Tentara Nasional Suriah Baru: Satu Seragam, Banyak Loyalitas
ORBITINDONESIA.COM – Pembentukan tentara nasional Suriah di era pemerintahan transisi Abu Muhammad al-Jolani tampak rapi di foto resmi, tetapi rapuh di lapangan. Lebih dari 130 faksi sudah “diintegrasikan”, namun banyak unit tetap setia pada komandan lama, wilayah asal, dan jaringan pendanaan mereka. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Menurut laporan yang dikutip Tasnim dari Al-Akhbar (6 September 2026), Kementerian Pertahanan pemerintahan transisi menata lebih dari 130 faksi ke dalam divisi-divisi baru di berbagai provinsi. Targetnya jelas, yakni mengakhiri perpecahan, menertibkan senjata di bawah negara, dan membangun satu komando pusat. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Namun integrasi itu banyak berlangsung sebagai penggantian baju, bukan pembongkaran struktur. Faksi lama masuk sebagai paket utuh bersama personel, komandan, dan pola komando yang sudah mengeras selama perang. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Jejak asal-usul tetap menempel pada penempatan unit. Kelompok dari Idlib dan utara Aleppo mempertahankan ikatan lama, sementara faksi selatan membawa hubungan lokal dan kesukuan yang sulit diputus. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Perang membentuk logika loyalitas yang berbeda dari logika negara. Seorang petempur yang bertahun-tahun hidup dari figur komandan, donatur, dan komunitas setempat tidak otomatis berubah menjadi prajurit nasional hanya karena seragamnya seragam. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Masalah inti tentara nasional Suriah baru adalah integrasi tanpa rekonstruksi. Jika faksi dipindahkan menjadi brigade dengan komandan yang sama, maka yang terjadi adalah legalisasi jaringan lama di bawah stempel negara. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Laporan Al-Akhbar menekankan keragaman ekstrem dalam komposisi pasukan. Di dalamnya ada kelompok ekstremis yang disebut “teroris” oleh sumber, faksi yang lama beroperasi dengan dukungan Turki, kelompok kesukuan, mantan perwira rezim sebelumnya, hingga unsur asing yang komandannya masuk ke struktur baru. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Keragaman itu tidak otomatis buruk, tetapi berbahaya bila tanpa pelatihan terpadu dan doktrin bersama. Al-Akhbar menyebut belum terlihat proses pendidikan militer jangka panjang yang menyatukan cara pikir, standar disiplin, dan aturan keterlibatan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Suriah juga belum memiliki doktrin militer resmi yang menjawab pertanyaan dasar. Negara belum tegas mendefinisikan sumber ancaman, relasi sipil-militer, peran tentara dalam konflik domestik, dan sikap terhadap wilayah yang memiliki kekuatan bersenjata sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Tanpa konstitusi permanen serta strategi keamanan dan pertahanan nasional, tentara baru berjalan di ruang abu-abu. Dalam ruang seperti ini, keputusan sering ditentukan oleh keseimbangan kekuatan lapangan, bukan oleh aturan institusi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Kesepakatan Damaskus dengan SDF memperlihatkan pola kompromi yang semakin dilembagakan. Pemerintahan transisi awalnya ingin membubarkan SDF dan menyebar personelnya ke berbagai unit, tetapi kemudian menerima formula divisi berisi tiga brigade Kurdi plus satu brigade khusus Kobani. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Secara administratif, SDF tidak lagi berdiri sebagai faksi independen. Namun secara operasional, mereka tetap terkonsentrasi di wilayah utama dan mempertahankan komposisi yang dominan Kurdi, sehingga logika “unit berbasis wilayah” tetap hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Model serupa disebut berpotensi muncul di Suwayda. Laporan Al-Akhbar mengaitkannya dengan posisi Garda Nasional yang terkait Syekh Hikmat al-Hijri, serta keterbatasan kontrol pemerintah transisi di selatan dan berlanjutnya pendudukan Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Bila pola ini meluas, tentara nasional Suriah baru akan menyerupai federasi bersenjata. Negara hadir lewat seragam dan pangkat, tetapi kendali efektif tetap tersebar pada kantong-kantong kekuatan lokal. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Masalahnya bukan sekadar “banyak faksi”, melainkan “banyak pusat loyalitas”. Tentara nasional Suriah baru berisiko menjadi payung legal bagi milisi yang hanya menukar identitas, bukan menukar kesetiaan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Pemberian pangkat resmi kepada komandan lama dapat menenangkan mereka, tetapi juga mengunci patronase ke dalam negara. Negara akhirnya bergantung pada orang yang seharusnya ia disiplinkan, dan disiplin berubah menjadi negosiasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Ketika doktrin belum ada, senjata menjadi bahasa politik yang paling fasih. Setiap krisis lokal dapat memanggil kembali memori perang, lalu unit “nasional” bertindak sebagai perpanjangan kepentingan wilayah, suku, atau sponsor. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Campur tangan asing memperdalam masalah rantai komando. Selama sebagian unit merasa punya “jalur dukungan” di luar Damaskus, komando pusat akan selalu bersaing dengan telepon dari luar negeri. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Namun membubarkan faksi secara paksa juga bukan resep instan. Pemerintahan transisi tampaknya memilih stabilitas jangka pendek melalui kompromi, meski itu menunda lahirnya institusi militer yang benar-benar tunggal. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Tentara nasional Suriah baru mungkin terlihat menyatu, tetapi fondasinya masih kompromi di atas peta kekuasaan yang belum stabil. Tanpa pembongkaran aliansi faksional, penataan ulang personel, standardisasi pendidikan dan persenjataan, serta rantai komando yang bebas dari ketergantungan asing, “negara” hanya menjadi label pada kekuatan lama. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)
Pertanyaan terpentingnya sederhana dan keras, yakni siapa yang benar-benar memegang ketaatan prajurit ketika krisis datang. Jika jawabannya masih komandan lama dan loyalitas lokal, maka Suriah sedang membangun tentara yang seragamnya nasional, tetapi nalurinya tetap milisi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 September 2026)