Kampanye Healthy Relationship di Sekolah Dasar, Cegah Kekerasan Sejak Dini

USM TV

USM TV

Wellness

ORBITINDONESIA.COM – Kampanye healthy relationship di lingkungan sekolah digelar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) di SD Negeri Peterongan Semarang, Jumat (22/05/2026). Enam puluh siswa mengikuti sosialisasi yang menekankan relasi sehat, batas diri, dan sikap saling menghormati sejak usia sekolah dasar.

Istilah healthy relationship kerap dianggap isu remaja, padahal pola relasi dibentuk jauh lebih awal melalui pertemanan dan interaksi di kelas. Di sekolah dasar, ejekan, pengucilan, dan normalisasi “bercanda” yang menyakitkan sering luput karena dianggap bagian dari tumbuh kembang.

Padahal, pengalaman sosial pertama di sekolah dapat membentuk cara anak memaknai kuasa, persetujuan, dan empati. Jika sekolah tidak memberi bahasa yang tepat untuk menyebut perilaku yang keliru, anak akan belajar bahwa ketidaknyamanan harus ditelan diam-diam.

Di titik ini, program sosialisasi seperti yang dilakukan mahasiswa USM menjadi relevan sebagai intervensi literasi sosial. Namun, intervensi sekali datang juga berisiko berhenti sebagai acara seremonial tanpa perubahan kebiasaan.

Kegiatan di SD Negeri Peterongan melibatkan 60 siswa, sebuah angka yang memperlihatkan sekolah membuka ruang belajar sosial yang terstruktur. Tema “Healthy Relationship di Lingkungan Sekolah” mengisyaratkan fokus pada relasi sebaya, komunikasi, dan penghormatan terhadap batas personal.

Secara global, UNESCO dalam laporan “Behind the Numbers: Ending School Violence and Bullying” (2019) menyebut sekitar satu dari tiga siswa pernah mengalami perundungan dalam sebulan terakhir. Angka itu menegaskan bahwa kekerasan di sekolah bukan kasus pinggiran, melainkan risiko sistemik yang menuntut pencegahan sejak dini.

Indonesia juga menghadapi tantangan serupa, terlihat dari berulangnya laporan perundungan dan kekerasan berbasis relasi kuasa di sekolah. Karena itu, kampanye healthy relationship seharusnya diposisikan sebagai pendidikan karakter yang terukur, bukan sekadar penyuluhan moral.

Secara komunikasi publik, kampanye akan efektif bila mengubah tiga hal sekaligus: pengetahuan, sikap, dan norma kelompok. Anak perlu tahu contoh konkret perilaku sehat, berani menolak perilaku tidak nyaman, dan melihat teman-temannya juga menilai perilaku buruk sebagai sesuatu yang tidak keren.

Di level sekolah, tantangan terbesar biasanya konsistensi setelah acara selesai. Tanpa penguatan dari guru, wali kelas, dan tata tertib yang jelas, pesan kampanye mudah kalah oleh praktik harian seperti olok-olok yang dibiarkan atau hukuman yang mempermalukan.

Karena itu, ukuran keberhasilan tidak cukup berupa dokumentasi kegiatan, tetapi perubahan indikator kecil yang bisa dipantau. Misalnya, peningkatan pelaporan yang aman, penurunan insiden ejekan berulang, dan adanya mekanisme mediasi yang ramah anak.

Kampanye mahasiswa USM patut dibaca sebagai sinyal bahwa perguruan tinggi bisa hadir sebagai mitra sekolah, bukan sekadar penonton. Namun, kita juga perlu jujur bahwa masalah relasi tidak sehat di sekolah sering berakar pada budaya dewasa yang permisif terhadap kekerasan verbal.

Ketika orang dewasa menyebut perundungan sebagai “dinamika anak-anak”, sekolah sedang mengajari anak untuk meragukan perasaannya sendiri. Dalam konteks itu, kampanye healthy relationship menjadi penting karena memberi kosakata: mana candaan, mana penghinaan, mana batas yang harus dihormati.

Tetapi sudut tajamnya ada di sini: pendidikan relasi sehat tidak bisa berhenti pada anak sebagai target utama. Guru, orang tua, dan sistem disiplin sekolah harus ikut “disekolahkan” agar tidak memproduksi relasi kuasa yang sama, hanya dalam versi yang lebih rapi.

Jika sekolah ingin anak saling menghormati, sekolah juga harus menghormati anak dalam cara menegur dan menilai. Relasi sehat adalah ekosistem, bukan poster, dan kampanye hanya pintu masuk untuk kerja panjang.

Kampanye “Healthy Relationship di Lingkungan Sekolah” di SD Negeri Peterongan menunjukkan pencegahan kekerasan bisa dimulai dari ruang kelas yang paling awal. Kegiatan ini memberi harapan bahwa literasi relasi dapat diajarkan, dilatih, dan dibiasakan.

Namun pertanyaan pentingnya adalah apa yang terjadi pada Senin berikutnya, ketika ejekan kecil kembali muncul dan guru harus memilih: menertawakan atau menata. Jika sekolah berani menata, anak akan belajar bahwa menghormati orang lain bukan slogan, melainkan kebiasaan yang dijaga bersama.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)