Wabah Ebola Kongo Timur: Data Kacau, Perlawanan Warga Menguat

Reuters

Reuters

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Wabah Ebola di Kongo Timur kembali membesar, tetapi skala sebenarnya masih gelap karena celah data, keterlambatan tes, dan penolakan warga yang kadang berujung kekerasan. Dalam sebulan setelah kasus dikonfirmasi, tercatat 782 kasus terkonfirmasi dan 181 kematian, namun banyak pihak menilai angka resmi kemungkinan lebih rendah dari kenyataan.

Reuters melaporkan pada 15 Juni bahwa tiga provinsi terdampak di Republik Demokratik Kongo mencatat 782 kasus Ebola terkonfirmasi dan 181 kematian. Angka itu membuatnya menjadi wabah Ebola paling mematikan ketiga dalam sejarah, tetapi data lapangan disebut masih berlubang.

Medecins Sans Frontieres (MSF) menegaskan “tidak ada yang tahu skala sebenarnya atau persis di mana penyakit menyebar di DRC,” kata Kate White, koordinator medis darurat MSF. Pernyataan ini menggemakan kekhawatiran lembaga bantuan dan sebagian pejabat Kongo bahwa angka pemerintah berpotensi mengerdilkan korban.

Masalahnya bukan sekadar teknis kesehatan, melainkan juga sosial-politik di wilayah yang dilanda konflik bersenjata. Banyak komunitas sulit dijangkau, sementara kecurigaan terhadap petugas kesehatan memicu penolakan terhadap tes, isolasi, dan pemakaman aman.

MSF menyebut pengujian sebagai “salah satu kelemahan paling signifikan” dalam respons wabah Ebola Kongo Timur. Banyak komunitas, terutama yang berada di area konflik aktif, masih tidak memiliki akses memadai ke alat tes, dan pusat perawatan mengalami keterlambatan hasil laboratorium.

Seorang pejabat senior kesehatan masyarakat Kongo mengatakan persoalan lebih dalam daripada tes. Aliran data dari tiga sumber—laboratorium, rumah sakit dan pusat perawatan, serta tim surveilans epidemiologi—sulit diselaraskan sehingga memunculkan distorsi “ke dua arah.”

Distorsi itu bisa berarti penghitungan berlebih ketika pasien berpindah zona kesehatan dan dites lebih dari sekali. Distorsi yang lebih berbahaya adalah penghitungan kurang, ketika orang meninggal di komunitas tanpa pernah tercatat oleh otoritas kesehatan.

Pejabat tersebut bahkan meyakini virus mulai beredar sejak Februari, jauh sebelum pengumuman resmi wabah. Jika benar, maka “keterlambatan pengenalan” menjadi faktor yang memperlebar penyebaran, karena rantai penularan sudah terlanjur bercabang.

Ketimpangan data terlihat jelas di tingkat lokal, terutama di zona kesehatan Nizi, Ituri. Reuters mengutip laporan badan pengungsi PBB bahwa dua orang meninggal di kamp pengungsian pada 31 Mei dan 1 Juni, sementara dokter kepala Nizi Jean-Claude Lonzama menyebut ada 19 kasus positif dan 17 kematian sejak wabah diumumkan.

Namun laporan situasi nasional terbaru pada Minggu hanya mencatat 11 kasus dan satu kematian untuk area yang sama. Dieudonne Mwamba, Direktur Jenderal Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo, mengatakan angka diperbarui secara berkala seiring masuknya informasi baru.

Di luar angka, respons juga diguncang insiden keamanan yang berulang. Pada Minggu, aparat menembakkan tembakan peringatan dan gas air mata di pemakaman Mongbwalu untuk membubarkan massa yang mencoba merebut jenazah tersangka korban Ebola, menurut pejabat dan rekaman yang diverifikasi Reuters.

WHO memperingatkan pada Senin bahwa insiden seperti itu menjadi ancaman di seluruh kawasan. WHO juga menyoroti serangan terhadap tim pemakaman aman di South Kivu dua pekan sebelumnya yang memaksa petugas meninggalkan jenazah sebelum prosedur keselamatan selesai.

Masalah lain yang memperparah adalah pasien melarikan diri dari pusat perawatan atau isolasi. WHO mencatat setidaknya empat insiden semacam itu hingga pekan pertama Juni, yang berarti rantai penularan dapat kembali ke komunitas tanpa pelacakan memadai.

Kapasitas layanan juga tertinggal dari kecepatan penyebaran. WHO menyebut kapasitas rumah sakit untuk merawat dan mengisolasi pasien Ebola masih tidak mencukupi, karena hanya ada 14 fasilitas perawatan dan pusat di sembilan zona kesehatan di Ituri, North Kivu, dan South Kivu.

Padahal wabah sudah mencapai 31 dari setidaknya 90 zona kesehatan di tiga provinsi tersebut. Zona kesehatan adalah wilayah terdefinisi dengan jaringan klinik dan satu rumah sakit rujukan, sehingga perluasan ke 31 zona menandakan risiko penularan lintas komunitas yang lebih luas.

Di Nizi, tidak adanya fasilitas perawatan atau isolasi membuat pasien kembali ke komunitas dan meninggal di sana, kata Lonzama. Ini menciptakan lingkaran setan: kematian di rumah memperbesar ketidakpercayaan, dan ketidakpercayaan memperkecil kemungkinan deteksi dini.

MSF menilai “jendela” untuk membendung wabah makin menyempit. MSF mengingatkan wabah terburuk terjadi di Afrika Barat pada 2014–2016 dan menewaskan lebih dari 11.000 orang, sebuah bayangan yang kini menghantui Kongo Timur.

Frederic Lai Manantsoa, koordinator darurat MSF di DRC, menegaskan penguatan harus segera dilakukan pada diagnostik, surveilans, akses layanan, dan pelibatan komunitas. MSF juga mendesak otoritas dan pemangku kepentingan memfasilitasi pergerakan tenaga kesehatan dan logistik agar respons sebanding dengan skala krisis.

Wabah Ebola Kongo Timur menunjukkan bahwa krisis kesehatan tidak pernah murni soal virus, melainkan soal kepercayaan dan tata kelola data. Ketika angka resmi tertinggal dari realitas, publik kehilangan pegangan, dan ruang untuk rumor serta penolakan menjadi semakin lebar.

Kesulitan harmonisasi data dari laboratorium, fasilitas layanan, dan tim surveilans seharusnya diperlakukan sebagai keadaan darurat yang setara dengan kekurangan tempat tidur. Tanpa data yang rapi, strategi vaksinasi cincin, pelacakan kontak, dan penempatan sumber daya akan bergerak seperti memadamkan api dalam asap tebal.

Respons keamanan yang keras di pemakaman memang dapat mencegah risiko penularan sesaat, tetapi berpotensi memperdalam luka sosial. Jika warga merasa jenazah “dirampas,” maka kepatuhan pada pemakaman aman bisa berubah menjadi perlawanan, dan perlawanan itu memperluas wabah.

Langkah memasukkan anggota keluarga dalam persiapan pemakaman aman, seperti disampaikan Mwamba, adalah arah yang lebih manusiawi. Namun itu harus diikuti transparansi, komunikasi risiko yang konsisten, serta perlindungan tenaga kesehatan agar prosedur tidak berhenti di tengah ancaman.

Yang paling mengkhawatirkan adalah wilayah tanpa fasilitas isolasi seperti Nizi, karena di sana wabah berubah menjadi tragedi rumah tangga. Ketika orang sakit pulang dan meninggal di komunitas, negara kehilangan dua hal sekaligus: kesempatan menyelamatkan nyawa dan kesempatan memutus penularan.

Wabah Ebola di Kongo Timur sedang bertarung di dua medan sekaligus, yakni laboratorium dan ruang sosial. Data yang timpang, kapasitas perawatan yang terbatas, serta kekerasan terhadap tim pemakaman menunjukkan bahwa respons medis saja tidak cukup.

Jika dunia ingin mencegah pengulangan bencana Afrika Barat 2014–2016, maka penguatan diagnostik, surveilans, akses perawatan, dan keterlibatan komunitas harus dilakukan serentak. Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah kebijakan akan mengejar angka di laporan, atau mengejar kenyataan di kamp pengungsian, desa konflik, dan rumah-rumah yang berduka?

(Orbit dari berbagai sumber, 19 Juni 2026)