MAN IC Tapsel Juara Envirofest 2026, Biochar Lawan Bakar Limbah

Waspada.id

Waspada.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – MAN IC Tapsel juara 2 nasional SOBAT BUMI Envirofest 2026 lewat riset biochar yang menantang kebiasaan bakar limbah pertanian. Gerakan “Tapsel Biochar Movement” membawa pesan tegas: Stop Bakar, Mulai Subur.

Di banyak desa, limbah pertanian masih dianggap beban yang paling cepat diselesaikan dengan api. Praktik pembakaran terbuka memang murah, tetapi menyisakan asap, polutan, dan hilangnya bahan organik tanah.

Di Tapanuli Selatan, kebiasaan itu menjadi titik berangkat riset Tim SOMI dari MAN IC Tapsel. Mereka menguji gagasan bersama warga Desa Situmba, Kecamatan Sipirok, pada September 2026.

Kompetisi SOBAT BUMI Envirofest 2026 yang digelar PT United Tractors Tbk memberi panggung bagi ide lokal untuk diuji secara nasional. Proyek tim berjalan dari Juni hingga Oktober 2026 dan berakhir dengan posisi runner-up.

Biochar adalah material kaya karbon dari pemanasan biomassa dengan pasokan oksigen terbatas. Kepala MAN IC Tapsel Abdul Hakim Siregar menekankan proses ini berbeda dari pembakaran terbuka yang melepas asap dan polutan.

Dalam literatur ilmiah, biochar kerap dikaitkan dengan perbaikan sifat tanah, terutama kemampuan menahan air dan stabilitas karbon. IPCC juga menempatkan biochar sebagai salah satu opsi mitigasi berbasis lahan, meski dampaknya sangat bergantung pada konteks.

Di lapangan, klaim “menyuburkan” tidak otomatis terjadi pada semua lahan. Abdul Hakim mengingatkan manfaatnya ditentukan oleh bahan baku, metode produksi, karakter tanah, dan cara aplikasi.

Di sinilah nilai riset sekolah menjadi penting karena menguji, bukan sekadar mempromosikan. Uji publik di Desa Situmba menunjukkan pendekatan mereka tidak berhenti pada prototipe, tetapi masuk ke ruang sosial tempat kebiasaan dibentuk.

Namun tantangan adopsi tetap besar karena pembakaran terbuka adalah kebiasaan kolektif yang ditopang alasan praktis. Tanpa alat produksi yang aman, pendampingan, dan insentif, biochar bisa berhenti sebagai proyek lomba.

Gerakan “Tapsel Biochar Movement” mencoba mengubah limbah menjadi sumber daya, bukan residu. Jika konsisten, ia dapat mengurangi polusi lokal sekaligus menjaga karbon tetap berada di tanah dalam bentuk yang lebih stabil.

Prestasi MAN IC Tapsel patut dibaca lebih luas dari sekadar piala juara 2 nasional. Ini adalah tanda bahwa sekolah bisa menjadi laboratorium kebijakan kecil yang menguji solusi iklim dari bawah.

Yang tajam dari proyek ini bukan hanya teknologinya, tetapi narasinya yang menabrak normal baru di desa: membakar itu wajar. Slogan “Stop Bakar! Mulai Subur” bekerja sebagai kalimat kampanye yang mudah diingat, tetapi harus ditopang bukti hasil panen dan efisiensi kerja.

Kompetisi lingkungan sering melahirkan inovasi yang cantik di presentasi tetapi rapuh setelah acara selesai. Tim SOMI justru memberi sinyal berbeda karena melibatkan warga, dan itu membuat inovasi punya peluang menjadi kebiasaan baru.

Meski begitu, kita perlu kritis pada risiko romantisasi inovasi pelajar sebagai solusi tunggal. Pengelolaan limbah pertanian juga terkait akses alat, biaya tenaga kerja, dan tata kelola desa yang menentukan apakah biochar menjadi praktik rutin atau sekadar demonstrasi.

Jika pemerintah daerah dan sekolah membangun model pendampingan jangka panjang, riset ini bisa menjadi prototipe pengurangan pembakaran terbuka. Pada titik itu, prestasi nasional berubah menjadi dampak lokal yang terukur.

MAN IC Tapsel juara 2 Envirofest 2026 mengingatkan bahwa krisis lingkungan sering berawal dari kebiasaan harian yang dianggap remeh. Ketika limbah pertanian tidak lagi dibakar, desa tidak hanya mengurangi asap, tetapi juga merawat tanah sebagai modal hidup.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menantang: siapa yang memastikan gerakan “Mulai Subur” tidak berhenti pada musim lomba. Jika sekolah, desa, dan pemangku kebijakan mau berjalan bersama, inovasi kecil bisa menjadi perubahan besar yang bertahan. (Orbit dari berbagai sumber, 24 Oktober 2026)