Ebola Bundibugyo di Bunia: Pemakaman Aman, Duka, dan Misinformasi
ORBITINDONESIA.COM – Wabah Ebola Bundibugyo di Bunia mengubah pemakaman menjadi sunyi dan serba cepat. Joel Lonza Makumbu datang untuk keenam kalinya, mengubur ayah kemarin dan ibunya hari ini, lalu berkata, “Ebola itu nyata.”
Pemakaman Nyamurongo di Bunia, timur laut Republik Demokratik Kongo, mendadak jauh lebih sibuk dari biasanya. Bunia berada di pusat wabah saat ini, dan otoritas kesehatan berjuang melawan kabar bohong yang menyertai ketakutan.
Dalam beberapa bulan terakhir, wabah ini telah menewaskan hampir 200 orang, terutama di Provinsi Ituri. Jenis yang beredar adalah Bundibugyo, spesies Ebola yang lebih jarang dan disebut membunuh sekitar seperempat dari mereka yang terinfeksi.
Ebola menular lewat kontak cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, urin, muntah, semen, dan ASI. Karena itu, protokol ketat dan pemakaman aman menjadi garis pertahanan paling menentukan.
Masalahnya, pemakaman bukan sekadar prosedur medis, melainkan ritual sosial yang sarat makna. Ketika ritual dipangkas, duka mudah berubah menjadi curiga, dan curiga mudah menjadi penolakan.
Di Nyamurongo, penggali kubur menyebut ada sekitar 15 keluarga yang hadir pada hari yang sama. Namun kerumunan, nyanyian, dan upacara panjang hampir lenyap, seolah wabah tidak hanya membunuh orang, tetapi juga menghentikan bahasa kolektif untuk berduka.
Praktik tradisional memandikan jenazah oleh keluarga kini sangat dilarang karena risiko penularan. Larangan ini masuk akal secara epidemiologis, tetapi terasa seperti merampas hak terakhir keluarga untuk merawat orang tercinta.
Antropolog WHO, Julienne Anoko, menjelaskan bahwa di Ituri jenazah biasanya didandani rapi, dan ritus dapat berlangsung beberapa hari. Banyak komunitas percaya orang mati harus tampil terbaik karena sedang “melakukan perjalanan dari satu dunia ke dunia lain, ke dunia para leluhur.”
Dalam kasus kematian akibat Ebola, jenazah harus segera dimasukkan ke kantong jenazah kedap bocor untuk dimakamkan. Benturan terjadi di titik ini, karena kecepatan dan penyegelan terlihat seperti penghilangan martabat, padahal tujuan utamanya pencegahan infeksi.
Koordinator darurat kesehatan publik IFRC, Maria Munoz-Bertrand, menyebut pendekatan kini berusaha lebih akomodatif tanpa mengorbankan keselamatan. Di Ituri, peti mati dipakai dengan kantong jenazah di dalamnya, dan peti memiliki panel transparan agar pelayat dapat melihat.
Perubahan juga dilakukan pada kantong jenazah, yang kini diberi film bening di bagian atas agar wajah bisa terlihat. Ini tampak sederhana, tetapi secara psikologis dapat mengurangi rasa “dirampas” dari momen perpisahan.
Munoz-Bertrand menekankan pentingnya persetujuan dan keterlibatan komunitas. Ia mengatakan, selama permintaan keluarga tidak melanggar pencegahan dan pengendalian infeksi serta tidak membahayakan orang lain, tim akan berusaha mengakomodasi.
Peliputan proses pemakaman menunjukkan betapa logistik kesehatan publik kini menyerupai operasi militer yang sunyi. Di luar pusat perawatan Ebola, tenda berfungsi sebagai zona transit, petugas dengan APD lengkap menyegel kantong jenazah ke dalam peti, lalu jalur mereka didesinfeksi.
Tim IFRC yang juga memakai APD masuk dari sisi lain untuk mengangkut peti ke truk. Keluarga menunggu di pinggir jalan, menatap dari jauh, seolah kedekatan fisik telah menjadi kemewahan yang dilarang.
Jenazah yang diantar hari itu adalah ibu 34 tahun dengan empat anak. Ayahnya, Simone Nyal, menyebutnya “pukulan besar,” karena putrinya hanya sakit seminggu sebelum meninggal dan kini meninggalkan empat anak yang masa depannya tak jelas.
Di pemakaman, prosesnya selesai kurang dari 10 menit. Kecepatan ini menyelamatkan yang hidup, tetapi juga meninggalkan duka yang terasa belum sempat “diproses” oleh keluarga.
Anoko menyebut kerja paling sulit bukan sekadar menjelaskan sains, melainkan “membuat keluarga menerima yang tak dapat diterima.” Kadang negosiasi bisa memakan tiga hari, karena ia harus memakai pengetahuan budaya untuk mengubah penolakan menjadi kesediaan.
Skenario paling menantang adalah pemakaman perempuan hamil. Kepercayaan setempat menyatakan perempuan hamil tidak boleh dikubur dengan janin di dalamnya karena harus “bepergian ringan” menuju alam baka.
Secara tradisi, janin bisa dikeluarkan lalu dikubur terpisah atau bersama di liang yang sama. Namun tindakan itu berarti kontak dengan banyak cairan, yaitu jalur penularan Ebola yang paling berbahaya.
Di titik genting inilah antropologi menjadi alat keselamatan. Anoko merujuk pada gagasan bahwa leluhur punya “pandangan ke depan,” lalu membingkai protokol aman sebagai bentuk kebijaksanaan yang tetap sejalan dengan nilai komunitas.
Kasus Bunia memperlihatkan bahwa wabah tidak hanya krisis kesehatan, tetapi juga krisis kepercayaan. Ketika keluarga hanya melihat petugas ber-APD, cairan disemprot, dan peti disegel, mereka bisa merasa negara hadir sebagai kekuatan yang dingin, bukan pelindung.
Namun adaptasi seperti panel transparan dan kantong jenazah berfilm bening menunjukkan ruang kompromi itu ada. Ini menegaskan bahwa strategi pengendalian wabah yang efektif bukan yang paling keras, melainkan yang paling mampu diterima tanpa mengurangi perlindungan.
Pesan Joel, “Ebola itu nyata,” terdengar sederhana, tetapi justru itulah inti perang melawan misinformasi. Di banyak wabah, kekalahan bukan terjadi karena kurangnya pengetahuan medis, melainkan karena informasi tidak dipercaya atau tidak terasa manusiawi.
Protokol pemakaman aman sering dipersepsikan sebagai penghapusan budaya, padahal ia adalah upaya memutus rantai penularan. Tantangannya adalah bagaimana protokol itu tampil sebagai bentuk penghormatan, bukan sekadar pembatasan.
Di Bunia, jembatan antara sains dan budaya dibangun lewat kerja yang tidak glamor: mendengar, berbelasungkawa, dan bernegosiasi. Ketika keluarga diberi ruang untuk melihat wajah, memilih detail yang aman, dan memahami alasan, kepatuhan berubah dari keterpaksaan menjadi kesadaran.
Pelajaran besarnya jelas, wabah menuntut lebih dari APD dan disinfektan. Ia menuntut kehadiran sosial yang membuat orang merasa diperlakukan sebagai keluarga yang berduka, bukan sebagai risiko yang harus dikendalikan.
Di Nyamurongo, Joel menutup tanah di atas makam ibunya dan takut harus kembali untuk ketujuh kalinya. Ia masih punya kerabat di pusat perawatan, dan masa depan baginya adalah ruang penuh ketidakpastian.
Wabah Ebola Bundibugyo menguji ketahanan sistem kesehatan sekaligus ketahanan makna dalam masyarakat. Pertanyaannya, bisakah kita menyelamatkan nyawa tanpa mematikan cara manusia memberi hormat pada kematian, dan bisakah kepercayaan dipulihkan sebelum kuburan makin penuh? (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)