Denny JA: Kepuasan Atas Prabowo Merosot tapi Dapat Naik Kembali

Presiden Prabowo, Ronald Reagan dan Jimmy Carter.

Presiden Prabowo, Ronald Reagan dan Jimmy Carter.

Opini

KEPUASAN ATAS PRABOWO MEROSOT TAPI DAPAT NAIK KEMBALI

* Berkaca dari Kisah Ronald Reagan dan Jimmy Carter

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Tidak ada grafik yang terus menanjak. Tidak ada pula grafik yang terus menurun. Begitulah kehidupan manusia, perusahaan, bangsa, dan para pemimpin. Setiap kurva hanyalah potret sesaat dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Karena itu, merosotnya kepuasan terhadap kinerja seorang presiden tidak selalu menjadi pertanda akhir. Ia sering kali justru menjadi saat paling berharga ketika kenyataan memaksa seorang pemimpin berhenti sejenak, mendengar lebih sungguh, lalu memperbaiki arah.

Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa banyak kebangkitan besar lahir bukan setelah kemenangan, melainkan setelah peringatan.

Yang berbahaya bukanlah ketika angka kepuasan menurun atas kinerja seorang presiden. Yang berbahaya adalah ketika penurunan itu dianggap sekadar gangguan statistik, bukan suara rakyat yang meminta perubahan.

Menjelang pasar tutup, seorang pedagang sembako menghitung uang hasil jualannya. Tangannya bergerak lambat. Hari itu, lebih banyak orang bertanya tentang harga daripada membeli, seolah setiap rupiah harus dipertahankan lebih lama.

Seorang pelanggan mengurangi jatah beras. Pelanggan lain mengembalikan telur ke rak karena uang di dompet tidak lagi cukup. Bagi pedagang itu, kesulitan ekonomi hadir sebagai wajah-wajah yang pulang membawa belanja lebih sedikit.

Malamnya, ia mendengar berita tentang menurunnya kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo. Baginya, angka survei bukan sekadar persentase. Angka itu menjelma menjadi pelanggan yang datang dengan kecemasan dan pulang dengan kantong lebih ringan.

Nasib seorang pemimpin akhirnya tidak ditentukan oleh tepuk tangan di ruang konferensi. Ia ditentukan oleh keputusan sunyi jutaan keluarga ketika memilih apa yang dibeli, ditunda, dikurangi, atau terpaksa dilepaskan.

Sebab hasil survei bukan lonceng kematian bagi kekuasaan. Ia adalah alarm yang berbunyi sebelum pintu kepercayaan benar-benar tertutup.

Pemimpin yang besar tidak memusuhi alarm itu, tidak memecah termometernya, dan tidak menyalahkan rakyat yang merasa demam.

Ia justru membaca gejalanya, menemukan sumber sakitnya, lalu bekerja sampai bangsa kembali merasakan harapan di dalam kehidupan sehari-hari mereka, secara nyata, perlahan, tetapi semakin pasti.

-000-

Dalam politik, ada dua jenis angka yang sama pentingnya. Yang pertama mengukur ekonomi: inflasi, pertumbuhan, investasi, produksi, dan nilai tukar. Yang kedua mengukur psikologi: kepercayaan, harapan, dan kepuasan publik.

Angka ekonomi menggambarkan keadaan negara. Angka psikologi merekam suasana batin bangsa. Ketika keduanya melemah, yang berubah bukan hanya grafik pemerintahan, melainkan juga cara rakyat memandang hari esok.

Pada 14 sampai 21 Juni 2026, LSI Denny JA mensurvei 1.200 responden secara nasional, dengan margin of error sekitar 2,9 persen. Hasilnya menunjukkan penurunan cukup tajam dalam kepuasan terhadap Presiden Prabowo.

Hasil lengkap survei LSI Denny JA maupun Indikator Politik Indonesia belum terbit resmi. Keduanya memperlihatkan kecenderungan yang sama, tetapi di sini dipakai hanya sebagai penanda awal arah perubahan, bukan rujukan utama.

Rujukan utama esai ini adalah survei SMRC yang dikerjakan pada 5 sampai 19 Juli 2026 dan dirilis pada 26 Juli, terhadap 749 responden, dengan margin of error sekitar 3,7 persen.

SMRC mencatat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 66,4 persen pada akhir Februari sampai awal Maret 2026, lalu tinggal 51,1 persen pada Juli 2026.

Penurunan sekitar tiga puluh poin persentase dalam sembilan bulan bukan lagi fluktuasi kecil. Ia mengisyaratkan perubahan yang cukup dalam pada hubungan psikologis antara rakyat dan pemerintah yang sedang mereka nilai.

Sumber utama ketidakpuasan bukanlah ideologi atau keamanan, melainkan ekonomi rumah tangga. Susahnya mencari kerja dan kebutuhan pokok muncul sebagai kegelisahan paling dekat, paling sering dirasakan, dan paling sulit dibantah oleh angka makro.

SMRC juga menemukan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional merosot tajam. Sentimen negatif itu disebut termasuk yang terburuk dalam rangkaian surveinya selama beberapa tahun terakhir.

Hukum politik hampir tidak pernah berubah. Rakyat tidak menilai keberhasilan ekonomi melalui pidato Presiden atau siaran pers kementerian, melainkan ketika membeli beras, membayar sekolah, mengisi bensin, dan menghitung sisa penghasilan keluarga.

-000-

Ekonomi bukan satu-satunya sumber kegelisahan. Dua program unggulan pemerintahan Prabowo, Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, mulai memasuki ujian kepercayaan publik yang lebih berat.

SMRC mencatat lebih dari 95 persen masyarakat mengetahui program Makan Bergizi Gratis. Namun pengenalan tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Ketika pelaksanaannya dinilai, mayoritas justru menyatakan kurang atau tidak puas.

Pada Koperasi Desa Merah Putih, banyak warga belum yakin program itu mampu memperbaiki ekonomi desa. Tujuannya diterima sebagai cita-cita baik, tetapi tata kelola dan dampaknya masih mengundang keraguan.

Pemerintah karena itu tidak lagi terutama membutuhkan sosialisasi yang lebih gencar. Yang dibutuhkan adalah pelaksanaan yang aman, transparan, tepat sasaran, serta sungguh menjawab pengalaman konkret masyarakat.

Ketika pengalaman rakyat bertentangan dengan cerita pemerintah, pengalaman itulah yang menang. Harga cabai di pasar lebih meyakinkan daripada slogan di baliho, dan isi dompet lebih dipercaya daripada isi pidato.

Popularitas dapat turun, lalu bangkit kembali. Namun popularitas juga dapat terus merosot apabila pemerintah gagal membaca pesan rakyat, mengoreksi pelaksanaan program, dan menghadirkan hasil yang benar-benar terasa.

-000-

Ketika membaca angka-angka itu, ingatan saya melayang kepada dua Presiden Amerika Serikat yang pernah berdiri di persimpangan sejarah serupa: Ronald Reagan dan Jimmy Carter, dua pemimpin dengan akhir politik berbeda.

Keduanya menghadapi ekonomi sulit, inflasi tinggi, pengangguran, dan approval rating yang merosot. Namun sejarah membawa mereka menuju pelabuhan berbeda. Reagan menang besar pada 1984, sedangkan Carter kehilangan mandat kedua pada 1980.

Approval Reagan sempat jatuh hingga sekitar 35 persen pada awal 1983. Banyak analis menduga ia akan menjadi presiden satu periode, sebab resesi masih mendalam dan pengangguran melampaui sepuluh persen.

Namun sejarah tidak hanya ditentukan oleh beratnya krisis yang diwarisi. Sejarah lebih sering ditentukan oleh kemampuan pemimpin mengubah kenyataan, bukan sekadar menjelaskan mengapa keadaan sulit.

Perbedaan pertama antara Reagan dan Carter terletak pada hasil nyata yang dirasakan masyarakat. Kebijakan moneter ketat Paul Volcker, siklus ekonomi, dan kebijakan fiskal memang turut membantu menurunkan inflasi.

Namun rakyat cenderung menghubungkan keseluruhan pemulihan itu dengan presiden yang sedang memimpin. Ketika harga melandai dan lapangan kerja bertambah, kehidupan sehari-hari memberi kredibilitas kepada kata-kata Reagan.

Jimmy Carter menghadapi pengalaman berbeda. Ia meraih prestasi diplomatik besar melalui Perjanjian Camp David dan dikenal sebagai pribadi yang jujur, sederhana, bersih, bermartabat, serta memiliki perhatian mendalam kepada kemanusiaan.

Namun demokrasi memiliki hukum yang keras. Prestasi internasional jarang mampu mengalahkan kegelisahan di meja makan keluarga, terutama ketika inflasi menembus dua digit setelah syok minyak kedua pada 1979, pekerjaan sulit didapat, dan biaya hidup terus menekan.

-000-

Perbedaan kedua adalah cara membangun harapan. Reagan dijuluki The Great Communicator bukan semata karena kepiawaiannya berbicara, melainkan karena kenyataan perlahan bergerak mengikuti janji yang ia sampaikan.

Ketika Reagan mengatakan Amerika akan bangkit, rakyat mulai melihat pabrik beroperasi kembali dan pekerjaan bertambah. Harapan tidak lagi tinggal di podium. Ia berjalan memasuki rumah-rumah warga.

Carter juga berusaha membangkitkan optimisme. Dalam pidatonya tentang krisis kepercayaan, ia mengajak bangsa Amerika merenungkan konsumerisme, moralitas, tanggung jawab bersama, dan hilangnya tujuan dalam kehidupan nasional.

Secara intelektual, pidato itu mendalam. Namun secara politik, banyak warga merasa Presiden sedang menjelaskan kelemahan masyarakat ketika mereka justru menunggu pemerintah menunjukkan jalan keluar yang nyata.

Dalam tekanan ekonomi, rakyat membutuhkan cahaya sebelum diajak merenungkan gelap. Mereka memerlukan bukti sebelum bersedia mendengar filsafat tentang mengapa sebuah bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Perbedaan ketiga adalah kemampuan mengelola momentum. Carter sempat memperoleh lonjakan dukungan ketika diplomat Amerika disandera di Iran dan rakyat untuk sementara bersatu di belakang Presiden.

Namun dukungan itu tidak bertahan. Krisis berlarut, inflasi tetap tinggi, dan harga energi terus membebani masyarakat. Simpati berubah menjadi kelelahan, lalu kekecewaan, dan akhirnya keputusan politik.

Reagan bergerak sebaliknya. Ia memulai dari titik rendah, tetapi pemulihan ekonomi menghadirkan rangkaian keberhasilan kecil yang perlahan mengembalikan imajinasi dan kepercayaan rakyat mengenai masa depan Amerika.

-000-

Indonesia tentu berbeda dari Amerika. Sistem multipartai dan koalisi besar di parlemen memberi Presiden Prabowo benteng politik kuat yang tidak dimiliki Reagan maupun Carter dalam menjalankan pemerintahan.

Namun tanpa efektivitas kerja, dukungan partai dapat berubah menjadi tembok rapuh ketika gelombang kekecewaan membesar di akar rumput. Koalisi menjaga pemerintahan, tetapi tidak otomatis memulihkan kepercayaan rakyat.

Sebab, efektivitas kabinet tak ditentukan oleh gemuknya koalisi, melainkan oleh ketajaman eksekusi.

Turunnya kepuasan terhadap Presiden Prabowo menunjukkan Indonesia sedang berdiri di persimpangan antara jalan Reagan dan jalan Carter. Sejarah belum menentukan ke mana langkah pemerintah akan berakhir.

Pertanyaan terpenting bukan lagi mengapa angka survei menurun. Pertanyaan yang menentukan adalah apakah pemerintah mampu menghadirkan perubahan nyata yang sungguh dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari.

Kepercayaan tidak lahir karena rakyat diminta percaya. Ia tumbuh ketika kehidupan memberi mereka alasan baru untuk percaya, sedikit demi sedikit, melalui pengalaman yang tak dapat dibantah.

-000-

Jika Presiden Prabowo ingin mengambil jalan Reagan, ada lima agenda yang patut menjadi prioritas. Semuanya bukan sekadar strategi politik, melainkan syarat agar kepercayaan tumbuh kembali dari pengalaman rakyat.

Pertama, jadikan pemulihan daya beli sebagai proyek nasional utama. Ukuran keberhasilannya bukan hanya pertumbuhan investasi, melainkan stabilitas harga pangan, tersedianya pekerjaan, dan meningkatnya penghasilan riil keluarga.

Keberhasilan harus terasa di dapur rakyat. Seorang ibu lebih mudah membeli beras, seorang ayah lebih mudah memperoleh pekerjaan, dan pedagang kecil kembali melihat pelanggan berdatangan.

Kedua, benahi pelaksanaan Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Pertahankan tujuannya, tetapi koreksi metode, tata kelola, skala, dan pengawasan berdasarkan pengalaman di lapangan.

Transparansi anggaran, keamanan pangan, ketepatan sasaran, kualitas gizi, penggunaan bahan lokal, serta kecepatan menangani keluhan harus menjadi ukuran terbuka yang dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan kepada publik.

Ketiga, jadikan pemberantasan korupsi sebagai bukti keberpihakan kepada rakyat. Korupsi merusak legitimasi karena membuat masyarakat merasa pengorbanannya dihisap oleh mereka yang hidup dekat dengan pusat kekuasaan.

Penegakan hukum tanpa pandang bulu akan memberi dampak moral yang kuat. Semakin tinggi jabatan pelakunya, semakin besar makna politik ketika pemerintah berani membersihkan rumahnya sendiri.

Keempat, berani mengoreksi kebijakan sebelum rakyat memaksanya. Pemimpin besar bukan mereka yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang cukup rendah hati untuk belajar dari kenyataan.

Koreksi bukan tanda kelemahan. Ia justru menunjukkan keberanian memilih hasil di atas gengsi, kepentingan rakyat di atas citra, serta masa depan di atas kesalahan yang terlanjur dipertahankan.

Kelima, hadirkan keberhasilan-keberhasilan kecil yang konsisten. Kepercayaan tidak pulih sekaligus. Ia dibangun melalui harga yang lebih stabil, pelayanan yang lebih mudah, pekerjaan yang bertambah, dan program yang tepat sasaran.

Seratus perubahan kecil yang dirasakan rakyat akan lebih kuat daripada seribu pidato yang hanya menggema di ruang pertemuan. Optimisme lahir ketika kemajuan dapat dilihat, disentuh, dan dibuktikan.

-000-

Di sinilah saya kembali teringat kepada pedagang sembako di awal tulisan ini. Setiap pagi ia membuka toko dengan harapan sederhana: semoga hari ini lebih baik daripada kemarin.

Ia berharap pelanggan kembali datang, tidak ada lagi yang mengembalikan telur ke rak, dan hasil kerja hari itu cukup dibawa pulang untuk keluarganya.

Harapan yang sama hidup di jutaan rumah tangga Indonesia. Mereka tidak menuntut pemerintah sempurna. Mereka hanya ingin hidup terasa sedikit lebih ringan, pekerjaan lebih mudah ditemukan, dan harga kebutuhan pokok lebih terjangkau.

Turunnya kepuasan publik bukan vonis sejarah. Ia adalah pesan bahwa rakyat membutuhkan bukti lebih kuat daripada janji, hasil lebih nyata daripada narasi, dan perubahan yang sungguh terasa.

Reagan menunjukkan bahwa kepercayaan dapat tumbuh kembali ketika kehidupan rakyat membaik. Carter mengingatkan bahwa integritas dan niat baik tidak selalu cukup apabila perubahan datang terlalu lambat.

Prabowo kini berdiri di antara dua jalan itu. Angka survei yang merosot bukanlah akhir, tetapi peringatan untuk mendengar lebih sungguh, mengoreksi arah, dan menghadirkan hasil.

Para pemilih belum sepenuhnya berpaling; mereka masih menyisakan ruang bagi harapan.

Yang mereka tunggu hanya satu: bukti bahwa hidup mereka mulai membaik.*

London, 29 Juli 2026

REFERENSI

1. Gil Troy, The Reagan Revolution: A Very Short Introduction, Oxford University Press, 2009.

2. Kai Bird, The Outlier: The Unfinished Presidency of Jimmy Carter, Crown, 2021.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/1LJYuz8HJ3/?mibextid=wwXIfr ***