Cerpen Iyek Aghnia: Karma Lele
Oleh Iyek Aghnia
ORBITINDONESIA.COM - Pak Kades Kampung Lilot sumringah. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Senyum mengembang dari wajah tuanya.
Pasalnya, narasi istimewa yang disampaikan Dannipu sebagai Kepala Rumah Tangga Desa sangat meyakinkan. Bahkan terkesan heroik.
"Hebat sekali. Warga yang kita beri makanan bergizi mendapat satu ekor lele setiap kali makan," puji Pak Kades.
"Demikian pula dengan telur. Satu orang satu butir. Untuk ayam, satu ekor dipotong menjadi sepuluh bagian," sambung Dannipu dengan narasi yang terdengar meyakinkan.
"Lanjutkan," perintah Pak Kades dengan nada penuh kewibawaan dan kebahagiaan.
Maklumlah, program Makan Bergizi merupakan program unggulan Pak Kades saat Pemilihan Kepala Desa tahun lalu.
"Saya ingin anak-anak desa kita sehat. Tidak ada lagi stunting. Tidak ada lagi gizi buruk di desa ini. Biar anak-anak desa kita tumbuh sehat dalam menyongsong masa depan negeri ini," teriak Pak Kades dari mimbar kampanye.
Tak heran bila anggaran desa banyak terserap untuk program istimewa bernama Makan Bergizi.
"Hampir empat puluh persen anggaran desa digunakan untuk program makan bergizi," ujar seorang pengamat desa.
"Bisa-bisa tidak ada pembangunan untuk desa kita," sambung warga yang lain.
"Saya setuju dana desa digunakan untuk makan bergizi warga. Daripada dikorupsi petinggi desa," kata warga lainnya.
Usai Pak Kades meninggalkan ruang rapat, Dannipu dan para stafnya tertawa. Senyum kemenangan menghiasi wajah mereka.
"Pak Kades kita ini butuh pujian. Butuh sanjungan. Maklum, orang sudah tua," ujar Dannipu yang disambut derai tawa para stafnya.
"Apalagi beliau mau dua periode," sambung seorang staf.
"Itulah sebabnya beliau butuh sanjungan dan pujian. Uangnya banyak, tidak habis tujuh turunan. Kita?" kata Dannipu, kembali disambut tawa para stafnya.
Suasana mendadak hening ketika salah seorang staf mengingatkan.
"Tapi, kalau Pak Kades tahu, tamat kita semua."
Dannipu terdiam. Tiba-tiba ia teringat saat pertama kali diminta Pak Kades membantunya mengelola program desa. Ia masih ingat betul nasihat yang pernah disampaikan Pak Kades.
"Kalau kamu berbohong, neraka tempatmu. Engkau tidak akan melihat indahnya rembulan dan cahaya matahari pagi," kata Pak Kades kala itu.
Dannipu menelan ludah. Terasa pahit.
Matahari tepat berada di atas kepala ketika Pak Kades mengunjungi sekolah di kampungnya. Di halaman sekolah, ia melihat seorang anak yang tampak kurang gizi.
"Kamu sudah makan?" tanya Pak Kades.
"Sudah, Pak," jawab anak itu.
"Apa menu makanmu hari ini?"
"Kerupuk dan ikan asin."
"Itu lauk yang kamu dapat dari program makanan bergizi?"
Anak itu mengangguk.
Di kejauhan, mata tua Pak Kades menangkap pemandangan lain. Seorang siswa membuang makanan yang baru diterimanya dari dapur umum desa.
"Kenapa makanannya dibuang?" tanya Pak Kades.
"Tiap hari lauknya ikan asin dan kerupuk, Pak," jawab siswa itu.
Sore mulai turun. Pak Kades berbincang dengan seorang petambak lele di kampungnya.
"Berapa kilogram lele yang dibeli dapur desa?" tanya Pak Kades.
"Memprihatinkan, Pak. Kadang seminggu cuma sepuluh kilogram. Kadang lima kilogram," jawab petambak itu.
"Dapur desa lebih sering membeli ikan asin dan kerupuk, Pak. Harganya lebih murah," lanjutnya.
Pak Kades terdiam. Ia berdiri mematung menatap kolam lele yang dipenuhi ribuan ikan. Lele-lele itu berenang dan meloncat-loncat di permukaan air. Entah sedang bergembira atau menarikan kesedihan.
Malam tiba. Cahaya rembulan menerangi bumi.
Di bawah sinarnya, beberapa aparat penegak hukum datang membawa Dannipu menuju kantor mereka.
Diiringi rembulan yang tampak pucat, Dannipu meninggalkan rumahnya dengan wajah yang lebih pucat lagi, bak kain kafan.
Malam itu, Kepala Rumah Tangga Desa Lilot resmi ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang.
Dannipu bersama beberapa orang lainnya kini mendekam di sel tahanan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
Fajar menyingsing. Cahaya matahari perlahan bangun dari peraduannya dan kembali menerangi bumi.
Pak Kades Desa Lilot menyambut pagi dengan rasa bahagia.
Ingin rasanya ia menyampaikan kepada seluruh warga bahwa tidak ada tempat bagi para koruptor di Desa Lilot. Tidak ada ruang sejengkal pun untuk mereka, para penggarong uang rakyat.
Pagi itu, Pak Kades bergegas menuju sekolah kampung. Ia ingin melihat menu makanan bergizi yang diterima para pelajar hari ini. Apakah ada ayam, lele, dan telur seperti yang seharusnya?
Ia juga ingin menemui para peternak lele. Apakah lele-lele mereka yang berlimpah kini sudah diborong pengurus Rumah Tangga Desa?
Toboali, Juni 2026
Iyek Aghnia adalah nama pena Rusmin Sopian, penulis yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan. ***