Benteng Gibran: "Tenang Pak, Saya Masih Ada Di Sini"
Oleh Herry Tjahjono, kolumnis.
ORBITINDONESIA.COM - Banyak orang (terutama pembenci Gibran), termasuk si Hasto–mengatakan bahwa Gibran telah menjadi "beban" bagi Prabowo–terutama sejak kasus ijazah SMA yang 𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘦 di Mahkamah Konstitusi itu.
Padahal kenyataan mengatakan sebaliknya: justru pada kondisi seperti ini, Gibran menjadi "benteng" bagi Prabowo.
Setidaknya ada dua fungsi "benteng Gibran":
Pertama, semua serangan terhadap Gibran (termasuk Jokowi sebagai ikutannya)–sadar atau tidak–telah mengalihkan atau menenggelamkan berbagai isu yang sangat merugikan Prabowo. Soal MBG yang masih amburadul. Kopdes. Kasus-kasus besar penegakan hukum. Dan banyak lainnya.
Tanpa peran "benteng Gibran", betapa babak-belurnya Prabowo oleh serangan yang semuanya akan tertuju langsung kepadanya.
Kedua, nyaris semua wilayah negeri ini telah dikunjungi oleh Gibran. Dan anak muda ini tak pernah membawa namanya sendiri, tapi nama Presiden Prabowo.
Jadi kehadirannya adalah "kehadiran Prabowo" di tengah rakyat dan berbagai peristiwa apa pun di negeri ini. Anda bayangkan, tanpa kehadiran Gibran di banyak peristiwa itu–akan lahir kesan: betapa jauhnya jarak pemerintah dengan rakyat.
Itulah peran Gibran, yang dijalaninya dengan suka rela dan ikhlas. Tanpa keluhan. Jadi bagi Prabowo, Gibran bukanlah beban, tapi benteng. Bukan 𝘭𝘪𝘢𝘣𝘪𝘭𝘪𝘵𝘺, tapi 𝘢𝘴𝘴𝘦𝘵.
Dulu, semasa kampanye dan kemenangan belum di tangan Prabowo, Gibran menenangkan dan menguatkan pasangannya itu dengan kalimat: "Tenang pak, saya sudah ada di sini".
Sekarang, tak berlebihan jika Gibran kembali mengucapkan kalimat fenomenalnya itu, dengan sedikit penyesuaian: " Tenang pak, saya masih ada di sini'.
(Posisi Gibran itu dilematis, serba salah, namun pada akhirnya–dia memilih untuk menjadi benteng–meski mungkin banyak yang menganggapnya sebagai ancaman). ***