Pencairan Es Kutub dan Kenaikan Muka Laut Ancam Pantura

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Pencairan es kutub dan kenaikan muka laut kini bukan sekadar isu jauh, melainkan ancaman harian bagi pesisir Indonesia. Data terbaru menunjukkan Bumi kehilangan lebih dari 12,5 triliun ton es sejak 1979, dan dampaknya mulai terasa dari banjir rob hingga krisis air bersih.

Riset satelit memperlihatkan penyebab utamanya bukan hanya udara yang menghangat, tetapi air laut hangat yang menggerogoti es dari bawah. Mekanisme ini membuat kenaikan permukaan laut lebih sulit dihentikan, sekaligus mempercepat risiko di Pantai Utara Jawa.

Selama 47 tahun, hilangnya es dari Greenland dan Antarktika telah menaikkan permukaan laut global sekitar 3,1 cm. Angka itu tampak kecil, tetapi setiap kenaikan 1 cm dapat menambah 2 hingga 3 juta orang yang mengalami banjir setidaknya sekali setahun.

Indonesia punya garis pantai sangat panjang dan ribuan pulau kecil yang rapuh terhadap erosi. Ketika muka laut naik, garis pantai mundur, air asin masuk ke tanah, dan ruang hidup di pesisir menyempit.

Ancaman ini bertumpuk dengan masalah lokal, terutama penurunan muka tanah. Di Pantura, kombinasi penurunan tanah dan kenaikan muka laut membuat rob menjadi bencana yang berulang, bukan kejadian musiman.

Penelitian dalam jurnal Scientific Data menggabungkan data 27 satelit dan 45 survei independen. Ini menjadikannya salah satu pengamatan paling lengkap tentang kehilangan massa es kutub hingga saat ini.

Temuan kuncinya tajam, yakni sekitar 5/6 pencairan dipicu air laut yang lebih hangat. Peneliti utama Ines Otosaka dari Universitas Northumbria menilai proses ini berbahaya karena terjadi di bagian yang tidak terlihat dan sulit dihentikan.

Di Greenland, ada gletser yang mundur hingga 50 meter per hari. Skala ini menggambarkan laju perubahan yang melampaui imajinasi publik, sekaligus mempercepat kontribusi ke muka laut.

Para ilmuwan mencatat jeda pada 2020 hingga 2023, tetapi itu dinilai gangguan cuaca jangka pendek. Pengamatan terbaru menunjukkan laju pencairan kembali meningkat, sehingga jeda tersebut tidak boleh dibaca sebagai pemulihan.

Dampak globalnya menjalar melalui pasang yang lebih tinggi, gelombang badai yang lebih kuat, dan abrasi yang lebih cepat. Bagi kota pesisir rendah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar, ini berarti rob lebih sering dan lebih merusak.

Di Pantura, BRIN mencatat laju kenaikan muka laut bervariasi sekitar 2,4 hingga 4,3 mm per tahun di sejumlah titik. Pengamatan dilakukan dengan InSAR, GNSS, survei terestris, dan pemodelan geospasial multidata untuk memetakan deformasi vertikal.

Peneliti BRIN Agung Syetiawan menekankan data GNSS dari InaCORS menunjukkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linear. Data itu dipakai untuk memvalidasi hasil pengamatan satelit SAR, sehingga gambaran penurunan tanah lebih kuat secara ilmiah.

Di sisi kebijakan, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono menyebut penurunan tanah di Pantura bisa mencapai 15 hingga 20 cm per tahun. Ia juga menyebut kenaikan muka laut sekitar 0,8 hingga 1,2 cm per tahun sebagai tekanan tambahan dari pemanasan global.

Jika angka-angka ini dibaca bersamaan, Pantura menghadapi ancaman ganda yang saling menguatkan. Penurunan tanah mempercepat genangan, sementara kenaikan muka laut membuat genangan lebih permanen dan lebih luas.

Masalahnya bukan kekurangan data, melainkan kekurangan keberanian untuk menata ulang cara kita tinggal di pesisir. Ketika sains sudah menunjukkan es mencair dari bawah oleh laut hangat, kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa tanggul saja cukup.

Rob di Pantura sering diperlakukan sebagai gangguan, padahal ia sinyal kegagalan tata ruang dan tata air. Pembangunan yang menambah beban tanah, eksploitasi air tanah, dan penundaan rehabilitasi ekosistem pesisir mempercepat kerentanan.

Ted Scambos, ilmuwan kutub yang tidak terlibat dalam studi, menyebut ancaman ini bukan untuk cucu kita, tetapi untuk kita sendiri. Kalimat itu menampar karena menegaskan jarak waktu bencana sudah menyusut menjadi hitungan tahun, bahkan bulan.

Adaptasi harus dibaca sebagai proyek sosial, bukan proyek beton semata. Tanpa pengendalian penurunan tanah, perlindungan mangrove, dan pembatasan ekstraksi air tanah, kebijakan pesisir hanya akan menjadi siklus tambal-sulam.

Mitigasi juga tidak bisa dinegosiasikan, karena es yang mencair tidak dapat dikembalikan. Bahkan jika pemanasan berhenti hari ini, dampaknya masih akan berjalan puluhan tahun, sehingga menunda tindakan berarti menambah beban generasi yang sama.

Pencairan es kutub dan kenaikan muka laut adalah cerita global yang berakhir di gang-gang pesisir, sumur warga, dan jalan pantura yang tergenang. Data satelit, peringatan BRIN, dan alarm pemerintah menunjukkan satu arah, yakni risiko akan membesar tanpa intervensi serius.

Pertanyaannya bukan lagi apakah rob akan datang, tetapi seberapa sering dan seberapa permanen ia menetap. Ketika laut naik dan tanah turun bersamaan, kita dipaksa memilih antara beradaptasi secara cerdas atau membayar kerugian yang terus berulang.

Di ujungnya, ini soal etika pembangunan, yakni apakah kita mau mendengar sains sebelum kerusakan menjadi tak terpulihkan. Jika pesisir adalah wajah Indonesia, maka cara kita merawatnya menentukan apakah kita bertahan, atau pelan-pelan tenggelam dalam kelalaian sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)