Prabowo Melayat Ryamizard Ryacudu, Warisan Menhan Dipertanyakan
ORBITINDONESIA.COM – Prabowo melayat Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan, Senin (1/6/2026), sebelum pemakaman militer di TMP Kalibata. Momen ini bukan sekadar protokol duka, melainkan penanda bagaimana negara mengingat seorang eks Menhan dan eks KSAD dalam peta kekuasaan hari ini.
Presiden RI Prabowo Subianto tiba pukul 07.27 WIB dengan mobil Maung dan langsung menuju Aula Bhinneka Tunggal Ika Kemhan. Di lokasi, Prabowo berjabat tangan dengan Menhan Sjafrie Sjomsoeddin dan Wamenhan Donny Ermawan Taufanto sebelum memberi penghormatan terakhir.
Ryamizard Ryacudu wafat di RSPAD Gatot Soebroto pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.03 WIB. Ia disemayamkan di Kemhan dan dilepas lewat upacara pada pukul 11.00 WIB, lalu dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Dalam keterangan resmi, Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen Rico Sirait menegaskan pemakaman militer adalah “penghormatan negara kepada seorang prajurit dan negarawan.” Pernyataan ini menempatkan Ryamizard dalam kategori figur yang jasanya dianggap melampaui jabatan administratif semata.
Ryamizard lahir di Palembang pada 12 April 1950 dan lulus Akmil 1974 dari kecabangan infanteri. Ia mencapai puncak karier sebagai KSAD pada 2002-2005, lalu menjadi Menhan pada periode pertama Presiden Joko Widodo, 2014-2019.
Rangkaian prosesi di Kemhan memperlihatkan bagaimana institusi pertahanan merawat memori kolektifnya lewat simbol, tata upacara, dan bahasa penghormatan. Pemakaman di TMP Kalibata juga menegaskan bahwa negara memilih narasi “pengabdian” sebagai bingkai utama, bukan perdebatan kebijakan.
Kehadiran Prabowo memiliki bobot politik karena ia kini presiden sekaligus pernah memimpin sektor pertahanan, sehingga gestur duka ikut menjadi gestur kontinuitas. Dalam politik Indonesia, kontinuitas sering tampil sebagai stabilitas, meski publik tetap menuntut evaluasi atas efektivitas kebijakan pertahanan lintas rezim.
Data yang paling kuat dari peristiwa ini justru bersifat faktual-prosedural: waktu kedatangan, lokasi penyemayaman, dan jadwal pelepasan jenazah. Detail semacam ini penting karena menunjukkan negara bekerja melalui ritus, sementara ruang untuk menilai capaian substantif sering tertutup oleh kesopanan momen berkabung.
Namun, justru di sela protokol itulah pertanyaan publik biasanya muncul: apa warisan kebijakan Ryamizard yang paling terasa bagi prajurit dan warga. Tanpa pembacaan kritis, penghormatan berisiko menjadi rutinitas simbolik yang mengulang kalimat “jasa” tanpa menakar dampaknya.
Penghormatan terakhir layak diberikan, tetapi ingatan publik tidak boleh berhenti pada seremoni. Negara dapat memuliakan seorang prajurit, sambil tetap membuka ruang evaluasi atas keputusan-keputusan strategis yang pernah diambil saat ia memegang otoritas.
Di era ketika ancaman pertahanan berubah cepat, ukuran “pengabdian” semestinya ditautkan pada kemampuan membangun sistem, bukan hanya ketegasan personal. Figur kuat memang penting, tetapi institusi yang tahan uji lebih menentukan nasib pertahanan jangka panjang.
Kehadiran Prabowo di Kemhan juga dapat dibaca sebagai pesan bahwa garis sejarah pertahanan Indonesia disambung lewat penghormatan pada para pendahulu. Pesan itu efektif untuk konsolidasi, tetapi akan lebih bermakna jika diikuti transparansi agenda modernisasi dan perlindungan prajurit di lapangan.
Ryamizard Ryacudu kini kembali ke pangkuan negara melalui pemakaman militer di TMP Kalibata, dan Prabowo menutupnya dengan penghormatan resmi di Kemhan. Di titik ini, duka dan politik bertemu dalam satu panggung yang rapi.
Yang tersisa bagi publik adalah pelajaran bahwa negara pandai merawat simbol, tetapi harus lebih berani merawat evaluasi. Jika penghormatan adalah cara mengingat, maka pertanyaan berikutnya adalah cara memastikan ingatan itu membuat kebijakan pertahanan Indonesia lebih kuat dan lebih manusiawi. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)