OnePlus Keluar dari Eropa dan AS, Era “Flagship Killer” Berakhir
ORBITINDONESIA.COM – OnePlus keluar dari pasar Eropa dan Amerika Utara, menandai babak akhir narasi “flagship killer” yang dulu menantang Apple dan Samsung. Dalam pernyataannya kepada WIRED, OnePlus menegaskan tidak akan meluncurkan produk baru di dua kawasan itu, meski layanan purnajual dan pembaruan perangkat lunak disebut tetap dijamin. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
OnePlus adalah merek yang naik sejak 2013 dengan janji spesifikasi kelas atas, harga agresif, dan komunitas pengguna yang militan. Kini, merek itu berada di bawah payung Oppo, bersama Realme, dalam ekosistem BBK Electronics yang juga menaungi Vivo. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Dalam beberapa bulan terakhir, OnePlus melakukan pengurangan staf lintas wilayah, dan sebagian karyawan Eropa dipindahkan ke Oppo atau Realme. WIRED memverifikasi perpindahan dan PHK itu melalui wawancara mantan karyawan dan puluhan pembaruan LinkedIn, dengan banyak perpindahan terjadi antara Maret hingga Juni 2026. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Seorang sumber anonim menyebut dirinya diberhentikan pada April, setelah manajernya lebih dulu terkena PHK. Kantor OnePlus di New York City disebut dipangkas seluruhnya, dan keputusan itu digambarkan sebagai instruksi “dari atas” tanpa kanal masukan dari tim. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Oppo memberi pernyataan umum tentang konsolidasi sumber daya dan sinergi strategi produk global. Realme akan fokus pasar luar negeri dan tidak lagi meluncurkan produk baru di China, sementara peta jalan OnePlus di China disebut tidak berubah. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Setelah berita terbit, OnePlus akhirnya mengonfirmasi kepada WIRED bahwa mereka tidak lagi meluncurkan produk baru di Eropa dan Amerika Utara. OnePlus juga meminta media menahan diri dari spekulasi yang belum terverifikasi, seraya menyatakan operasi OnePlus India berjalan seperti biasa. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Keputusan OnePlus keluar dari Eropa dan AS terjadi saat industri ponsel melemah, bukan menguat. Counterpoint mencatat pengiriman smartphone global turun 11 persen year-on-year pada kuartal II 2026, level terendah untuk periode itu dalam 13 tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Dalam data Counterpoint yang dikutip WIRED, hanya Apple dan Samsung yang tumbuh, sementara Xiaomi, Oppo, dan Vivo mengalami penurunan paling tajam. Ini penting karena OnePlus berada dalam orbit grup yang sama, sehingga tekanan kinerja induk ikut memengaruhi prioritas merek. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
WIRED juga menyoroti “krisis memori” sebagai konteks, yakni kelangkaan RAM karena terserap pusat data untuk ledakan AI. Jika pasokan komponen mengetat, merek yang tidak dominan cenderung menjadi yang pertama dipangkas, karena daya tawarnya lemah di rantai pasok. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Di Amerika Serikat, masalah OnePlus lebih struktural ketimbang sekadar siklus produk. Nabila Popal dari IDC menegaskan OnePlus tidak pernah menjadi pemimpin di AS, dan penjualannya merosot setelah kemitraan dengan T-Mobile dihentikan pada 2023. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Popal menyebut pasar AS sangat bergantung pada operator, yang mendorong hingga 66 persen volume berdasarkan data 2025. Tanpa etalase operator, merek sulit “menembus” pasar, karena konsumen membeli paket, bukan sekadar perangkat. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Angkanya brutal dan menjelaskan keputusan keluar pasar. OnePlus turun dari 1 juta unit pengiriman di AS pada 2019 menjadi kurang dari 130 ribu unit pada 2025, atau penurunan volume sekitar 90 persen dalam enam tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Konsolidasi juga terlihat dari pangsa pasar. Menurut Popal, OnePlus turun dari 1,8 persen pangsa pasar AS pada 2021 menjadi 0,1 persen pada 2025, sementara Apple dan Samsung naik dari gabungan 73 persen menjadi 80 persen. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Di sisi lain, pusat gravitasi OnePlus bergeser ke China dan Asia Pasifik. Popal menyebut AS menyumbang sekitar 22 persen pengiriman OnePlus pada 2021, namun pada 2025 China menyumbang 56 persen, dan jika ditambah Asia Pasifik menjadi 91 persen. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Itu membuat pernyataan Oppo tentang “peta jalan China tidak berubah” terasa sangat logis, sekaligus dingin bagi pengguna Barat. Perusahaan akan mempertahankan pasar yang memberi volume, bukan pasar yang memberi reputasi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Oppo juga menyebut setelah ColorOS 17 dirilis, perangkat OnePlus dan Realme yang memenuhi syarat bisa memilih memperbarui ke sana. Konsekuensinya, OxygenOS—lapisan Android khas OnePlus—tidak lagi berjalan di perangkat, meski perangkat yang tidak memenuhi syarat tetap mendapat pembaruan pemeliharaan. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Perubahan OS ini bukan sekadar teknis, melainkan perubahan identitas. OxygenOS selama ini adalah “alasan emosional” banyak pengguna bertahan, karena dianggap lebih ringan dan dekat dengan Android murni dibanding antarmuka Oppo. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Faktor harga juga menjadi batu sandungan yang jarang dibicarakan penggemar. Popal mengingatkan bahwa OnePlus 6 pada 2018 dijual US$529 dengan spesifikasi flagship, namun kemudian OnePlus meniru pasar premium dengan menaikkan harga dan menjadi mirip kompetitor. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Menurut Popal, pola ini sering terjadi pada perusahaan bermargin tipis: “ambil perhatian dulu, lalu naikkan harga” demi profitabilitas. Masalahnya, tidak semua merek mampu “memerintah” harga tinggi, dan yang konsisten berhasil hanya Apple dan Samsung. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
WIRED juga mencatat OnePlus sempat menaikkan harga smartwatch secara drastis dari US$330 ke US$500 saat perang tarif era Presiden Donald Trump. Pada Mei 2026, OnePlus kembali menaikkan harga ponsel terbarunya di India, memperkuat sinyal tekanan biaya dan strategi margin. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Di AS, isu geopolitik menambah latar, meski bukan penyebab langsung yang dikonfirmasi. Huawei dan ZTE pernah dilarang, dan FCC belakangan melarang router internet konsumen baru yang diproduksi di luar AS, termasuk yang terkait kontroversi TP-Link. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Namun Oppo dan OnePlus tidak menjawab pertanyaan WIRED tentang alasan spesifik keluar dari Amerika Utara. Keheningan ini membuat publik menebak-nebak, tetapi data penjualan dan struktur distribusi operator sudah cukup menjelaskan dorongan ekonominya. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Secara historis, OnePlus adalah pengecualian yang menarik karena merek China jarang punya pijakan di AS. Popal menilai hilangnya OnePlus berarti satu pilihan lebih sedikit bagi konsumen, dan pasar bergerak makin terkonsolidasi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
OnePlus kini bergabung dengan daftar merek yang menutup operasi, keluar bisnis ponsel, berputar arah, atau menyusut drastis. WIRED menyebut nama-nama seperti HTC, LG Mobile, Sony, Meizu, dan HMD dalam gelombang “surutnya” ambisi lama industri. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
OnePlus tidak benar-benar “mati”, tetapi narasi yang membuatnya besar sudah berakhir. “Flagship killer” adalah janji moral: spesifikasi tinggi tanpa pajak merek, dan itu hanya bekerja selama perusahaan siap menahan margin dan menjaga diferensiasi. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Saat OnePlus ikut bermain di harga premium, ia kehilangan dua hal sekaligus. Ia kehilangan keunggulan harga, dan ia tidak punya ekuitas merek setebal Apple atau Samsung untuk membuat konsumen rela membayar lebih. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Keputusan memusatkan energi ke China dan Asia Pasifik adalah rasional dari sisi korporasi, tetapi pahit bagi pasar Barat. Ini menegaskan bahwa globalisasi merek ponsel tidak selalu berarti komitmen global, melainkan optimasi portofolio. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Integrasi ke ColorOS 17 juga bisa dibaca sebagai penghematan biaya dan percepatan pengembangan, karena satu basis OS lebih mudah dipelihara. Namun itu mengorbankan “jiwa” OnePlus, karena OxygenOS adalah simbol perbedaan yang dulu membuatnya layak dicari. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Yang paling mengkhawatirkan adalah dampak ke konsumen: pilihan menyempit, inovasi jadi kurang kompetitif, dan harga cenderung stabil di level tinggi. Ketika dua pemain menguasai 80 persen pasar, perang fitur dan perang harga mudah berubah menjadi sekadar ritual tahunan. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Keluarnya OnePlus dari Eropa dan Amerika Utara adalah cerita tentang bagaimana pasar menghukum merek yang kehilangan posisi uniknya. Data IDC dan Counterpoint yang dikutip WIRED menunjukkan kombinasi penurunan pengiriman, ketergantungan operator AS, dan konsolidasi dua raksasa menciptakan medan yang makin sempit bagi penantang. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya “siapa pengganti OnePlus”, tetapi “apakah pasar masih memberi ruang bagi merek yang berani berbeda”. Jika konsumen terus didorong ke dua pilihan utama, kita mungkin mendapatkan ponsel yang makin aman, tetapi kehilangan kejutan yang dulu membuat teknologi terasa hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)