Program Kesehatan Gigi Anak Yogyakarta: Cegah Karies Sejak SD
ORBITINDONESIA.COM – Program kesehatan gigi anak Yogyakarta kembali ditegaskan: cegah karies sejak SD, bukan menunggu sakit. Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menyebut edukasi self care dan aplikasi fluoride di sekolah sebagai langkah dini yang harus diperluas.
Karies gigi pada anak kerap dianggap sepele sampai rasa nyeri mengganggu makan, tidur, dan belajar. Padahal, masalah gigi dan mulut adalah isu kualitas hidup yang dampaknya merembet ke prestasi sekolah dan kesehatan umum.
Di SD Muhammadiyah Pakel, kegiatan Solve Caries menghadirkan edukasi, pemeriksaan, dan aplikasi fluoride sebagai pencegahan. Pemerintah Kota Yogyakarta memosisikan sekolah sebagai pintu masuk program promotif dan preventif yang lebih sistematis.
Wawan Harmawan menekankan kolaborasi pemerintah, sekolah, organisasi profesi, dan swasta sebagai kunci memperluas manfaat. Ia mengapresiasi PDGI Kota Yogyakarta serta Solventum bersama Cobra Dental yang turun langsung ke lingkungan sekolah.
Pola kebijakan kesehatan publik sering terjebak pada kuratif, yaitu bergerak setelah keluhan muncul. Padahal, pencegahan karies lebih murah, lebih mudah, dan lebih adil karena menjangkau anak sebelum rasa sakit memaksa keluarga mengeluarkan biaya.
PDGI Kota Yogyakarta menegaskan karies berkaitan erat dengan kebiasaan harian. Ketua PDGI Kota Yogyakarta, drg. Regia Aristiyanto, menyebut sekolah adalah ruang strategis untuk membentuk perilaku sehat sejak dini.
Regia mengingatkan dampak karies tidak berhenti pada gigi berlubang. Ia menyebut karies dapat menurunkan fungsi pengunyahan, mengganggu estetika, dan berisiko memicu infeksi yang menyebar ke organ lain.
Riset global juga memperkuat urgensi ini. WHO menempatkan karies gigi sebagai penyakit tidak menular yang paling umum di dunia, dan pada anak sekolah beban penyakitnya tinggi karena konsumsi gula serta kebiasaan menyikat gigi yang tidak konsisten.
Di titik ini, fluoride menjadi intervensi yang masuk akal bila disertai edukasi yang benar. Fluoride efektif mencegah karies, tetapi dampaknya maksimal ketika anak juga rutin menyikat gigi dua kali sehari dan membatasi makanan-minuman manis.
Kepala SD Muhammadiyah Pakel Program Khusus, Arif Rahman Hakim, menyoroti sisi yang sering dilupakan: sakit gigi bisa melumpuhkan aktivitas anak. Ia menyebut nyeri gigi dapat mengganggu kegiatan belajar, sehingga pencegahan di sekolah dan rumah harus berjalan bersamaan.
Program kesehatan gigi anak Yogyakarta akan kuat jika tidak berhenti sebagai agenda seremonial sekali datang lalu selesai. Yang dibutuhkan adalah ritme layanan, yakni skrining berkala, rujukan jelas, dan pelacakan tindak lanjut bagi anak yang sudah terdeteksi bermasalah.
Wawan sudah memberi sinyal penting: program tidak cukup di SD, tetapi bisa diperluas sampai kelurahan. Ini relevan, karena kebiasaan makan dan pola asuh terjadi di rumah, bukan di ruang kelas.
Namun kolaborasi lintas pihak perlu diikat oleh target yang terukur. Pemerintah kota dapat menetapkan indikator sederhana, misalnya cakupan pemeriksaan gigi tahunan, proporsi anak dengan karies aktif, dan kepatuhan sikat gigi dua kali sehari yang dipantau melalui sekolah.
Peran swasta dan organisasi profesi juga harus transparan dan berorientasi kepentingan publik. Donasi alat, edukasi, dan layanan perlu memastikan keberlanjutan, bukan sekadar eksposur merek atau event musiman.
Di sisi lain, orang tua tidak bisa terus menjadi mata rantai yang hilang. Pesan Regia tentang membatasi gula dan disiplin sikat gigi seharusnya diubah menjadi gerakan keluarga, karena anak akan meniru praktik yang konsisten di rumah.
Kasus karies pada anak adalah cermin dari kebiasaan kecil yang dibiarkan menjadi masalah besar. Ketika sekolah, kelurahan, dan keluarga bergerak bersama, pencegahan tidak lagi menjadi slogan, melainkan budaya.
Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah kita mau menunggu anak mengeluh nyeri, atau berinvestasi pada kebiasaan yang membuat mereka tumbuh tanpa takut sakit gigi. Jawaban itu akan terlihat dari seberapa serius kota ini mengubah edukasi menjadi sistem yang rutin, terukur, dan menyentuh rumah tangga.
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)