Anak Kurang Siap Finansial: Survei Orang Tua, Allowance, Investasi
ORBITINDONESIA.COM – Isu anak kurang siap finansial kembali mengemuka setelah survei Wealth Enhancement menunjukkan 53% orang tua dan kakek-nenek menilai anak masa kini lebih tidak siap mengelola uang dibanding generasi mereka. Di saat yang sama, 53% responden mengaku belum pernah membuka akun investasi untuk anak, seolah kekhawatiran tidak otomatis berubah menjadi tindakan.
Keuangan pribadi kini bergerak dalam ritme serba instan, dari dompet digital sampai belanja sekali klik. Chloé Briel, CFP di Wealth Enhancement, menyebut uang terasa “seketika”, dan kemudahan ini membuat batas finansial makin sulit diajarkan.
Survei “The First Dollar” terhadap 1.000 responden di AS (500 orang tua, 500 kakek-nenek) dilakukan 28 April–4 Mei 2026 oleh Wakefield Research. Dengan margin of error sekitar ±3,1% untuk total sampel, temuan ini cukup kuat untuk dibaca sebagai sinyal sosial, bukan sekadar opini acak.
Angka 53% yang menilai anak kurang siap finansial adalah alarm, tetapi juga cermin ketidakpastian orang dewasa menghadapi lanskap uang yang berubah. Menariknya, hanya 29% yang percaya anak sekarang lebih siap, menandakan optimisme kalah oleh kecemasan.
Kesenjangan generasi terlihat jelas pada kelompok yang paling pesimistis, yakni kakek-nenek dan Baby Boomers (masing-masing 61%). Millennials lebih lunak menilai, mungkin karena mereka sendiri tumbuh dalam transisi digital dan lebih terbiasa dengan risiko finansial modern.
Kontradiksi terbesar muncul pada “investment inaction”: 53% responden belum pernah membuka akun investasi untuk anak. Pada kakek-nenek dan Boomer, angkanya bahkan 63%, seakan nilai kehati-hatian berubah menjadi penundaan.
Briel mendorong keluarga berpikir holistik, termasuk memanfaatkan fleksibilitas 529 plan untuk tujuan pendidikan dan strategi alih-kekayaan. Ia menekankan, “Berada di pasar lebih lama” memberi ruang bernapas menghadapi volatilitas, dibanding spekulasi jangka pendek.
Di ranah perilaku, 56% responden menyebut menghindari impuls belanja dan overspending sebagai pelajaran tersulit. Ini selaras dengan ekosistem yang dirancang untuk menggoda, dari media sosial, pengantaran cepat, hingga tombol “buy now”.
Pelajaran sulit lain juga tinggi: budgeting 52%, memahami nilai kerja 50%, dan menunda kepuasan 49%. Sebaliknya, hanya 34% menyebut mengajarkan cara “menumbuhkan uang” seperti bunga dan investasi sebagai tantangan utama, seakan literasi investasi belum dianggap kebutuhan mendesak.
Allowance tetap jadi alat populer, dengan 63% responden memberikannya kepada anak. Usia paling umum memulai adalah 8 tahun, dan 51% memulai pada rentang 5–12 tahun, menunjukkan kebiasaan uang dibentuk sejak dini.
Soal nominal, orang tua menganggap US$21 per minggu wajar, sedangkan kakek-nenek US$15, dengan rata-rata gabungan US$18. Briel mengingatkan allowance harus punya “niat”, apakah untuk belajar menabung, membeli hadiah, atau melatih prioritas.
Survei ini mengungkap paradoks: orang dewasa takut anak tak siap finansial, tetapi mereka sendiri sering ragu menyiapkan instrumen yang membuat anak belajar secara nyata. Kekhawatiran berubah menjadi narasi moral, sementara tindakan tertahan oleh ketidaktahuan, rasa takut rugi, atau keyakinan bahwa “nanti juga belajar sendiri”.
Fokus keluarga sering terjebak pada teknik, seperti berapa allowance atau akun apa yang dibuka, padahal pangkalnya adalah nilai. Briel tepat saat menyarankan percakapan dimulai dari prioritas keluarga, karena nilai adalah kompas yang menahan impuls ketika algoritma belanja menekan dari segala arah.
Namun ada sisi yang perlu dikritisi: menyalahkan digital-first environment saja terlalu mudah. Dunia memang memudahkan belanja, tetapi orang dewasa juga ikut menormalisasi konsumsi cepat, dan anak belajar terutama dari contoh, bukan ceramah.
Karena itu, pendidikan finansial yang efektif bukan modul sekali duduk, melainkan rutinitas kecil yang konsisten. Melibatkan anak dalam anggaran liburan, membandingkan harga, dan mendiskusikan trade-off adalah “kurikulum rumah” yang lebih jujur daripada sekadar melarang.
Jika anak kurang siap finansial, pertanyaannya bukan hanya apa yang salah pada generasi muda, tetapi apa yang belum selesai pada generasi tua. Survei ini menyiratkan pekerjaan rumah utama ada pada orang dewasa: menata nilai, membangun kebiasaan, lalu menurunkannya lewat praktik harian.
Di tengah uang yang makin tak berwujud, keluarga membutuhkan ritual yang membumikan makna uang, dari allowance yang bertujuan hingga investasi yang dipahami. Pada akhirnya, literasi finansial bukan soal angka, melainkan soal karakter: sanggup menunda, memilih, dan bertanggung jawab saat godaan terasa instan.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Oktober 2026)