagangkan, sehingga narasi “menjual kornea” lebih tepat dibaca sebagai sinyal keputusasaan ketimbang proposal bisnis.
Kalimat Calvin tentang “gaji abu-abu” menggambarkan realitas pekerja informal yang hidup dari proyek ke proyek. Saat ada pekerjaan, pendapatan bisa tinggi, tetapi ketika pasar sepi, tidak ada jaring pengaman yang menjaga dapur tetap mengepul.
Data BPS selama beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan sektor informal masih menyerap porsi besar tenaga kerja Indonesia, dengan karakter pendapatan tidak tetap dan perlindungan sosial yang terbatas. Dalam situasi seperti itu, satu periode tanpa order saja dapat berubah menjadi krisis, apalagi jika ada beban kesehatan keluarga.
Hambatan ijazah yang ia sebutkan juga mencerminkan “filter” pasar kerja formal yang sering menyederhanakan kompetensi menjadi selembar dokumen. Syarat minimal pendidikan memang lazim dipakai perusahaan maupun instansi, tetapi dampaknya adalah penyingkiran sistematis bagi pekerja yang terputus sekolah.
Di titik ini, debat publik seharusnya bergeser dari “kenapa tidak kerja” menjadi “kerja seperti apa yang tersedia dan untuk siapa.” Ketika pekerjaan layak mensyaratkan modal pendidikan, sementara pendidikan sendiri tidak merata, kemiskinan menjadi siklus yang sulit diputus.
Netizen yang menyebut Calvin pemalas mungkin melihat jalan pintas, tetapi luput melihat jalan yang buntu. Orang yang hidup dari kerja serabutan sering terlihat “tidak bekerja” hanya karena kerja mereka tidak tercatat, tidak berseragam, dan tidak bergaji bulanan.
Namun simpati juga perlu disertai kehati-hatian agar publik tidak menormalisasi ide berbahaya seperti menjual organ tubuh. Jika narasi ekstrem ini dibiarkan menjadi “solusi,” maka masyarakat sedang gagal menyediakan mekanisme bantuan yang manusiawi dan legal.
Yang menarik, Calvin justru menyebut mimpi membangun usaha seperti bisnis laundry agar hidup lebih stabil. Di sini tampak bahwa yang ia cari bukan sensasi, melainkan modal awal dan kesempatan untuk mengubah kerja serabutan menjadi usaha yang bertahan.
Pertanyaannya, mengapa akses modal mikro, pelatihan kerja, dan jalur sertifikasi keterampilan belum cukup mudah menjangkau orang seperti Calvin. Jika negara dan pasar hanya mengakui ijazah, maka bakat, pengalaman, dan daya juang akan terus kalah oleh administrasi.
Kisah Calvin Dores dan wacana jual kornea Rp350 juta seharusnya dibaca sebagai alarm sosial, bukan sekadar drama viral. Ia memperlihatkan rapuhnya hidup pekerja informal, kerasnya saringan pendidikan, dan minimnya penyangga ketika pendapatan berhenti.
Publik boleh mengkritik, tetapi kritik yang tajam mestinya mengarah pada sistem yang membuat orang merasa harus “menjual tubuh” demi bertahan. Jika kita menertawakan keputusasaan, pertanyaannya sederhana: ketika giliran kita kehilangan penghasilan berbulan-bulan, siapa yang benar-benar menyediakan jalan keluar yang bermartabat?
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Mei 2026)