Gerakan Indonesia Asri Polda Sumsel: Penghijauan Aspol dan Ketahanan Pangan
ORBITINDONESIA.COM – Gerakan Indonesia Asri Polda Sumsel mengubah halaman asrama polisi menjadi ruang hijau produktif lewat penghijauan Aspol dan kerja bakti massal. Sebanyak 550 bibit pohon buah ditanam serentak di 21 asrama polisi, dari alpukat Siger hingga durian Otong.
Isu lingkungan perkotaan kerap dimulai dari hal sederhana, yaitu ruang tinggal yang panas, kotor, dan minim vegetasi. Ketika kualitas lingkungan turun, kesehatan, kenyamanan, dan kohesi sosial ikut tergerus.
Di titik ini, institusi negara juga dituntut memberi contoh, bukan sekadar imbauan. Polda Sumsel menautkan aksi penghijauan dengan program strategis nasional Presiden untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah.
Program ini dibingkai sebagai bagian dari Belida, yaitu penguatan kualitas lingkungan dan ketahanan sosial masyarakat. Lokasinya dipilih di sekitar asrama polisi, ruang yang sehari-hari dihuni keluarga besar Polri dan mudah diukur dampaknya.
Data utama yang disampaikan adalah 550 bibit untuk 21 Aspol, atau rata-rata sekitar 26 bibit per lokasi. Komposisi bibitnya dominan tanaman produktif, seperti mangga Harum Manis, rambutan Binjai, jambu Jamaika, nangka Kandil, hingga alpukat Raja Giri.
Pemilihan pohon buah menggeser makna penghijauan dari sekadar estetika menjadi investasi pangan berbasis lingkungan. Secara logika sederhana, pohon buah memberi teduh, menyerap air, dan berpotensi menghasilkan panen yang dapat menekan biaya rumah tangga penghuni asrama.
Namun, program tanam pohon sering gagal bukan karena niat, melainkan karena perawatan. Tanpa jadwal penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama, bibit mudah mati dan kegiatan berubah menjadi seremoni tahunan.
Pernyataan Polda Sumsel menekankan aspek budaya hidup bersih, sehat, dan produktif di lingkungan kepolisian. Seorang pejabat menyebut kegiatan ini “bukan sekadar bersih-bersih dan tanam pohon, tetapi upaya membangun kesadaran kolektif” untuk membuat asrama lebih nyaman dan produktif.
Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mu’min Wijaya, menautkan gerakan ini dengan transformasi kultur kerja Polri yang lebih humanis dan adaptif terhadap isu lingkungan. Ia menegaskan semangat “Polri Presisi” melalui kegiatan yang berdampak langsung pada lingkungan dan komunitas, bukan hanya simbol kepedulian.
Di sisi lain, dampak nyata akan terlihat jika ada indikator yang dipublikasikan, seperti tingkat hidup bibit setelah enam bulan, pengurangan titik genangan, atau volume sampah yang terkelola. Transparansi semacam ini penting agar publik bisa menilai apakah program benar-benar berkelanjutan.
Gerakan Indonesia Asri Polda Sumsel patut dibaca sebagai upaya memperluas definisi keamanan. Keamanan tidak hanya soal patroli dan penegakan hukum, tetapi juga soal lingkungan yang sehat, yang menurunkan stres, konflik, dan kerentanan sosial.
Meski begitu, kritik yang wajar adalah memastikan kegiatan tidak berhenti pada pencitraan hijau. Jika penghijauan hanya terjadi di Aspol, publik bisa bertanya mengapa model yang sama tidak diperluas ke sekolah, ruang publik, atau permukiman padat yang lebih rentan.
Di sinilah tantangan institusional muncul, yaitu mengubah aksi menjadi sistem. Program akan lebih kuat jika ada kemitraan dengan dinas lingkungan hidup, komunitas urban farming, serta pelaporan berkala yang mudah diakses.
Pohon buah juga membawa konsekuensi sosial, yaitu soal perawatan kolektif dan pembagian hasil panen. Jika tidak diatur, panen dapat menjadi sumber gesekan kecil, sehingga aturan sederhana dan kesepakatan warga asrama menjadi kunci.
Penghijauan Aspol melalui Gerakan Indonesia Asri menunjukkan bahwa kebijakan besar bisa dimulai dari halaman rumah dinas. Ketika 550 bibit ditanam, yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya tanahnya, tetapi konsistensi merawatnya.
Jika pohon-pohon itu hidup, asrama akan lebih sejuk, lebih sehat, dan mungkin lebih mandiri pangan. Jika mati, publik akan mengingatnya sebagai seremoni yang menguap.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan, siapa yang memastikan bibit-bibit itu tumbuh hingga berbuah, dan bagaimana hasilnya dibagikan secara adil. Di sanalah gerakan lingkungan berubah dari slogan menjadi kebiasaan yang menyejahterakan. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Juli 2026)