iQoo Pad Ultra: Tablet Gaming Android Berkipas, Emulator PC, OLED 165Hz

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – iQoo Pad Ultra, tablet gaming Android terbaru iQoo, resmi meluncur di China pada 29 September 2026. Kombinasi kipas aktif, emulator PC bawaan, dan layar OLED 165Hz membuatnya terasa seperti “konsol” yang menyamar sebagai tablet.

Di tengah demam handheld dan cloud gaming, iQoo seolah ingin menjawab satu pertanyaan: apakah tablet masih relevan untuk gamer yang menuntut performa, suhu stabil, dan akses game PC? Jawabannya mereka kemas dalam satu perangkat yang agresif di spesifikasi dan narasi.

Pasar mobile gaming tumbuh, tetapi keluhan klasiknya tetap sama: panas, throttling, dan kontrol yang kurang presisi. Banyak tablet kuat di atas kertas, namun performanya turun saat sesi panjang karena pembuangan panas pasif terbatas.

Di saat yang sama, gamer makin akrab dengan ekosistem PC seperti Steam, plus streaming dan cloud gaming yang mengaburkan batas perangkat. Tablet yang hanya mengandalkan game Android mulai terasa kurang “cukup” bagi pengguna yang ingin satu perangkat untuk banyak perpustakaan game.

iQoo menonjolkan Ice Dome Five-Fold Air Cooling System dengan kipas 30 x 30 x 3,5 mm dan aliran udara maksimum 0,94 CFM. Saluran masuk udara di depan dan samping bodi memberi pesan jelas: pendinginan bukan aksesori, melainkan fondasi pengalaman gaming.

Di kelas tablet, kipas aktif adalah langkah berani karena menambah kompleksitas, ruang internal, dan potensi noise. Namun logikanya sederhana: jika targetnya stabilitas frame rate, maka kontrol termal harus lebih menyerupai laptop tipis ketimbang tablet konsumsi.

Di sisi pengalaman visual, layar OLED 8,8 inci beresolusi 2,3K dengan refresh rate 165Hz menjadi senjata utama. Klaim kecerahan 4.500 nit terdengar ekstrem untuk tablet, dan publik patut menunggu uji independen soal sustain brightness, akurasi warna, serta dampak panas pada panel.

Untuk input, touch sampling rate hingga 500Hz dan klaim respons kurang dari 1 ms menarget gamer kompetitif. Klaim semacam ini sering bergantung skenario pengujian, sehingga yang lebih penting adalah konsistensi respons saat perangkat panas dan saat game berat berjalan lama.

Jantung performanya disebut Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6, proses 2 nm, dan CPU hingga 5,0 GHz, dipasangkan RAM LPDDR5X sampai 16 GB dan UFS 4.1 hingga 1 TB. Angka-angka ini menempatkannya di puncak, tetapi performa nyata akan ditentukan oleh manajemen daya, suhu, dan tuning software.

Menariknya, iQoo menambahkan chip Q4 untuk tugas gaming seperti interpolasi frame dan ray tracing. Ini mengindikasikan strategi “dual-engine” ala pabrikan ponsel gaming, yakni memindahkan sebagian beban grafis atau efek ke chip pendamping agar frame rate lebih stabil.

Fitur yang paling provokatif adalah emulator PC bawaan yang memungkinkan login Steam dan menjalankan game PC kompatibel secara lokal. Ini bukan sekadar gimmick, karena menyentuh isu besar: kompatibilitas, performa emulasi, serta posisi legal dan dukungan developer yang bisa berubah sewaktu-waktu.

iQoo juga membawa opsi PC streaming dan cloud gaming Tencent Start, yang berarti tablet ini bermain di tiga lapis: native Android, emulasi lokal, dan streaming. Model tiga lapis ini cerdas, karena menutup celah ketika satu metode gagal, misalnya game tidak kompatibel untuk emulasi atau koneksi internet tidak stabil untuk cloud.

Ketika dipasangkan controller teleskopik, iQoo Pad Ultra diarahkan menjadi handheld besar dengan layar premium. Ini memperjelas tren industri: perangkat gaming semakin modular, dan pengalaman “konsol” bisa dibangun dari tablet plus aksesori.

iQoo Pad Ultra menunjukkan bahwa perang performa mobile mulai bergeser dari sekadar chipset ke rekayasa termal dan ekosistem. Kipas aktif adalah pengakuan jujur bahwa desain tipis tidak selalu sejalan dengan beban gaming modern.

Namun, strategi emulator PC bawaan juga mengandung pertaruhan reputasi. Jika daftar kompatibilitas sempit, performa tidak konsisten, atau dukungan pembaruan tersendat, fitur ini bisa berubah dari pembeda menjadi sumber kekecewaan.

Di sisi lain, pendekatan iQoo terasa realistis karena mereka tidak hanya menjual “janji FPS tinggi”, melainkan menyediakan jalur alternatif lewat streaming dan cloud. Ini seperti mengatakan, “kalau lokal berat, kita masih punya cara lain,” meski konsekuensinya gamer jadi bergantung pada jaringan dan layanan pihak ketiga.

Dengan kipas aktif, layar OLED 165Hz, dan emulator PC, iQoo Pad Ultra adalah pernyataan bahwa tablet gaming Android masih bisa berevolusi. Perangkat ini tidak sekadar mengejar angka spesifikasi, tetapi mencoba merancang ulang cara orang mengakses game lintas platform.

Pertanyaannya kini bergeser: apakah masa depan gaming portabel akan ditentukan oleh perangkat paling kencang, atau oleh perangkat yang paling adaptif terhadap panas, jaringan, dan ekosistem game? Jika iQoo benar, maka “tablet” mungkin bukan lagi kategori, melainkan bentuk baru dari konsol serbaguna. (Orbit dari berbagai sumber, 1 Oktober 2026)