Rokhmin Dahuri: Sumpah Pemuda di Era Bumi yang Makin Panas

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI.  ***

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI. ***

Opini

Oleh Rokhmin Dahuri

ORBITINDONESIA.COM - Pada 28 Oktober 1928, di sebuah gedung di Batavia, para pemuda dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon, dan banyak perkumpulan lain membacakan tiga ikrar: bertanah air satu tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia; berbahasa satu bahasa Indonesia. Di sela kongres pemuda itu, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan gesekan biola yang sangat indah, yang kelak menjadi lagu kebangsaan: Indonesia Raya.

Sembilan puluh delapan tahun kemudian, ikrar itu masih kita peringati setiap tahun. Namun dunia tempat sumpah pemuda itu diikrarkan sudah berubah jauh.

Pada 1928, batas-batas negara adalah garis tegas di peta dan di benak orang. Pinjam istilah Benedict Anderson -- itulah negeri imajiner yang kemudian disebut Indonesia. Dan imajinasi sebuah negara berdaulat dari Sabang sampai Merauke itu kemudian terbentuk dengan fondasi konstitusi dan infrastruktur organisasi yang lengkap.

Tapi bagaimana sumpah pemuda itu menjejak bumi di era digital dan global warming? Hari ini, seorang remaja di Makassar dapat berdebat dengan remaja di Oslo dalam hitungan detik, menonton banjir di Pakistan seolah terjadi di ujung gang, dan menggalang donasi untuk korban badai di Karibia dari layar telepon genggamnya.

Dunia digital tidak mengenal paspor. Pertanyaannya, ketika batas-batas negara itu membaur, ke mana semangat Sumpah Pemuda melangkah?

Jawaban yang menggoda adalah sederhana: ke mana pun jangkauan layar hape kita. Tapi ada jawaban yang lebih mendesak. Sumpah Pemuda harus menjangkau keselamatan dunia. Sebab ancaman terbesar bagi generasi muda hari ini tidak berhenti di perbatasan negara atau wilayah mana pun. Ancamannya berasal dari langit. Dari atmosfer setebal 300 km yang berada di atas bumi.

Atmosfer yang Tak Bernegara

Karbon dioksida yang dilepas cerobong pabrik di satu benua tidak menetap di benua itu. Ia naik, bercampur, dan menyelimuti seluruh bumi.

Sejak Revolusi Industri, pembakaran batu bara, minyak, dan gas serta penggundulan hutan membuat konsentrasi gas rumah kaca melesat

di atmosfer -- naik jauh melampaui batasan alamiah yang dikenal manusia modern. Panas yang seharusnya lepas ke angkasa tertahan, dan bumi pun menghangat.

Akibatnya kini terlihat jelas. Gletser di pegunungan Himalaya, yang menjadi sumber air bagi milyaran orang di Asia Selatan dan Hindustan menyusut dari tahun ke tahun. Lapisan es di Greenland dan Antartika kehilangan massa. Air lelehannya mengalir ke samudra. Permukaan air laut pun naik perlahan dan pasti. Tak terbendung.

Bagi sebagian negara, ini bukan lagi proyeksi di atas kertas. Tuvalu, Kiribati, dan Maladewa kini tengah menghitung sisa waktu daratan mereka. Warga di sejumlah pulau kecil di Pasifik sudah membicarakan bagaimana sebuah bangsa tetap ada ketika tanahnya hilang ditelan air.

Negara-negara dengan garis pantai padat penduduk, dari delta Bangladesh sampai pesisir utara Jawa, berada di barisan terdepan risiko. Badai tropis dan taufan juga bertambah dahsyat. Lautan yang lebih hangat memberi tenaga lebih besar pada badai; hujan menjadi lebih ekstrem; dan korban jiwa jatuh di tempat yang sering kali paling sedikit menyumbang emisi.

The Day After Tomorrow

Banyak di antara kita pertama kali membayangkan kiamat iklim lewat layar lebar. Dalam film The Day After Tomorrow (2004) karya Roland Emmerich, pemanasan global memicu runtuhnya arus laut Atlantik. Dalam hitungan hari, badai raksasa menghantam belahan bumi utara, gelombang pasang menenggelamkan Manhattan, lalu suhu anjlok dan New York membeku.

Jutaan orang bergerak ke selatan. Dan Amerika Serikat, dalam adegan yang ironis, meminta suaka kepada negara-negara yang selama ini dianggap miskin.

Para ilmuwan mengingatkan bahwa film The Day After Tomorrow sangat berlebihan. Perubahan iklim tidak datang dalam hitungan hari, dan es tidak membekukan sebuah kota dalam semalam. Namun ada pelajaran yang tetap berlaku. Pertama, bumi adalah sistem yang saling terhubung: gangguan di satu tempat merambat ke tempat lain. Kedua, ketika bencana besar tiba, batas negara tidak menolong siapa pun. Ketiga, kita mungkin baru bergerak ketika sudah terlambat.

Bedanya, kiamat versi nyata tidak datang sebagai satu adegan dramatis, melainkan sebagai rangkaian kejadian yang terasa biasa: kemarau yang lebih panjang, banjir yang lebih sering, panen yang gagal, kampung yang dikosongkan.

Nasionalisme yang Terkikis di Rumah Sendiri

Hampir setiap musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan menyelimuti langit dengan asap yang menyesakkan. Anak-anak diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan asapnya menyeberang ke negeri tetangga. Pada saat yang sama, hutan yang terbakar melepas karbon dalam jumlah besar, sehingga kita bukan hanya korban tetapi juga ikut menyumbang masalah.

Lalu datang musim hujan dengan wajah lain: banjir bandang dan longsor yang menyapu permukiman lereng-lereng gundul. Bencana besar di Sumatra pada penghujung 2025 mengingatkan kita betapa rapuhnya lanskap yang hutannya telah dikupas demi tambang, perkebunan, dan pembalakan.

Cuaca ekstrem memang memperburuk keadaan, tapi kerusakan hutan di hulu membuat air hujan tak lagi tertahan. Di Jakarta, tanah yang terus turun akibat pengambilan air tanah berlebihan berpadu dengan naiknya laut, dan wacana pemindahan ibu kota menjadi bagian dari jawaban atas krisis yang lebih luas.

Di sinilah nasionalisme kita diuji secara diam-diam. Apa artinya mencintai tanah air jika tanah itu longsor menimbun rumah rakyatnya sendiri? Apa artinya bangga pada kekayaan alam jika hutannya hilang dan sungainya meluap setiap tahun?

Nasionalisme yang hanya hidup dalam upacara dan seruan -- akan rapuh bila tanah, air, dan udara yang menopang kehidupan bangsa dibiarkan rusak. Kerusakan lingkungan, pada akhirnya, adalah pengikisan kedaulatan: negara kehilangan wilayah, warga kehilangan penghidupan, dan kepercayaan pada pengelola negara runtuh.

Greta dan Bahasa Para Pemuda

Di tengah kegetiran itu, ada contoh bagaimana suara muda bisa menembus batas. Pada Agustus 2018, seorang remaja putri Swedia bernama Greta Thunberg -- saat itu berusia 15 tahun -- duduk sendirian di depan gedung parlemen di Stockholm. Ia membawa papan bertuliskan mogok sekolah untuk iklim. Ia tidak memiliki jabatan, organisasi, atau dana. Yang ia punya hanyalah keyakinan bahwa ilmu pengetahuan harus didengar.

Dalam waktu singkat, aksi sunyi itu menjalar menjadi gerakan Fridays for Future. Jutaan pelajar di berbagai benua turun ke jalan setiap Jumat. Thunberg berpidato di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan konferensi iklim dunia, menegur para pemimpin dengan kalimat yang lugas. Kini, pada usia 23 tahun, ia dikenal sebagai salah satu wajah paling berpengaruh dalam gerakan iklim. Ia sendiri kerap menegaskan bahwa gerakan ini jauh lebih besar daripada dirinya.

Kita boleh berbeda pendapat tentang cara dan gaya Thunberg, tetapi ada satu hal yang sulit dibantah: ia menunjukkan bahwa pemuda dapat menjadi penggerak, bukan sekadar penonton sejarah. Dan ia melakukannya dengan perangkat yang sama dengan yang kita genggam: tekad, kata-kata, dan jaringan digital yang tak mengenal batas.

Di negeri sendiri pun ada percikan serupa. Anak-anak muda di berbagai kota menanam mangrove, memilah sampah, menginisiasi gerakan energi surya komunitas, mengadvokasi hutan adat, dan memantau deforestasi lewat citra satelit terbuka. Mereka tidak menunggu perintah, sebagaimana para peserta Kongres Pemuda 1928 tidak menunggu izin dari siapa pun untuk menyatakan sikap.

Menafsir Ulang Tiga Ikrar

Bila Sumpah Pemuda lahir hari ini, bagaimana bunyinya?

Kita tidak perlu mengubah naskah aslinya. Cukup memperluas makna.

Bertumpah darah satu: tanah air kita bukan hanya wilayah administratif, melainkan ekosistem yang menopang hidup. Menjaga hutan, gambut, dan laut adalah wujud paling konkret dari cinta tanah air. Dan tanah air itu sendiri berada di dalam planet yang sama dengan tanah air bangsa lain.

Menyelamatkan Sumatra berarti ikut menyelamatkan iklim dunia, dan sebaliknya.

Berbangsa satu: persatuan tidak berhenti pada identitas kebangsaan. Ada "bangsa" yang lebih luas, yakni sesama penghuni bumi yang akan sama-sama menanggung akibatnya.

Para pemuda 1928 menembus sekat kedaerahan demi sebuah keindonesiaan. Generasi hari ini ditantang menembus sekat kenegaraan demi kemanusiaan yang lebih luas, tanpa melupakan akar kebangsaannya.

Menjunjung bahasa persatuan: bahasa Indonesia dahulu menjadi perekat berbagai suku. Kini kita membutuhkan bahasa bersama yang lain, yaitu bahasa data dan sains. Ketika kebenaran ilmiah tentang iklim diperdebatkan dengan hoaks dan sinisme, tugas generasi muda adalah menjaga bahasa itu tetap jernih, memeriksa fakta, dan menolak disinformasi di ruang digital.

Nasionalisme Baru: Keselamatan Bumi

Nasionalisme lama bertanya: apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa? Nasionalisme baru menambahkan pertanyaan lain: apa yang bisa kita lakukan untuk bumi yang menjadi satu-satunya rumah bagi bangsa-bangsa?

Keduanya tidak bertentangan. Negara yang hutannya terjaga, udaranya bersih, dan pesisirnya terlindungi adalah negara yang kuat. Sebaliknya, negara yang mengorbankan alamnya demi keuntungan jangka pendek sedang menggadaikan masa depan warganya.

Sebagai pemilik salah satu hutan tropis terluas dan negara kepulauan terbesar di dunia,

Indonesia memegang kunci penting bagi karbon global dan sekaligus berada di garis depan. Jika Indonesia mampu menghentikan deforestasi, memulihkan gambut, dan mempercepat transisi energi dengan adil, itu bukan sekadar prestasi nasional, melainkan sumbangan bagi keselamatan bersama.

Sumpah Pemuda 1928 lahir dari keberanian segelintir anak muda yang percaya bahwa yang tampak mustahil -- pembentukan satu bangsa dari ribuan pulau -- ternyata dapat diwujudkan. Hampir satu abad kemudian, kita menghadapi kemustahilan baru: menyatukan umat manusia menghadapi satu ancaman yang tidak mengenal paspor. Ancaman dari langit yang tingginya 300 km dari permukaan laut.

Tidak ada jaminan kita berhasil. Namun sejarah kita mengajarkan bahwa perubahan besar kerap dimulai dari ikrar sederhana yang diucapkan bersama-sama.

Barangkali itulah makna Sumpah Pemuda hari ini: bukan nostalgia, melainkan undangan. Yaitu, kita umat manusia, bertumpah darah satu, tumpah darah satu planet bumi.

Ya. Bumi tidak membutuhkan pahlawan tunggal. Ia membutuhkan jutaan orang muda yang bersumpah, lalu bekerja bersama untuk menyelamatkan dirinya -- planet biru tempah hidup homo sapiens -- spesies tercerdas yang hidup di muka bumi.

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004/Komisi IV DPR RI. ***