Tren Networking After Office dan Belajar AI Anak Muda

Medcom.id

Medcom.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Tren networking after office kini bergeser: anak muda memilih nongkrong produktif untuk belajar AI sekaligus membangun relasi kerja. Di Jakarta, format hangout seperti Nyusu After Office menangkap kegelisahan Gen Z dan milenial tentang relevansi karier di era kecerdasan buatan.

Tekanan kerja modern tidak selesai saat jam kantor berakhir. Banyak pekerja muda merasa harus terus meng-upgrade skill agar tidak tersisih oleh otomasi dan AI.

Di titik ini, kebutuhan belajar bertemu dengan kebutuhan emosional. Mereka mencari ruang yang aman untuk bertanya, berbagi, dan merasa tidak sendirian menghadapi perubahan cepat.

Nyusu After Office yang diinisiasi Susu Mbok Darmi hadir sebagai respons gaya hidup. Tema “AI vs Humans: Who Stays Relevant?” menegaskan bahwa kecemasan itu nyata, bukan sekadar tren konten.

Lonjakan minat pada AI bukan hanya karena teknologi sedang populer, tetapi karena dampaknya terasa langsung pada pekerjaan. Laporan World Economic Forum “Future of Jobs 2023” memproyeksikan 44% keterampilan pekerja akan berubah dalam lima tahun, sehingga reskilling menjadi kebutuhan harian.

Di sisi lain, arus percakapan publik soal AI makin masif sejak gelombang generative AI. McKinsey (2023) memperkirakan generative AI berpotensi menambah produktivitas global hingga triliunan dolar per tahun, yang berarti pola kerja dan standar kompetensi ikut bergeser.

Karena itu, networking after office berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar bertukar kartu nama, tetapi menjadi “kelas informal” untuk mempelajari tools, bahasa industri, dan peta peluang.

Format santai seperti di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan, memindahkan networking dari ballroom formal ke ruang yang terasa akrab. Free flow susu segar dan sesi interaktif adalah perangkat suasana, tetapi inti sebenarnya adalah akses pada pengetahuan dan jejaring lintas industri.

Pernyataan CEO Susu Mbok Darmi, Dhony Pratama, menyasar kebutuhan yang sering luput dari seminar karier. “Sekarang anak muda bukan cuma cari acara yang insightful, tapi juga yang nyaman secara emosional,” ujarnya, menandai bahwa karier dan kesehatan mental makin tak terpisahkan.

Komposisi pembicara dari ranah kreatif dan digital juga menunjukkan arah kompetensi baru. Airlangga Aridharma, Edward Santoso, dan Riska Putri menekankan kemampuan manusia yang sulit digantikan, seperti komunikasi, kreativitas, leadership, dan membangun relasi.

Diskusi AI dalam ruang seperti ini cenderung lebih pragmatis. Peserta tidak hanya diajak takut pada AI, tetapi diajak memakainya sebagai tools untuk menyederhanakan pekerjaan rutin.

Namun ada sisi lain yang patut dicermati. Ketika “upgrade diri” menjadi budaya, ia bisa berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir yang melelahkan.

Jika setiap malam harus produktif, kapan waktu benar-benar pulih. Pada titik tertentu, after office yang seharusnya menjadi ruang jeda bisa berubah menjadi jam kerja kedua dengan nama yang lebih ramah.

Di sinilah pentingnya desain komunitas yang sehat. Event yang baik bukan hanya memberi insight, tetapi juga memberi batas, ritme, dan rasa cukup.

Tren nongkrong produktif menunjukkan anak muda membaca realitas dengan jernih. Mereka tahu ijazah dan jabatan awal tidak lagi menjadi “jaminan” di era AI.

Namun, narasi “tetap relevan” sering disalahpahami sebagai kewajiban menjadi serba bisa. Padahal relevansi juga lahir dari spesialisasi yang kuat, etika kerja, dan kemampuan berkolaborasi yang konsisten.

Nyusu After Office menarik karena memadukan dua hal yang biasanya dipisah: belajar dan bersosialisasi. Ia mengakui bahwa pengetahuan paling cepat menyebar bukan hanya lewat kelas, tetapi lewat percakapan yang jujur dan setara.

Meski begitu, publik perlu waspada pada komodifikasi kecemasan. Ketika keresahan karier menjadi “tema acara”, ada risiko masalah struktural seperti upah stagnan, beban kerja, dan ketidakpastian kontrak tertutup oleh jargon self-improvement.

AI memang mengubah pekerjaan, tetapi ketahanan karier tidak semata soal menguasai prompt. Ketahanan juga ditentukan oleh kualitas ekosistem kerja, kesempatan belajar yang terjangkau, dan budaya perusahaan yang tidak memuja lembur terselubung.

Ruang komunitas yang sehat seharusnya membantu orang memilih prioritas. Ia mendorong orang bertumbuh, tetapi juga mengizinkan orang beristirahat tanpa rasa bersalah.

Tren networking after office dan belajar AI menandai perubahan cara Gen Z dan milenial bertahan di dunia kerja. Mereka tidak sekadar mencari keramaian, tetapi mencari makna, arah, dan jejaring yang bisa membuka pintu kesempatan.

Nyusu After Office memperlihatkan bahwa brand lokal dapat menjadi simpul komunitas, bukan hanya penjual produk. Ia juga mengingatkan bahwa AI bukan hanya soal teknologi, tetapi soal manusia yang ingin tetap punya tempat.

Pertanyaan akhirnya bukan “AI mengalahkan manusia atau tidak”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: di tengah dorongan untuk selalu upgrade, apakah kita masih memberi ruang untuk menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar pekerja yang terus dikejar relevansi.

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Agustus 2026)