Prabowo Serukan Free Palestine di Gontor, Pesan Politik Global

Kompas.com

Kompas.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Seruan Free Palestine Presiden Prabowo Subianto di Gontor mendadak mengubah resepsi 100 tahun pesantren menjadi panggung solidaritas Palestina yang menggema. Di hadapan para duta besar, Prabowo mengepalkan tangan dan mengulang teriakan itu tiga kali, lalu menerima keffiyeh Palestina dari Dubes Abdulfattah Al Sattari.

Momen di Ponorogo itu terjadi saat Prabowo menyapa deretan dubes negara sahabat, termasuk Turkiye, Mesir, Qatar, Kuwait, Sudan, Suriah, Yaman, dan Palestina. Tepuk tangan pecah ketika nama Palestina disebut, seolah menandai isu yang paling emosional di antara daftar diplomatik yang formal.

Indonesia sejak lama memosisikan dukungan bagi Palestina sebagai bagian dari identitas politik luar negeri dan aspirasi publik. Namun, dukungan simbolik sering berhadapan dengan kenyataan bahwa ruang manuver negara non-blok tetap dibatasi oleh peta kekuatan global dan jejaring ekonomi.

Karena itu, ketika kepala negara meneriakkan slogan yang lazim hadir di jalanan atau mimbar aktivisme, pesan yang terbaca bukan hanya empati. Ia juga sinyal bahwa isu Palestina kembali dipakai sebagai bahasa moral yang mudah menyatukan massa, terutama di ruang-ruang keagamaan.

Prabowo menjelaskan alasannya secara terbuka: “Saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus.” Kalimat itu mengunci narasi pada penderitaan sipil, bukan pada kalkulasi geopolitik yang rumit.

Secara retorik, teriakan “Free Palestine” bekerja sebagai ringkasan konflik yang panjang dan melelahkan untuk dijelaskan. Dalam komunikasi politik, slogan yang diulang dan disambut serempak menciptakan rasa kebersamaan yang instan, lalu mengubah audiens menjadi komunitas moral.

Gestur keffiyeh yang dipasangkan Dubes Palestina memperkuat visual yang mudah viral dan mudah diingat. Pelukan di panggung menegaskan kedekatan emosional, sekaligus memproduksi citra diplomasi yang personal, bukan sekadar protokol.

Namun, simbol yang kuat memunculkan pertanyaan tentang tindak lanjut yang terukur. Publik biasanya menunggu apakah dukungan itu berujung pada dorongan konkret di forum internasional, penguatan bantuan kemanusiaan, atau inisiatif diplomatik yang konsisten.

Data kemanusiaan dari PBB dan lembaga internasional dalam beberapa tahun terakhir berulang kali menempatkan Gaza dan wilayah Palestina sebagai salah satu krisis paling akut, dari korban sipil hingga kerusakan fasilitas dasar. Ketika pemimpin negara mengutip “dibom” dan “diserang terus-menerus,” ia menggemakan laporan yang sudah lama menjadi konsumsi publik global.

Di sisi lain, politik luar negeri modern menuntut keseimbangan antara sikap moral dan kepentingan nasional. Seruan keras di panggung domestik bisa memperkuat posisi tawar di dunia Islam, tetapi juga menuntut kecermatan agar tidak berhenti sebagai konsumsi internal.

Gontor sebagai latar juga penting untuk dibaca, karena pesantren modern ini punya pengaruh sosial dan jaringan alumni yang luas. Ketika isu Palestina dipanggungkan di ruang pendidikan Islam yang prestisius, resonansinya dapat melampaui acara seremonial dan masuk ke percakapan publik yang lebih panjang.

Seruan Prabowo di Gontor terasa tulus, tetapi ketulusan tidak otomatis cukup dalam politik internasional. Empati harus diterjemahkan menjadi kebijakan, atau ia akan menjadi ritual yang berulang setiap kali kamera menyala dan massa siap bertepuk tangan.

Di sinilah risiko terbesar simbolisme, yakni memuaskan emosi tanpa menambah daya bantu. Jika negara mengakui “seolah-olah kurang berdaya,” maka tugas pemimpin adalah memperluas daya itu, bukan sekadar mengumumkan keterbatasan.

Prabowo sebenarnya membuka pintu untuk agenda yang lebih serius, karena ia mengakui jarak antara simpati dan kemampuan bertindak. Pengakuan itu bisa dibaca sebagai undangan bagi birokrasi diplomasi untuk lebih agresif di jalur kemanusiaan, mediasi, dan koalisi multilateral.

Namun publik juga berhak curiga, karena isu Palestina kerap menjadi komoditas politik yang paling aman dan paling menguntungkan secara elektoral. Ia menyatukan banyak kelompok, menekan perbedaan internal, dan memberi panggung bagi pemimpin untuk tampil sebagai pembela yang tegas.

Jika dukungan pada Palestina ingin keluar dari pola seremonial, maka ukurannya harus jelas dan dapat diuji. Misalnya, peningkatan bantuan yang transparan, dukungan konsisten pada resolusi PBB, serta diplomasi yang tidak hanya keras di mimbar, tetapi juga rapi di meja perundingan.

Di Ponorogo, “Free Palestine” menjadi gema yang menghangatkan hati banyak orang, sekaligus mengingatkan betapa jauhnya jarak antara teriakan dan perubahan. Keffiyeh di pundak presiden adalah simbol yang kuat, tetapi simbol selalu meminta pembuktian.

Pertanyaannya kini sederhana dan menuntut: setelah panggung ditutup, langkah apa yang benar-benar diambil negara agar “kurang berdaya” berubah menjadi “lebih mampu”? Jika solidaritas hanya berhenti pada tepuk tangan, maka yang tersisa hanyalah rasa haru yang cepat menguap. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)