Izin Ekskavasi Laskow: Exhumasi Ukraina-Polandia dan Memori 1944
ORBITINDONESIA.COM – Izin ekskavasi Laskow akhirnya diberikan Polandia kepada Ukraina, membuka jalan pencarian kuburan dugaan warga sipil Ukraina yang terbunuh pada Maret 1944. Pernyataan ini disampaikan Wakil Menteri Kebudayaan Pertama Ukraina, Ivan Verbytsky, dan langsung menempatkan isu exhumasi Ukraina-Polandia kembali di pusat perdebatan memori sejarah.
Di atas kertas, ini adalah langkah teknis administratif. Di lapangan, ia adalah ujian politik: apakah dua negara bisa memisahkan kerja kemanusiaan dari tarik-menarik narasi nasional.
Verbytsky menulis di Facebook bahwa izin itu diberikan kepada pusat pencarian memorial Dolia. Pekerjaan dilakukan atas mandat Ukrainian Institute of National Remembrance (UINP), lembaga yang kerap berada di garis depan politik ingatan di Ukraina.
Izin ini disebut sebagai hasil kesepakatan kelompok kerja Ukraina-Polandia tentang pemakaman bermartabat. Kelompok itu berjalan atas inisiatif kementerian kebudayaan kedua negara, yang berarti negara hadir langsung sebagai pengatur memori.
Konteksnya panjang dan berdarah, karena 1943–1945 di kawasan perbatasan kini menjadi ruang sengketa: siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang berhak bercerita. Exhumasi bukan sekadar menggali tanah, melainkan menggali legitimasi sejarah yang selama ini dipakai dalam politik domestik.
Rangkaian kegiatan terbaru menunjukkan pola: izin, pencarian, ekskavasi, lalu pemakaman ulang dengan seremoni resmi. Pada awal Mei 2025, misalnya, ditemukan sisa-sisa 42 orang di lokasi ekskavasi bekas desa Puzhnyky, wilayah Ternopil, dan dimakamkan ulang pada 6 September.
Di Lviv (Stari Zboishcha), ekspedisi gabungan juga menemukan kuburan massal korban Perang Dunia II. Jenazah tentara Angkatan Darat Polandia dimakamkan ulang di Mostyska, wilayah Lviv, pada 14 November 2025.
Namun tidak semua pencarian menghasilkan penemuan, dan ini penting untuk mengukur ekspektasi publik. Pada akhir September 2025, pencarian di Jureczkowa, Podkarpackie, untuk dugaan makam pejuang UPA tidak menemukan kuburan.
Rencana 2026 yang disusun pertengahan Desember 2025 memperlihatkan upaya menyeimbangkan pekerjaan di dua sisi perbatasan. Di Ukraina direncanakan Uhly, Huta Pieniacka, dan Ostrivky, sedangkan di Polandia direncanakan Sahryn dan Laskow.
Di Uhly, Rivne, pencarian gabungan berakhir 27 Maret 2026 tanpa menemukan kuburan massal. Fakta ini menegaskan bahwa kerja forensik tidak selalu sejalan dengan ingatan lisan, dan negara harus siap menerima hasil yang “tidak dramatis”.
Di Huta Pieniacka, Lviv, pencarian berakhir 18 Juni dan menemukan kuburan massal sekitar 70 meter persegi. Tetapi ekskavasi ditunda hingga tahun berikutnya, yang memberi ruang spekulasi: apakah penundaan murni teknis atau juga politis.
Akhir Juni, tahap baru pencarian dimulai untuk korban bekas desa Puzhnyky yang tewas tragis pada Februari 1945. Lalu pada Juli, ekskavasi di Volya Ostrovetska dan Ostrivky menemukan sisa-sisa 48 orang dan 6 orang, kemudian 55 orang dimakamkan ulang pada akhir Agustus di Volyn.
Di awal Agustus, pihak Polandia menyerahkan daftar lokasi untuk pencarian lanjutan di Ukraina. Di titik ini, izin ekskavasi Laskow tampak bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari arsitektur pertukaran: akses di satu sisi dibayar dengan akses di sisi lain.
Izin ekskavasi Laskow dapat dibaca sebagai kemajuan diplomasi memori, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol narasi. Negara memberi izin, menentukan lembaga pelaksana, dan pada akhirnya mengelola cara temuan dipublikasikan.
Masalahnya, publik sering menginginkan “kepastian moral” lebih cepat daripada ritme kerja forensik. Ketika pencarian gagal menemukan kuburan, atau ekskavasi ditunda, ruang kosong itu segera diisi oleh propaganda, kecurigaan, dan tuduhan saling menghapus korban.
Di sinilah tantangan terbesar exhumasi Ukraina-Polandia: memisahkan kerja kemanusiaan dari kompetisi penderitaan. Jika setiap tulang yang ditemukan langsung dipakai sebagai amunisi politik, maka pemakaman bermartabat berubah menjadi panggung pembenaran.
Justru karena itu, kerja teknis harus disertai standar transparansi yang keras. Laporan metode, peta lokasi, dokumentasi, dan audit independen perlu dibuka agar temuan tidak menjadi “milik” satu narasi saja.
Laskow juga menguji konsistensi kedua negara dalam memperlakukan korban sipil sebagai manusia, bukan simbol. Jika korban Ukraina di Polandia diperlakukan dengan hormat, maka korban Polandia di Ukraina harus mendapat perlakuan setara, tanpa syarat tersembunyi.
Izin ekskavasi Laskow memberi harapan bahwa sejarah yang terkubur bisa ditangani dengan martabat, bukan dendam. Namun ia juga mengingatkan bahwa rekonsiliasi tidak lahir dari seremoni, melainkan dari keberanian menerima fakta yang mungkin tidak menguntungkan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi berat: apakah Ukraina dan Polandia ingin menemukan kebenaran, atau hanya ingin memenangkan ingatan. Jika jawabannya kebenaran, maka tanah yang digali hari ini semestinya menutup luka, bukan membuka perang baru di kepala generasi berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Oktober 2026)