Skema IMO Selat Hormuz Dibuka, Iran Ancam Rute Transit Baru

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Skema baru IMO untuk pelayaran Selat Hormuz mulai dijalankan, dan kapal-kapal dilaporkan kembali bergerak di koridor sempit yang jadi nadi perdagangan minyak dunia. Namun Iran melalui IRGC memperingatkan rute transit baru tanpa koordinasi Teheran sebagai tindakan berbahaya, bahkan mengancam konsekuensi bagi kapal yang melanggar.

Selat Hormuz kembali menjadi panggung pertaruhan geopolitik, ketika perang yang pecah sejak 28 Februari membuat ratusan kapal tertahan di Teluk. IMO menyebut inisiatifnya ditujukan untuk mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak, bukan untuk membuka arus masuk baru.

Menurut perkiraan IMO dan pelaku pasar, ada 500 sampai 600 kapal terdampar, termasuk sekitar 100 tanker. Angka itu menggambarkan betapa cepat konflik mengubah jalur logistik menjadi ruang tunggu raksasa.

Di atas kertas, IMO mengaktifkan kembali disiplin pelayaran lewat skema pemisahan lalu lintas yang sudah diadopsi sejak 1968. Di lapangan, bagian tengah selat disebut tidak bisa dipakai karena risiko ranjau, sehingga pilihan rute menyempit dan ketegangan naik.

IMO menyatakan kapal-kapal sudah mulai melewati rencana tersebut, tetapi menolak merinci nama dan jenis kapal yang menyeberang. Analisis Reuters berbasis pelacakan LSEG dan MarineTraffic menyebut sekitar 35 kapal kecil serta lima tanker dan kapal tunda tengah bersiap berlayar.

IMO juga mengingatkan kapal harus menunggu instruksi sebelum melanjutkan, karena area tunggu yang terlalu padat bisa memaksa penundaan demi keselamatan navigasi. Ini menandakan masalahnya bukan sekadar izin lintas, melainkan manajemen risiko di koridor yang rapuh.

Secara operasional, ada dua rute sementara yang mungkin dipakai, yakni rute utara melalui perairan Iran dan rute selatan melalui perairan yang dikoordinasikan Oman atau AS. Ketika bagian tengah selat dinilai berisiko ranjau, pilihan rute berubah dari soal efisiensi menjadi soal selamat.

Kelompok informasi angkatan laut utama sebelumnya mengusulkan koridor alternatif dan mendorong kapal melintas rute selatan dengan transponder AIS aktif. Dalam pemberitahuan mereka, rute selatan di sepanjang perairan teritorial Oman disebut telah dipastikan bebas ranjau dan menjadi rute yang direkomendasikan.

Namun transparansi pelacakan tidak sepenuhnya pulih, karena ada gangguan besar pada sinyal AIS dan ada kapal yang sengaja tidak menampilkan pergerakan saat melintas. Dalam konflik modern, hilangnya sinyal bisa berarti gangguan teknis, bisa pula strategi bertahan.

Data Kpler menunjukkan lalu lintas Hormuz meningkat menjadi rata-rata lebih dari 25 kapal per hari dalam beberapa hari terakhir, dari sekitar 10 sampai 11 kapal per hari sebelumnya. Meski naik, angka itu masih jauh dari rata-rata 125 kapal per hari sebelum perang, sehingga pemulihan masih bersifat parsial.

Yang paling penting, inisiatif IMO tidak mendukung kapal yang ingin masuk Teluk untuk mengambil muatan minyak dari produsen Teluk. Artinya, skema ini lebih mirip jalur evakuasi logistik ketimbang pembukaan normalisasi perdagangan.

Di titik ini, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan alat tawar politik yang menekan pasar energi dan negara pengimpor. Ketika IMO menawarkan kerangka keselamatan, Iran menegaskan kerangka kedaulatan, dan dua logika itu berpotensi berbenturan di air yang sama.

IRGC menyatakan setiap rute transit baru tanpa koordinasi Teheran tidak dapat diterima dan berbahaya, serta mengancam tindakan terhadap kapal yang mengabaikan instruksi. Angkatan Laut IRGC bahkan menegaskan hanya rute yang ditentukan Iran yang diizinkan, dan koordinasi melalui saluran komunikasi mereka bersifat wajib.

Pernyataan itu memperlihatkan satu pesan, bahwa keamanan pelayaran versi Iran adalah keamanan yang dikendalikan Iran. Dalam praktiknya, kontrol semacam ini dapat mengubah “panduan keselamatan” menjadi “izin politik” yang menentukan siapa boleh lewat dan kapan.

Isu biaya lintas memperjelas arah tekanan, karena Iran disebut hendak mengenalkan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. AS menilai langkah itu sebagai upaya memeras perdagangan maritim global, dan narasi ini akan memperlebar jurang diplomatik.

Yang sering luput, ketidakpastian sendiri adalah biaya, karena premi asuransi, ongkos pengamanan, dan keterlambatan rantai pasok akan ikut naik. Pada akhirnya, konsumen global membayar ketegangan yang terjadi ribuan kilometer dari rak belanja mereka.

Skema IMO memberi napas bagi kapal-kapal yang terjebak, tetapi belum memulihkan normalitas karena ancaman ranjau, gangguan AIS, dan persaingan klaim otoritas di lapangan. Selat Hormuz hari ini bergerak dengan logika darurat, bukan logika pasar.

Pertanyaannya bukan hanya apakah kapal bisa lewat, melainkan siapa yang berhak menentukan “jalur aman” dan dengan harga politik apa. Jika koridor pelayaran berubah menjadi instrumen tekanan, dunia perlu menimbang ulang arti keamanan maritim sebagai barang publik global.

Di selat yang sempit, keputusan kecil bisa memicu gelombang besar, dari harga energi hingga stabilitas kawasan. Dan mungkin pelajaran terpentingnya, jalur dagang paling vital di dunia tetap rapuh ketika diplomasi kalah cepat dari eskalasi. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Juli 2026)