Funeral Khamenei dan Negosiasi AS-Iran: Hormuz, Nuklir, Ancaman Trump

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran berubah menjadi panggung politik besar, saat Iran menampilkan persatuan elitnya dan massa meneriakkan “Mati untuk Amerika” serta “Mati untuk Israel”. Di saat yang sama, negosiasi AS-Iran soal Selat Hormuz dan program nuklir tersendat, sementara sebagian pelayat bahkan menyebut nama Donald Trump sebagai target balas dendam.

Artikel sumber AP melaporkan bahwa para pejabat tertinggi Iran dan putra-putra pemimpin baru tampil di depan publik pada Minggu untuk salat jenazah Khamenei. Kehadiran itu dimaksudkan memproyeksikan kesatuan, sikap menantang, dan keyakinan bahwa mereka aman di tengah tekanan diplomatik Amerika Serikat.

Dalam laporan yang sama, disebutkan serangan 28 Februari menewaskan Khamenei yang berusia 86 tahun dan sejumlah pejabat puncak, lalu memicu perang yang kemudian berhenti lewat gencatan senjata April. Israel, menurut AP, pada puncak perang menargetkan para pemimpin dan bahkan diduga memanfaatkan kemunculan publik untuk mengunci posisi sasaran.

Pemimpin tertinggi baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum muncul dalam rangkaian pemakaman yang berlangsung beberapa hari. Ia diyakini bersembunyi setelah dilaporkan terluka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya, sementara Israel disebut pernah mengancam akan membunuhnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat mendorong negosiasi untuk membuka penuh kembali Selat Hormuz, menggulung balik program nuklir Iran yang dipersengketakan, dan mengakhiri perang secara permanen. Pembicaraan itu, menurut AP, tampak ditunda sampai setelah proses pemakaman dan penguburan.

Kerumunan ratusan ribu orang, menurut AP, memenuhi Grand Mosalla Teheran dan meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel. Di titik ini, pemakaman bukan sekadar ritual, melainkan referendum emosional yang menguji kendali negara atas kemarahan publik.

Ayatollah Jafar Sobhani yang berusia 97 tahun memimpin salat jenazah, sementara putra-putra Khamenei lainnya—Masoud, Meysam, dan Mostafa—muncul setelah lama tak terlihat selama perang. Kepala Garda Revolusi Jenderal Ahmad Vahidi juga terlihat, dijaga aparat berpakaian sipil dan mengenakan topi bisbol hitam, sebuah detail yang menegaskan paranoia keamanan pascaserangan.

Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf yang memimpin negosiasi dengan AS, serta Esmail Qaani pemimpin Pasukan Quds ikut hadir. Kehadiran mereka menyampaikan pesan dua lapis: negara tetap berjalan, tetapi negara juga sedang mengepalkan tangan.

Di antara massa, poster dan grafiti menyerukan pembunuhan Trump dan Benjamin Netanyahu, menurut AP. Seorang pembawa acara, Mohammad Rasouli, menyebut Trump “bajingan terbesar di dunia” lewat pengeras suara, dan kerumunan bersorak.

Seorang pekerja toko kelontong, Gholamreza Sabooni, mengatakan ia datang untuk “berteriak dan menuntut balas” karena “mereka membunuh imam kami,” lalu menyebut Trump sebagai sasaran. Pernyataan semacam ini menempatkan pemerintah Iran pada dilema: menyalurkan kemarahan, tanpa membiarkannya berubah menjadi kebijakan yang memicu perang baru.

Pada saat yang sama di Washington, Trump berpidato pada peringatan 250 tahun berdirinya Amerika dan mengklaim, “Kami menghabisinya,” merujuk pada Iran dan militer mereka. Retorika ini menambah bara, karena publik Iran mendengar penghinaan, sementara publik Amerika mendengar kemenangan.

AP mengingatkan bahwa otoritas federal AS telah lama melacak ancaman Iran terhadap Trump dan pejabat lain, yang berakar pada perintah Trump pada 2020 untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani. Iran berulang kali membantah merencanakan pembunuhan Trump, meski propaganda garis keras kerap menampilkan Trump sebagai target.

Di medan ekonomi-energi, Selat Hormuz menjadi kartu tawar paling keras, karena jalur ini vital bagi pasokan energi global dan sempat ditutup Iran selama perang. Iran menuntut “ukuran kendali” atas Hormuz, namun AS menolak, dan perbedaan juga melebar pada isu nuklir serta konflik Israel dengan Hezbollah di Lebanon.

Menurut badan maritim multinasional yang diawasi Angkatan Laut AS, AS membantu 70 transit di Selat Hormuz dalam 72 jam terakhir, termasuk 18 transit pada Sabtu. Lalu lintas dinilai stabil di rute dekat Oman dan Iran, tetapi masih di bawah level sebelum perang, dengan tingkat ancaman tetap “substantial” serta pembersihan ranjau masih berlangsung.

Pemakaman Khamenei sendiri dijadwalkan berpindah lintas kota di Iran dan Irak, dan pada Senin peti jenazah akan diarak di jalanan Teheran. Otoritas menutup jalan, wilayah udara, dan aktivitas harian sampai Kamis, ketika Khamenei dimakamkan di kompleks makam Imam Reza di Mashhad, kota kelahirannya.

Yang paling penting dari peristiwa ini bukan sekadar jumlah pelayat, melainkan siapa yang berani tampil di depan kamera. Setelah perang yang menargetkan elit, kemunculan pejabat dan keluarga pemimpin adalah demonstrasi bahwa “kepala negara” tidak terpenggal, meski simbol tertingginya gugur.

Namun absennya Mojtaba Khamenei justru menciptakan ruang spekulasi, karena negara yang ingin terlihat solid biasanya menampilkan pusat komando. Ketika seorang perawat, Ziba Naderi, berkata “pemimpin kita harus mengatakan apa yang perlu kita lakukan,” ia sedang mengungkap kebutuhan publik akan instruksi, bukan sekadar emosi.

Seruan membunuh Trump adalah ujian paling berbahaya bagi Teheran, karena ia menabrak batas antara propaganda dan tindakan. Jika dibiarkan, ia bisa memicu pembalasan internasional, tetapi jika ditekan terlalu keras, negara berisiko tampak melemah di hadapan darah yang disebut “syahid.”

Di sinilah negosiasi AS-Iran menjadi medan ganda: diplomasi di meja, dan psikologi massa di jalan. Qalibaf hadir sebagai negosiator, tetapi ia bernegosiasi sambil berdiri di tengah kerumunan yang ingin “jawaban serius,” seperti kata Mohammad Reza Sharifi dalam laporan AP.

Pertanyaan kuncinya: apakah pemakaman ini akan menjadi jembatan menuju stabilitas, atau justru mesin yang memproduksi mandat balas dendam. Jika Hormuz dan nuklir dijadikan kompensasi atas luka politik, dunia bisa menghadapi putaran krisis energi dan keamanan baru.

Pemakaman Khamenei menunjukkan Iran ingin menutup barisan, menahan ketakutan, dan tetap menekan AS dalam isu Selat Hormuz serta program nuklir. Tetapi kemarahan publik yang diarahkan ke Trump dan Israel mengingatkan bahwa perang tidak berhenti hanya karena gencatan senjata ditandatangani.

Di tengah duka, negara diuji untuk memilih: menenangkan massa demi negosiasi, atau mengeraskan garis demi legitimasi internal. Pada akhirnya, yang paling menentukan bukan seberapa keras slogan diteriakkan, melainkan seberapa bijak kekuasaan mengolah luka menjadi arah masa depan.

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Juli 2026)