Saham SpaceX Turun, Isu Obligasi $20 Miliar Guncang Investor
ORBITINDONESIA.COM – Saham SpaceX turun 3,6% pada Kamis, memperpanjang penurunan dua hari berturut-turut sejak debut perdagangan publiknya. Pasar membaca satu sinyal utama: kabar SpaceX mempertimbangkan penerbitan obligasi hingga US$20 miliar.
Pada sesi Kamis yang volatil, saham SpaceX sempat bergerak dari puncak US$189 hingga dasar US$172,11 sebelum ditutup di US$185. Pada hari yang sama, S&P 500 naik 1,1% dan Dow naik 0,1%, menegaskan pelemahan SpaceX lebih spesifik perusahaan.
Sehari sebelumnya, saham SpaceX sudah turun 5% dan ditutup di US$191,82, menandai “hari merah” pertama sejak listing. Sebelumnya, saham sempat naik tiga hari beruntun hingga US$225,64, atau melonjak 67% dari harga IPO US$135.
Kondisi pasar pada Rabu juga tidak ramah, karena Nasdaq Composite turun 1,3% setelah The Fed menahan suku bunga dan data penjualan ritel menunjukkan pelemahan belanja diskresioner. Namun, untuk emiten baru seperti SpaceX, faktor teknis dan narasi sering lebih dominan daripada sentimen indeks.
SpaceX masih “saham baru”, sehingga harga mudah dipengaruhi hal non-fundamental seperti pembukaan perdagangan opsi dan pembelian dari ETF pasif. Arus dana semacam ini bisa mendorong euforia cepat, lalu memicu koreksi cepat ketika pasokan saham terbatas.
Bloomberg melaporkan SpaceX mempertimbangkan penawaran obligasi US$20 miliar, meski perusahaan belum memberi komentar. Jika benar, langkah ini menegaskan kebutuhan modal sangat besar untuk membangun bisnis roket dan kecerdasan buatan yang digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan berikutnya.
Utang sering memicu kekhawatiran investor karena menambah beban bunga dan risiko eksekusi, terutama di perusahaan yang masih agresif membakar modal. Namun, Wall Street justru terlihat tetap optimistis, seolah utang hanya “bahan bakar tambahan” untuk ekspansi.
Zephirin Group bahkan menyebut ada “ketidakseimbangan suplai-permintaan yang kurang dihargai” dan menilai saham bisa mencapai US$310 selama ketimpangan itu bertahan. Mereka menyoroti hanya sekitar 640 juta saham yang tersedia untuk diperdagangkan, sementara 300+ dana pelacak indeks mengincar eksposur SpaceX.
Target tersebut kemudian dilampaui oleh analis Arete, Andrew Beale, yang memberi rating Buy dan target harga US$401. Beale menilai peluang besar datang dari Starlink versi 3, yang disebut jauh lebih kapabel daripada versi 2, menurut agregator rating.
Starlink v3 dikabarkan berukuran lebih besar dan membutuhkan peluncuran dengan Starship, sistem roket besar yang sepenuhnya dapat digunakan ulang dan masih dalam pengembangan. Artinya, tesis bull ini bukan hanya tentang satelit, tetapi juga tentang keberhasilan Starship sebagai prasyarat produksi dan peluncuran skala masif.
Target US$401 itu menyiratkan valuasi sekitar US$5,3 triliun, atau sekitar 80 kali estimasi penjualan 2027. Angka ini menempatkan SpaceX dalam liga valuasi yang biasanya hanya muncul ketika pasar percaya pada dominasi infrastruktur global dan efek jaringan.
Di balik cerita “saham SpaceX turun”, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah definisi baru tentang nilai: apakah pasar menilai pendapatan saat ini, atau masa depan yang nyaris fiksi ilmiah. Ketika target valuasi menembus triliunan dolar, narasi sering mengalahkan laporan laba rugi.
Isu obligasi US$20 miliar bisa dibaca dua arah: tanda kekuatan akses modal, atau tanda kebutuhan dana yang tak kunjung selesai. Investor yang takut utang melihat risiko, tetapi investor yang mengejar pertumbuhan melihat percepatan.
Masalahnya, “ketidakseimbangan suplai” bukan fondasi bisnis, melainkan kondisi pasar yang bisa berubah cepat ketika lock-up berakhir atau pasokan saham bertambah. Jika harga digerakkan oleh kelangkaan, bukan kinerja, volatilitas akan menjadi harga yang harus dibayar.
Starlink v3 dan Starship juga membawa risiko eksekusi yang brutal, karena skala produksi, regulasi spektrum, kompetisi satelit, hingga keselamatan peluncuran saling terkait. Satu bottleneck saja bisa menggeser timeline, dan timeline adalah segalanya dalam valuasi 80x penjualan.
Kalimat “ekspektasi saham sampai ke bulan” terdengar puitis, tetapi juga peringatan. Pasar kerap menghukum keras ketika harapan terlanjur terbang lebih cepat daripada realisasi.
Penurunan dua hari SpaceX lebih mirip koreksi euforia daripada perubahan nasib, tetapi sinyalnya jelas: investor mulai menimbang biaya pertumbuhan. Kabar obligasi US$20 miliar membuat pertanyaan menjadi lebih tajam, bukan sekadar “seberapa tinggi bisa naik,” melainkan “seberapa mahal pembuktiannya.”
Jika Starlink v3 dan Starship benar-benar membuka lompatan kapasitas, valuasi raksasa mungkin terasa masuk akal di masa depan. Namun bila eksekusi tersendat, pasar akan mengingat bahwa kisah besar tetap membutuhkan angka yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, saham SpaceX menguji satu hal yang selalu sama dalam sejarah pasar: kapan mimpi berubah menjadi arus kas, dan kapan arus kas kalah oleh mimpi. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Juni 2026)