Lauren Bennett Meninggal 37 Tahun, Warisan Party Rock Anthem
ORBITINDONESIA.COM – Kabar duka datang dari dunia musik: Lauren Bennett meninggal dunia pada usia 37 tahun, nama yang lekat dengan “Party Rock Anthem” dan grup pop G.R.L. USA Today melaporkan ia wafat pada 29 Mei, namun penyebab kematiannya belum diungkap.
Lauren Bennett dikenal publik sebagai penyanyi yang tampil bersama LMFAO dan GoonRock dalam hit 2011 “Party Rock Anthem”. Ia juga menjadi anggota G.R.L, grup yang sempat vakum setelah kematian rekan satu grup, Simone Battle.
Di luar panggung, Lauren meninggalkan pasangan, aktor sekaligus penari Kenny Wormald, dan putri mereka yang berusia enam tahun, Harlow. Kenny, kelahiran Boston dan kini berusia 41 tahun, ikut memiliki studio tari Playground di London dan Los Angeles bersama koreografer Robin Antin.
Kelahiran Harlow pada September 2019 pernah diumumkan Lauren lewat Instagram dengan kalimat, “Our little baby Harlow is here, and we are so in love @kennywormald.” Sejak itu, Harlow kerap muncul di media sosial keluarga, termasuk unggahan liburan keluarga ke Puglia, Italia, pada September 2025.
Kematian Lauren diumumkan oleh anggota G.R.L dengan pernyataan emosional: “hearts are broken” dan ia akan “deeply missed and forever loved.” Mereka menulis bahwa tawa, cinta, dan kenangan bersama Lauren akan mereka simpan selamanya.
Menurut USA Today, informasi wafatnya merujuk pada catatan Kent and Medway Coroner, dan tanggal kematian disebut 29 Mei. Namun sebab kematian tidak dipublikasikan, sehingga ruang spekulasi mudah terbuka di tengah budaya klik dan rumor.
Dalam karier, Lauren pertama kali dikenal lewat Paradiso Girls, terutama single 2009 “Patron Tequila” yang menampilkan Lil Jon dan sempat masuk tangga lagu di AS dan Kanada. Setelah grup bubar setahun kemudian, ia melanjutkan jalur solo dan memperluas panggungnya.
Puncak eksposur global datang lewat “Party Rock Anthem,” salah satu lagu terbesar 2011 yang memuncaki UK Singles Chart selama empat minggu. Billboard juga menobatkannya sebagai lagu kelima paling sukses sepanjang masa, setelah enam pekan bertahan di nomor satu Hot 100 pada 2011.
Pada 2013, Lauren bergabung dengan G.R.L bersama Paula Van Oppen, Natasha Slayton, Simone Battle, dan Emmalyn Estrada. Lagu “Ugly Heart” menembus posisi 11 UK singles chart pada 2014, dan mereka turut tampil di “Wild Wild Love” milik Pitbull pada tahun yang sama.
Tragedi kematian Simone Battle membuat perjalanan G.R.L terhenti, lalu grup ini kembali pada 2016 dan lagi pada 2020. Rangkaian ini memperlihatkan betapa rapuhnya ekosistem girl group: bertumpu pada chemistry personal, namun rentan runtuh oleh kehilangan satu figur kunci.
Kisah Lauren Bennett mengingatkan bahwa industri musik sering mereduksi manusia menjadi potongan chorus dan angka streaming. Nama “Party Rock Anthem” mudah diingat, tetapi kerja panjang di baliknya—dari Paradiso Girls hingga G.R.L—sering luput dari perhatian.
Ketika penyebab kematian tidak diumumkan, publik seharusnya belajar menahan rasa ingin tahu yang invasif. Duka keluarga tidak boleh menjadi bahan konsumsi, karena batas privasi adalah bentuk penghormatan paling dasar.
Di sisi lain, penghormatan rekan-rekannya menunjukkan satu hal yang lebih penting dari statistik chart: relasi dan jejak emosional. Ungkapan Aria Crescendo, “RIP Lauren my sister my best friend,” menegaskan bahwa kehilangan terbesar sering terjadi di ruang yang tak terlihat kamera.
Lauren Bennett meninggalkan jejak di pop global lewat hit besar dan perjalanan grup yang penuh pasang surut. Ia juga meninggalkan rumah yang nyata: Kenny Wormald dan Harlow, yang kini harus melanjutkan hidup dengan ruang kosong yang tak tergantikan.
Di tengah derasnya berita selebritas, pertanyaan paling manusiawi adalah bagaimana kita mengingat seseorang tanpa menghabisinya menjadi sensasi. Mungkin, cara paling adil adalah mendengar kembali karyanya sambil menjaga empati, karena di balik lagu yang meriah, ada hidup yang rapuh. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juli 2026)