Babinsa Banjarsari dan Jumantik Cegah DBD Lewat 3M Plus
ORBITINDONESIA.COM – Pencegahan DBD di Banjarsari, Surakarta, kembali diuji lewat kegiatan Jumantik yang menyasar rumah ke rumah di RW 08 Sendang Mulyo. Babinsa Kelurahan Banjarsari Sertu Mujono mendampingi kader Posyandu dan Puskesmas untuk memutus siklus nyamuk Aedes aegypti dari sumber paling dekat: genangan air.
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit berbasis lingkungan yang sering melonjak ketika pengelolaan air rumah tangga longgar. Di permukiman padat, satu bak mandi yang jarang dikuras bisa menjadi “pabrik” jentik yang menyebar melampaui pagar rumah.
Kegiatan pada Jumat, 9 Oktober 2026, menegaskan bahwa pencegahan tidak cukup mengandalkan fogging. Fogging kerap dipahami sebagai solusi cepat, padahal ia hanya menekan nyamuk dewasa dan tidak otomatis menghabisi jentik.
Pendampingan Babinsa dalam kegiatan Juru Pemantau Jentik memperlihatkan pendekatan kesehatan publik yang berbasis inspeksi rutin. Pemeriksaan door to door menyasar bak mandi, ember, pot bunga, penampung air, hingga barang bekas yang menahan air hujan.
Langkah ini sejalan dengan prinsip 3M Plus: menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas, ditambah tindakan pencegahan lain. Plus bisa berarti larvasidasi yang tepat, pemasangan kelambu, hingga pengendalian tempat perindukan di luar rumah.
Data Kementerian Kesehatan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan DBD tetap menjadi ancaman berulang di banyak daerah Indonesia, terutama saat perubahan cuaca memperpanjang peluang perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, strategi paling rasional adalah menurunkan “habitat” jentik, bukan sekadar mengejar nyamuk yang sudah terbang.
Kolaborasi Babinsa, Puskesmas, dan kader Posyandu juga menutup celah klasik program kesehatan lingkungan, yaitu kepatuhan yang musiman. Ketika pengawasan hanya muncul saat kasus naik, perilaku bersih sering ikut naik turun.
Aksi Sertu Mujono patut dibaca sebagai sinyal bahwa pencegahan DBD adalah isu disiplin sosial, bukan semata urusan medis. Jika warga menunggu petugas datang, maka rumah tangga kehilangan peran paling menentukan: mengelola air dan sampah setiap hari.
Pernyataan Sertu Mujono terdengar sederhana, tetapi menohok kebiasaan yang sering diremehkan. “Kami mengajak seluruh warga masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Memastikan tidak ada genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya sarang nyamuk. Lakukan 3M Plus secara rutin,” tegasnya.
Namun, kritik yang perlu diajukan adalah keberlanjutan dan ukuran keberhasilan. Tanpa indikator seperti angka rumah bebas jentik atau tindak lanjut temuan lapangan, kegiatan berisiko menjadi seremonial yang baik untuk berita, tetapi tipis untuk perubahan.
Jumantik di Banjarsari menunjukkan bahwa pencegahan DBD dimulai dari inspeksi kecil yang dilakukan terus-menerus. Ketika Babinsa, kader, dan Puskesmas bergerak bersama, pesan yang muncul adalah tanggung jawab kolektif, bukan beban satu institusi.
Pertanyaannya kini sederhana dan menantang: setelah petugas pulang, apakah rumah tetap bebas genangan, atau kembali memberi ruang bagi jentik untuk tumbuh. Jika 3M Plus menjadi kebiasaan, maka DBD tidak lagi diperlakukan sebagai takdir musiman, melainkan risiko yang bisa dikendalikan.
(Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)