Fadli Zon Kenang Nasirun, Pameran Galeri Nasional Jadi Penghormatan

RRI.co.id

RRI.co.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenang Nasirun sebagai maestro seni rupa Indonesia, sekaligus menyiapkan pameran di Galeri Nasional Indonesia untuk memperingati 40 hari wafatnya. Rencana pameran Nasirun di Galeri Nasional ini muncul setelah seniman itu berpulang pada 1 Agustus 2026, dan duka itu terasa melampaui lingkar keluarga hingga komunitas seni.

Kepergian Nasirun menyorot satu persoalan klasik dalam ekosistem seni rupa Indonesia: bagaimana negara mengarsipkan, merawat, dan meneruskan warisan seniman besar secara sistematis. Dukacita sering berakhir sebagai seremoni, sementara kerja panjang dokumentasi, kurasi, dan edukasi publik tertinggal di belakang.

Dalam keterangan yang diterima RRI, Fadli menyebut ia mengenal Nasirun lebih dari satu dekade dan merasa kehilangan besar bagi keluarga, rekan, hingga penikmat seni. Ia menegaskan, “Kita telah kehilangan figur luar biasa yang memberi kontribusi signifikan bagi perkembangan seni rupa Indonesia.”

Fadli juga menggambarkan Nasirun sebagai pribadi hangat, inklusif, dan mudah bergaul lintas latar. Rumah dan galerinya disebut sebagai ruang terbuka, tempat orang bertemu, berbincang, dan menyaksikan proses kreatif secara langsung.

Rencana pameran 40 hari di Galeri Nasional Indonesia penting karena memindahkan duka dari ruang privat ke ruang publik yang terkurasi. Pameran semacam ini dapat menjadi “pintu masuk” bagi publik untuk membaca ulang perjalanan estetika Nasirun, bukan hanya mengagumi namanya.

Fadli menekankan akar tradisi dan spiritualitas dalam karya Nasirun, termasuk wayang dan nilai budaya lokal. Penekanan ini relevan karena seni rupa kontemporer Indonesia kerap dipaksa memilih antara pasar global dan identitas lokal, padahal keduanya bisa berdampingan.

Namun pameran tunggal juga menyimpan risiko jika berhenti pada romantisasi “tradisi” tanpa konteks kritis. Kurator perlu menunjukkan bagaimana tradisi dalam karya Nasirun bekerja sebagai bahasa visual yang hidup, bukan sekadar ornamen etnik untuk memuaskan selera nostalgia.

Di banyak negara, memorial exhibition biasanya diikuti penguatan arsip, katalog raisonne9, dan program pendidikan publik yang terukur. Indonesia sering kuat di seremoni, tetapi lemah di tindak lanjut yang memastikan karya seniman dapat diakses peneliti, mahasiswa, dan publik lintas generasi.

Pernyataan istri Nasirun, Supartilah, yang mengapresiasi dukungan dan berharap karya suaminya terus memperkaya seni rupa Indonesia, menyiratkan kebutuhan ekosistem yang lebih berkelanjutan. Penghormatan terbaik bukan hanya panggung pameran, melainkan jaminan bahwa karya, gagasan, dan jejak kreatifnya tidak hilang dalam kabut waktu.

Penghormatan negara kepada Nasirun patut diapresiasi, tetapi ia harus menjadi awal, bukan akhir. Jika pameran di Galeri Nasional hanya menjadi agenda kalender, maka kita sedang merayakan kehilangan tanpa benar-benar merawat warisan.

Nasirun dikenang sebagai sosok yang rumahnya terbuka bagi siapa pun, dan itu adalah etika kebudayaan yang langka. Negara semestinya meniru keterbukaan itu dengan membuka akses arsip, memperluas literasi seni, dan mendukung ruang-ruang seni yang memungkinkan publik belajar tanpa intimidasi.

Karya yang berakar pada wayang dan spiritualitas juga menantang kita untuk tidak menyederhanakan tradisi sebagai slogan. Tradisi adalah kerja tafsir yang terus bergerak, dan seniman seperti Nasirun menunjukkan bahwa “Indonesia” bisa hadir sebagai kedalaman, bukan sekadar label.

Pameran Nasirun di Galeri Nasional Indonesia bisa menjadi momen penting untuk mengukur keseriusan kita merawat seni rupa Indonesia setelah seorang maestro pergi. Ia dapat menjadi ruang perjumpaan baru, tempat publik melihat bahwa seni bukan hanya benda, melainkan percakapan panjang tentang identitas, iman, dan kebudayaan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana namun tajam: setelah lampu pameran dipadamkan, apa yang benar-benar kita wariskan kepada generasi berikutnya. Jika yang tersisa hanya berita duka dan seremoni, maka kita belum belajar dari keterbukaan Nasirun yang “pintunya selalu terbuka” untuk siapa pun.

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Oktober 2026)