Trump Desak Rusia Damai dengan Ukraina, G7 Bahas Hormuz
ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump menegaskan Rusia harus membuat kesepakatan damai dengan Ukraina setelah pertemuan yang ia sebut “sangat baik” antara Volodymyr Zelenskyy dan para pemimpin G7 di Prancis. Trump berkata ia akan melakukan apa pun yang ia bisa untuk mengakhiri perang, sambil menyoroti banyaknya anak muda yang tewas di medan tempur di kedua pihak.
Trump berbicara kepada wartawan pada Selasa di Evian-les-Bains, dekat perbatasan Swiss, di sela KTT G7 yang mempertemukan AS, Prancis, Inggris, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, dan Uni Eropa. Ia menyatakan, “Rusia seharusnya membuat kesepakatan,” dan mengulang klaim bahwa ia “menyelesaikan delapan perang,” meski klaim itu luas diperdebatkan.
Zelenskyy mengikuti pembicaraan bersama G7 pada Selasa pagi dan juga berbicara dengan Trump serta Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di sela-sela pertemuan. Seusai pertemuan, Zelenskyy menulis di X bahwa fokus kunci adalah memperkuat pertahanan udara Ukraina dan mendorong diplomasi agar Rusia mengakhiri perangnya.
Zelenskyy menyebut ia menerima komitmen penting berupa tambahan rudal pertahanan udara beserta lisensi produksi, paket dukungan musim dingin, dan peningkatan tekanan terhadap Rusia. Ia menambahkan bahwa AS siap memberi “backstop” untuk garis-garis upaya tersebut, serta menegaskan semua yang dibahas harus diimplementasikan agar perang Rusia tidak pernah dinormalisasi.
Pernyataan Trump tentang “membuat kesepakatan” menempatkan diplomasi sebagai panggung utama, tetapi ia tidak merinci kerangka damai, jaminan keamanan, atau batas konsesi yang ditawarkan kepada kedua pihak. Dalam perang modern, detail seperti mekanisme gencatan senjata, verifikasi, dan penegakan sanksi justru menentukan apakah “deal” menjadi damai atau jeda sementara.
Bahasa Zelenskyy lebih teknokratis dan operasional, karena menekankan pertahanan udara, lisensi produksi, dan paket musim dingin sebagai kebutuhan mendesak. Ini menunjukkan Ukraina memandang 2026 sebagai periode bertahan sekaligus menekan, bukan sekadar menunggu negosiasi yang belum jelas ujungnya.
Diplomat Eropa menyebut nada pertemuan konstruktif, sementara Ursula von der Leyen menulis bahwa “arus berbalik” bagi Ukraina karena situasi 2026 berbeda dari 2025. Ia mengklaim Ukraina bertahan di garis depan dan “kelelahan Rusia” mulai tampak, yang menjadi alasan untuk menggandakan dukungan.
Namun, optimisme politik tidak otomatis mengubah realitas logistik, karena pertahanan udara menuntut pasokan berkelanjutan, pelatihan, dan interoperabilitas. Jika komitmen G7 tidak cepat diwujudkan, narasi “arus berbalik” bisa berubah menjadi beban ekspektasi yang memukul moral publik.
Di saat yang sama, G7 juga membahas kesepakatan damai AS-Iran dan makan siang kerja yang fokus pada pembukaan cepat Selat Hormuz serta rute energi alternatif yang melewati jalur itu. Macron menegaskan prioritasnya adalah memastikan ada perjanjian yang “solid, serius, dan difinalisasi,” sambil menyatakan Prancis dan mitra Barat siap bertindak cepat untuk membantu pembukaan selat secara damai.
Trump menyatakan Selat Hormuz akan “sepenuhnya terbuka” pada Jumat, bertepatan dengan penandatanganan formal perjanjian di Jenewa setelah penandatanganan digital pada Senin. Perjanjian itu diperkirakan membuka jendela 60 hari untuk negosiasi kompleks, termasuk isu uranium yang diperkaya tinggi dan pencabutan sanksi, yang menurut Trump tahap keduanya “sebenarnya akan lebih mudah.”
Penggabungan agenda Ukraina dan Hormuz memperlihatkan satu benang merah, yakni keamanan sebagai prasyarat stabilitas ekonomi, terutama energi. Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan minyak global, sehingga “membuka selat” bukan sekadar isu maritim, tetapi alat menekan inflasi dan menjaga pasokan.
Trump menawarkan gaya negosiasi berbasis klaim kemampuan personal, tetapi perang Ukraina menuntut arsitektur perdamaian yang dapat diuji, bukan hanya retorika. Ketika ia mengatakan “akan melakukan apa pun,” publik perlu bertanya, “apa” itu, dan “siapa” yang menanggung biayanya.
Komitmen pertahanan udara dan lisensi produksi yang disebut Zelenskyy lebih konkret daripada slogan “deal,” karena menyasar kebutuhan yang bisa diukur dan diaudit. Tetapi, dukungan militer tanpa jalur diplomasi yang kredibel juga berisiko memanjangkan perang, jika tidak disertai strategi keluar yang realistis.
Di sisi lain, dorongan membuka Selat Hormuz menunjukkan bagaimana prioritas energi dapat mempengaruhi tempo diplomasi global. Jika negosiasi Iran berjalan mulus dan sanksi melonggar, peta harga energi bisa berubah, dan itu akan ikut mempengaruhi kemampuan Eropa dan AS membiayai dukungan untuk Ukraina.
Di sinilah ketegangan politik muncul, karena publik Barat sering menilai perang lewat biaya hidup, bukan peta medan. Perdamaian yang “cepat” bisa menggoda secara elektoral, tetapi perdamaian yang rapuh dapat memproduksi konflik baru yang lebih mahal.
KTT G7 di Prancis memperlihatkan dua front yang saling terkait, yakni perang Rusia-Ukraina dan stabilitas Selat Hormuz, dengan Trump dan Macron menempatkan “kesepakatan” sebagai kata kunci. Zelenskyy menuntut implementasi nyata, karena bagi Ukraina, pertahanan udara dan pasokan musim dingin adalah garis hidup, bukan sekadar agenda diplomasi.
Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi menentukan, apakah dunia sedang membangun perdamaian yang dapat dipertahankan, atau hanya menambal krisis agar pasar dan politik domestik tetap tenang. Jika “deal” menjadi tujuan, maka ukuran keberhasilannya bukan konferensi pers, melainkan berkurangnya korban, terjaganya kedaulatan, dan stabilitas yang tidak bergantung pada satu pemimpin saja. (Orbit dari berbagai sumber, 20 Juni 2026)