Wawan Mulyawan: Mengapa Orang Baik Bisa Menjadi Koruptor? - Tinjauan Neurosains
Oleh Dr. Wawan Mulyawan, Praktisi Neurosains
Disclaimer:
Artikel ini tidak bermaksud mendiskreditkan atau membela beberapa orang yang hari-hari ini sedang tersandung masalah korupsi. Saya jujur tidak tahu apakah mereka orang baik atau orang jahat sebelum dituduh menjadi koruptor. Artikel ini lebih kepada refleksi buat kita semua bahwa orang baik pun suatu saat bisa menjadi koruptor.
ORBITINDONESIA.COM - Pertanyaan pada judul artikel ini sering terasa tidak nyaman untuk dijawab. Kita lebih mudah menerima narasi bahwa koruptor memang sejak awal adalah orang yang "berjiwa korup." Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sesuatu yang lebih mengusik: banyak koruptor yang sebelumnya dikenal sebagai pribadi jujur, berprestasi, bahkan dihormati di lingkungannya.
Neurosains menawarkan penjelasan yang lebih berlapis—dan lebih manusiawi—tentang bagaimana transformasi ini bisa terjadi.
Otak yang Beradaptasi terhadap Ketidakjujuran
Temuan paling kuat yang tersedia saat ini berasal dari penelitian Garrett et al. (2016) yang dipublikasikan di Nature Neuroscience dengan judul "The Brain Adapts to Dishonesty." Menggunakan pencitraan fMRI, tim peneliti menemukan bahwa ketika seseorang berulang kali melakukan tindakan tidak jujur—meskipun dalam skala kecil—respons amigdala terhadap perilaku tersebut secara bertahap melemah.
Amigdala adalah struktur otak yang memproses rasa takut, kecemasan, dan rasa bersalah. Ketika seseorang pertama kali berbohong atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, amigdala bereaksi kuat—memunculkan rasa tidak nyaman yang berfungsi sebagai rem moral alami. Namun dengan pengulangan, reaksi itu melemah. Otak "beradaptasi" dengan ketidakjujuran, dan apa yang semula terasa bersalah menjadi terasa biasa.
Inilah mekanisme neural yang menjelaskan mengapa korupsi sering dimulai dari hal-hal kecil: markup anggaran yang sedikit, gratifikasi yang dianggap "wajar", atau toleransi terhadap penyimpangan prosedur. Tanpa disadari, ambang batas moral seseorang bergeser—bukan karena ia berubah menjadi orang jahat, tetapi karena otaknya telah beradaptasi.
Moral Licensing: Ketika Kebaikan Menjadi Pembenaran
Di luar desensitisasi neural, psikologi moral mengenal konsep moral licensing—fenomena di mana seseorang yang merasa telah berbuat baik cenderung memberi "izin" kepada dirinya sendiri untuk berperilaku kurang etis sesudahnya. Konsep ini telah dipelajari dalam literatur psikologi sosial, meskipun mekanisme neurobiologisnya secara spesifik masih dalam tahap penelitian yang berkembang.
Dalam konteks korupsi, seorang pejabat yang merasa telah berdedikasi bertahun-tahun, berkorban untuk negara, atau menyumbangkan sebagian penghasilannya, bisa secara tidak sadar membangun narasi internal: "Saya sudah cukup berbuat baik. Saya layak mendapatkan lebih."
Narasi ini kemudian difasilitasi oleh korteks prefrontal—bagian otak yang seharusnya menilai etika—namun dalam kondisi ini justru bekerja untuk merasionalisasi, bukan mengevaluasi.
Penelitian Haidt (2001) dalam Psychological Review tentang moral rationalization menunjukkan bahwa otak manusia lebih sering membuat keputusan berdasarkan intuisi emosional, lalu menggunakan nalar untuk membenarkannya—bukan sebaliknya. Ini menjelaskan mengapa koruptor sering benar-benar merasa tidak bersalah: otak mereka secara aktif membangun pembenaran.
Tekanan Lingkungan dan Konformitas Neural
Sistem neuron cermin (mirror neuron system) yang ditemukan dan dijelaskan oleh Rizzolatti & Craighero (2004) dalam Annual Review of Neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia secara neural merespons dan mencerminkan perilaku orang-orang di sekitarnya. Sistem ini menjadi dasar empati, pembelajaran sosial, dan konformitas perilaku.
Dalam lingkungan di mana korupsi sudah menjadi norma tak tertulis, tekanan konformitas neural ini bekerja secara diam-diam. Seseorang yang bergabung ke dalam sistem koruptif tidak serta-merta mengadopsi nilai-nilai korup secara sadar—namun paparan berulang terhadap perilaku tersebut secara bertahap membentuk ulang persepsi normalitasnya.
Perlu dicatat bahwa penerapan langsung sistem neuron cermin pada konteks korupsi masih bersifat ekstrapolasi teoretis dan belum didukung oleh studi empiris spesifik. Namun landasan ilmiah tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap pembentukan perilaku melalui mekanisme neural sudah cukup kuat untuk dijadikan kerangka berpikir.
Implikasi: Sistem yang Baik Melindungi Orang yang Baik
Pemahaman neurosains ini membawa implikasi penting untuk kebijakan antikorupsi di Indonesia. Jika orang baik pun rentan terhadap korupsi melalui mekanisme neural yang bertahap, maka strategi pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan seleksi karakter individu. Sistem harus dirancang untuk melindungi otak manusia dari proses desensitisasi moral.
Ini berarti: rotasi jabatan berkala untuk mencegah habituasi, pengawasan yang konsisten untuk mempertahankan aktivasi amigdala terhadap risiko, serta budaya organisasi yang secara aktif memperbarui "alarm moral" setiap anggotanya.
Penutup
Korupsi yang dilakukan oleh "orang baik" bukan paradoks—ia adalah konsekuensi yang bisa dijelaskan secara neural. Otak manusia tidak dirancang untuk kebal terhadap perubahan bertahap dalam lingkungan yang salah. Justru karena itulah sistem yang kuat, transparan, dan konsisten menjadi jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan kebaikan individu.
=====
Penulis adalah dokter spesialis bedah saraf, Ketua Umum ILUNI FKUI, dan Ketua Umum PERDOKJASI.
Referensi yang digunakan:
- Garrett, N., et al. (2016). The brain adapts to dishonesty. Nature Neuroscience, 19(12), 1727–1732.
- Haidt, J. (2001). The emotional dog and its rational tail: A social intuitionist approach to moral judgment. Psychological Review, 108(4), 814–834.
- Rizzolatti, G., & Craighero, L. (2004). The mirror-neuron system. Annual Review of Neuroscience, 27, 169–192. ***