Hampir Dua Bulan Disandera di Somalia, Keluarga Kapten MT Honour 25 Mohon Doa dan Perhatian Pemerintah
ORBITINDONESIA.COM – Keluarga Ashari Samadikun, Kapten Kapal MT Honour 25 yang hingga kini masih disandera setelah kapal tersebut dibajak di perairan Somalia, memohon doa dan dukungan masyarakat Indonesia agar seluruh awak kapal dapat segera dibebaskan dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.
Permohonan itu disampaikan orang tua Ashari Samadikun melalui pesan yang beredar di berbagai grup WhatsApp dan media sosial. Dalam pesan tersebut, keluarga mengungkapkan harapan agar masyarakat turut mendoakan keselamatan Ashari beserta seluruh awak kapal yang masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian.
"Dengan segala kerendahan hati, kami memohon doa agar Allah SWT senantiasa melindungi anak kami, memberikan kekuatan dan ketabahan, serta membuka jalan agar ia dan seluruh awak kapal dapat segera dibebaskan dan kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan selamat," tulis keluarga.
Selain memohon doa, keluarga juga berharap informasi mengenai penyanderaan MT Honour 25 dapat sampai kepada para pejabat dan pihak-pihak yang berwenang, sehingga upaya pembebasan awak kapal dapat segera dilakukan.
"Kami memohon bantuan kepada siapa saja yang memiliki akses atau kesempatan untuk menyampaikan informasi ini kepada pihak-pihak terkait, bahkan jika memungkinkan hingga kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, agar musibah yang dialami anak kami dan seluruh awak kapal mendapatkan perhatian serta bantuan," lanjut pesan tersebut.
Permohonan keluarga itu muncul di tengah belum adanya kepastian mengenai kapan para sandera akan dibebaskan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, MT Honour 25 dibajak perompak Somalia di sekitar wilayah Hafun pada 21 hingga 22 April 2026. Kapal tanker tersebut membawa sekitar 16 hingga 17 awak kapal dari berbagai negara, termasuk empat warga negara Indonesia.
Salah satu WNI yang berada di atas kapal adalah Kapten Ashari Samadikun. Sejak pembajakan terjadi, keluarga para awak kapal terus menanti kabar baik mengenai proses pembebasan mereka.
Pemerintah Indonesia menyatakan terus melakukan berbagai upaya diplomasi dan negosiasi. Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengungkapkan bahwa pemerintah telah menjalin komunikasi langsung dengan kelompok pembajak melalui berbagai jalur yang tersedia.
Kementerian Luar Negeri juga melibatkan sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk KBRI Nairobi, KBRI Islamabad, dan KJRI Karachi, untuk membantu penanganan kasus tersebut.
Selain berkoordinasi dengan otoritas Somalia, pemerintah juga menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat setempat dan berbagai pihak yang memiliki pengaruh dalam proses negosiasi.
Hingga pertengahan Juni 2026, belum ada pengumuman resmi mengenai pembebasan para sandera. Namun pemerintah memastikan bahwa upaya diplomasi dan komunikasi terus dilakukan untuk menjamin keselamatan seluruh awak kapal.
Di sisi lain, laporan sejumlah media internasional menyebutkan kondisi para awak kapal semakin memprihatinkan. Keluarga awak kapal asal Pakistan yang juga berada di atas MT Honour 25 mengungkapkan bahwa persediaan makanan, obat-obatan, dan air bersih di kapal semakin terbatas.
Mereka mengaku khawatir terhadap kondisi kesehatan para sandera yang telah berada dalam penyanderaan selama berminggu-minggu.
Kasus MT Honour 25 menjadi perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya kembali aktivitas perompakan di perairan Somalia. Setelah sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lembaga keamanan maritim internasional mencatat adanya kebangkitan kembali kelompok perompak di kawasan Tanduk Afrika sepanjang tahun 2026.
Bagi keluarga Ashari Samadikun dan awak kapal lainnya, setiap hari yang berlalu menjadi penantian panjang yang penuh harap.
"Kami mengucapkan terima kasih atas segala doa, perhatian, dan bantuan yang diberikan. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang turut membantu," demikian pesan keluarga.
Kini harapan mereka sederhana: agar Kapten Ashari Samadikun dan seluruh awak MT Honour 25 dapat segera dibebaskan dan kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan selamat.
Naskah ini sudah disusun dengan gaya berita human interest yang lazim digunakan media online, dengan fokus pada sisi keluarga sekaligus memperkuat nilai berita melalui update terbaru mengenai upaya pemerintah dan kondisi para sandera.***