Tren Multigenerational Travel: Liburan Keluarga Sekaligus Transfer Kekayaan
ORBITINDONESIA.COM – Multigenerational travel atau liburan keluarga lintas generasi kini naik kelas: bukan sekadar jalan-jalan, melainkan cara merawat ikatan, menanamkan nilai, dan bahkan menyusun strategi transfer kekayaan. Data Family Travel Association menyebut 57 persen keluarga berencana melakukan perjalanan lintas generasi dalam setahun ke depan, pertanda kebutuhan “reuni yang dikurasi” makin kuat.
Keluarga modern makin tersebar lintas kota dan negara, sehingga kebersamaan tidak lagi terjadi secara alami. Liburan keluarga lintas generasi lalu menjadi jalan pintas untuk mempertemukan kakek-nenek, orang tua, anak, hingga kerabat besar dalam satu ruang pengalaman.
Namun, di balik foto-foto hangat dan itinerary mewah, ada persoalan yang lebih sunyi: banyak keluarga kaya gagal membicarakan nilai yang ingin diwariskan. Survei RBC Wealth Management mencatat hanya 52 persen “Givers” yang benar-benar berdialog soal keyakinan dan nilai dengan calon penerima warisan.
Tren multigenerational travel bergerak dari konsumsi menuju makna, dari “destinasi” menuju “narasi keluarga”. Angie O’Leary dari RBC Wealth Management–U.S. menyebut perjalanan ini sebagai reuni keluarga dalam lingkungan yang terkurasi, sebuah jawaban atas jarak geografis dan jadwal yang saling bertabrakan.
Yang menarik, perjalanan bersama menciptakan ruang percakapan yang lebih cair dibanding rapat keluarga formal. Mengunjungi situs leluhur atau kampung asal dapat memulihkan memori kolektif, sementara perjalanan berbasis relawan membuat nilai terlihat dalam tindakan, bukan slogan.
Contoh konkret datang dari Bobby Lovgren, Head of Wealth Planning RBC Wealth Management–U.S., yang menceritakan keluarganya menyusun “family mission statement” tentang kerendahan hati, spiritualitas, dan memberi. Nilai itu lalu diuji di Tijuana, Meksiko, saat mereka membangun rumah bagi seorang ibu dan dua anaknya, termasuk melibatkan anak usia lima tahun.
Dari sisi keuangan, liburan keluarga juga diposisikan sebagai “giving while living” atau pemberian saat masih hidup. Survei RBC menyebut 86 persen generasi muda mengatakan warisan akan membuat mereka lebih bisa bepergian, dan 80 persen menyebutnya memungkinkan lebih banyak waktu dengan keluarga.
Artinya, membiayai perjalanan lintas generasi dapat memberi dua hal sekaligus: pengalaman perjalanan dan waktu kebersamaan, tanpa menunggu momen warisan yang sering datang terlambat. Di titik ini, liburan berubah menjadi instrumen transfer manfaat yang langsung terasa, sekaligus menggeser fokus dari angka ke pengalaman.
RBC juga menautkan praktik ini dengan perencanaan harta jangka panjang, terutama bagi keluarga yang ingin menjadikannya tradisi. Mereka mencontohkan aturan annual gift tax exclusion federal 2026: US$19.000 per penerima, atau US$38.000 per penerima untuk pasangan menikah, tanpa memicu pajak hadiah.
Jika penerimanya banyak—anak dewasa dan cucu—angka itu dapat membentuk “anggaran perjalanan keluarga” yang signifikan setiap tahun. Pada saat yang sama, biaya perjalanan yang ditanggung kakek-nenek berfungsi memindahkan aset keluar dari estate secara bertahap, berpotensi menekan pajak warisan di masa depan.
Di level operasional, artikel itu menekankan lima taktik agar perjalanan tidak berubah menjadi sumber konflik. Mulai dari memilih destinasi serbabisa seperti kapal pesiar, membuat “anchor experiences” seperti makan malam bersama, hingga memperjelas biaya dan ekspektasi sejak awal.
Poin yang paling relevan untuk keluarga modern adalah melibatkan generasi muda dalam perencanaan dengan batas anggaran. O’Leary menyebut praktik meminta anak muda meneliti dan “pitch” ide perjalanan bukan hanya membangun antusiasme, tetapi juga literasi biaya dan rasa memiliki terhadap keputusan.
Multigenerational travel adalah cermin: ia memperlihatkan apakah keluarga hanya mewariskan uang, atau juga mewariskan kompas moral. Ketika hanya 52 persen Givers berbicara tentang nilai, perjalanan bersama menjadi “ruang ketiga” yang memecah kebekuan tanpa terasa menggurui.
Namun, ada risiko yang jarang dibahas: liburan dapat berubah menjadi panggung konsumsi, bukan pembelajaran. Jika tujuan utamanya hanya kemewahan, generasi muda bisa menangkap pesan yang keliru, bahwa kekayaan adalah tiket kenyamanan, bukan tanggung jawab.
Di sinilah perjalanan berbasis relawan atau kunjungan heritage menjadi penting, karena ia menambatkan kemewahan pada kesadaran sosial dan sejarah keluarga. Tetapi filantropi pun perlu kewaspadaan, sebab “voluntourism” yang tidak sensitif dapat menimbulkan kesan eksploitatif, sehingga vetting mitra lokal seperti saran Lovgren layak dianggap prosedur etis.
Dari sisi strategi harta, membiayai perjalanan memang dapat dibaca sebagai pemindahan aset yang lebih halus dan menyenangkan. Meski begitu, keluarga harus jujur: apakah ini benar-benar hadiah yang menyatukan, atau cara menghindari percakapan sulit tentang pembagian warisan, bisnis keluarga, dan peran tiap anggota.
Jika tradisi perjalanan ingin berulang, ia harus diperlakukan sebagai kebijakan keluarga, bukan impuls musiman. Memasukkannya ke wealth plan membuat “Givers” lebih berani memberi dengan niat, tetapi juga memaksa keluarga mendefinisikan tujuan: apa yang ingin diwariskan selain paspor penuh cap.
Pada akhirnya, liburan keluarga lintas generasi bukan soal destinasi, melainkan desain pengalaman yang menumbuhkan kedekatan dan kedewasaan. Angka 57 persen yang merencanakan multigenerational travel menunjukkan masyarakat sedang mencari cara baru untuk berkumpul, sekaligus cara baru untuk memberi.
Pertanyaannya tinggal satu: ketika koper dibuka dan foto diunggah, nilai apa yang benar-benar pulang bersama kita. Jika perjalanan bisa membuat generasi muda memahami akar, tanggung jawab, dan makna memberi, maka ia bukan sekadar liburan, melainkan warisan yang hidup.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)