Pemakaman Khamenei dan IRGC: Uji Kekuatan Iran Pasca-Perang

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei menjadi panggung politik besar bagi Iran, ketika rezim berupaya menampilkan ketahanan di tengah kesepakatan damai yang rapuh dengan Amerika Serikat. Pengamat menilai upacara ini akan dipakai untuk menunjukkan loyalitas publik, sekaligus menegaskan dominasi IRGC dalam arah negara.

Pemakaman ini disebut sebagai kesempatan bagi pihak yang berusaha mempertahankan warisan Khamenei untuk memamerkan kekuatan mereka. Sina Azodi dari George Washington University mengatakan mereka ingin memotret acara itu sebagai sinyal “kekuatan Republik Islam, kemampuan menahan tekanan luar, dan daya lenting.”

Menurut Azodi, rezim akan berupaya menampilkan “loyalitas rakyat” dengan segala cara, termasuk mengerahkan massa sebanyak mungkin. Dalam konteks Iran, jumlah pelayat bukan sekadar soal duka, melainkan ukuran legitimasi yang dipertontonkan.

Rangkaian acara dijadwalkan di Grand Mosalla, kompleks masjid besar di pusat Teheran, untuk melihat peti dan doa pada Sabtu dan Minggu. Prosesi pemakaman akan melewati jalan-jalan ibu kota pada Senin.

Acara lain juga direncanakan di Qom, pusat keilmuan agama Iran, serta di Irak yang menaungi dua situs suci utama Syiah. Membawa agenda pemakaman lintas perbatasan memberi ruang bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk menonjolkan pengaruh regionalnya.

Khamenei akan dimakamkan Kamis di Mashhad, kota kelahirannya, yang juga lokasi makam suci Syiah paling menonjol di Iran. Pemilihan Mashhad mengikat simbol negara, agama, dan identitas personal pemimpin dalam satu panggung terakhir.

Tradisi Muslim mendorong pemakaman dilakukan segera setelah wafat, seperti pemakaman besar Ayatollah Khomeini yang berlangsung hanya beberapa hari setelah kematiannya. Namun pemakaman Khamenei ditunda empat bulan, dalam situasi tidak biasa di tengah kesepakatan damai yang goyah dengan AS.

Tanggal pemakaman baru dipastikan bulan lalu, beberapa hari sebelum AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang dimaksudkan menandai berakhirnya permusuhan secara resmi. Keterlambatan ini memperlihatkan bahwa jadwal duka pun tunduk pada kalkulasi keamanan dan politik.

Sejumlah pejabat politik dan militer senior juga tewas dalam serangan AS dan Israel yang mengguncang Iran lebih dari sebulan pada fase awal perang. Dampaknya adalah keadaan politik yang tidak pasti, ketika struktur komando dan suksesi dipaksa beradaptasi cepat.

Putra Khamenei yang berusia 56 tahun, Mojtaba, yang terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru pada Maret. Namun ia belum terlihat di publik, bahkan belum mengeluarkan pernyataan audio sejak itu.

Seorang pejabat Iran dan seorang diplomat Timur Tengah mengatakan kepada NBC News bahwa ia diperkirakan tidak menghadiri pemakaman ayahnya. Tiga sumber menyebut cedera Mojtaba berat, termasuk luka bakar pada wajah dan tubuh, serta cedera yang memerlukan beberapa operasi pada salah satu kakinya.

Namun sejauh mana cedera Mojtaba dan dampaknya terhadap kemampuannya menjalankan tugas masih belum jelas. Kekosongan informasi ini membuka ruang spekulasi, sekaligus memperbesar kebutuhan rezim untuk menegaskan stabilitas melalui simbol publik.

Di Teheran, citra Khamenei masih mendominasi mural-mural nasionalistik yang memasangkannya dengan Khomeini, lengkap dengan visual yang mengecam agresi AS-Israel. Media negara dan rezim juga rutin menyebut Khamenei sebagai “martir,” sebuah label yang mengubah kematian menjadi modal politik.

Selama puluhan tahun berkuasa, Khamenei memperkuat IRGC hingga menjadi kekuatan militer, politik, dan ekonomi teratas di negara itu. Karena itu, pemakaman bukan hanya ritual negara, melainkan ajang konsolidasi institusi yang paling diuntungkan oleh era Khamenei.

Para analis menyebut upaya berulang Israel dan AS untuk “memenggal” rezim sejak perang dimulai justru mendorong naiknya unsur-unsur IRGC yang lebih garis keras. Ketika ancaman eksternal meningkat, logika keamanan biasanya mengalahkan logika reformasi.

Ali Alfoneh dari Arab Gulf States Institute menegaskan, “IRGC mendominasi pengambilan keputusan strategis dan alokasi sumber daya nasional.” Pernyataan ini menjelaskan mengapa panggung pemakaman akan cenderung menonjolkan pesan keteguhan, bukan rekonsiliasi.

Sosok yang cepat naik adalah Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama dalam perundingan dengan AS. Ia juga kerap menyindir Presiden Donald Trump lewat unggahan sinis di X, menandakan gaya politik yang menggabungkan diplomasi dan provokasi.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita semiresmi Tasnim, Ghalibaf menyerukan agar masyarakat “bangkit” dan menyampaikan panggilan bangsa untuk membalas “darah Pemimpin yang martir” kepada dunia. Pesan ini penting karena ia menempatkan duka sebagai mandat politik, bukan sekadar memori.

Di titik ini, pemakaman Khamenei menjadi alat ukur: seberapa efektif negara mengerahkan massa, seberapa solid elite, dan seberapa kuat IRGC mengendalikan narasi. Semakin besar iring-iringan, semakin kuat klaim legitimasi, meski angka tidak selalu mencerminkan dukungan sukarela.

Rangkaian acara di Qom dan Irak juga memiliki fungsi ganda: mengikat jaringan ulama dan mengaktifkan imajinasi “komunitas Syiah” lintas negara. Pada saat yang sama, itu memberi IRGC ruang memamerkan kedalaman pengaruh regionalnya di hadapan publik domestik.

Penundaan empat bulan menambah satu lapis makna: negara tampak menunggu momen yang paling menguntungkan untuk demonstrasi kekuatan. Jika pemakaman dipercepat, efek politiknya mungkin tidak sekuat ketika digelar setelah nota kesepahaman damai, saat rezim perlu menunjukkan bahwa damai bukan berarti melemah.

Pemakaman Khamenei lebih mirip referendum simbolik daripada upacara duka. Negara ingin membuktikan bahwa, meski dihantam serangan dan kehilangan banyak pejabat, pusat gravitasi kekuasaan masih utuh.

Namun ada paradoks yang sulit ditutup rapat: suksesi Mojtaba diumumkan, tetapi ia tak hadir di ruang publik dan bahkan disebut tak akan datang ke pemakaman ayahnya. Dalam politik Iran, absennya figur sering lebih berisik daripada pidato, karena memunculkan pertanyaan tentang kesehatan, kendali, dan siapa yang sebenarnya memegang tuas keputusan.

Label “martir” dan ajakan membalas darah pemimpin memperlihatkan kecenderungan mengunci masa depan pada logika perlawanan. Jika narasi ini dominan, ruang kompromi pasca-nota kesepahaman dengan AS bisa menyempit, karena setiap langkah moderat mudah dicap sebagai pengkhianatan terhadap pengorbanan.

Di sisi lain, mobilisasi massa besar tidak otomatis berarti legitimasi mendalam, karena dalam sistem yang kuat, kehadiran publik bisa didorong oleh tekanan sosial, birokrasi, atau insentif. Justru yang paling menentukan adalah apa yang terjadi setelah kamera dimatikan: apakah elite bersatu, atau persaingan internal makin tajam.

IRGC tampak sebagai pemenang struktural dari krisis ini, karena ia memiliki perangkat keamanan, ekonomi, dan jaringan regional. Tetapi dominasi semacam itu juga membawa risiko, karena negara yang terlalu berorientasi keamanan cenderung mengorbankan pemulihan ekonomi dan rekonsiliasi sosial.

Pemakaman Khamenei akan menjadi pertunjukan kekuatan Iran yang dirancang rapi: dari Grand Mosalla di Teheran hingga Qom, Irak, dan akhirnya Mashhad. Di permukaan, pesan yang ingin dikirim jelas, yakni ketahanan dan kesinambungan Republik Islam.

Namun di balik ritual, Iran sedang menjalani transisi yang rapuh: suksesi yang tidak transparan, luka perang yang belum pulih, dan kesepakatan damai yang masih mudah retak. Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak orang turun ke jalan, melainkan apakah negara bisa membangun stabilitas tanpa terus-menerus hidup dari bayang-bayang konflik. (Orbit dari berbagai sumber, 10 Juli 2026)