Trump Accounts dan Bursa Saham: Strategi Politik di Tengah Inflasi

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Dari Oval Office yang berlapis kemewahan, Presiden Donald Trump membunyikan bel pembukaan New York Stock Exchange dan Nasdaq pada Senin. Aksi simbolik ini menegaskan bagaimana Trump makin mengikat narasi kepresidenannya pada pasar saham dan program Trump Accounts.

Dalam laporan Associated Press, Trump membunyikan bel pembukaan perdagangan dari Gedung Putih sebagai penanda dimulainya transaksi di bursa. Ia berkata, “Ini akan naik—saya pikir pasar akan menembus atap,” sambil mendorong publik menaruh perhatian pada investasi 401(k).

Namun inflasi tinggi menggerus dukungan publik terhadapnya, sebagaimana pernah terjadi pada Joe Biden. Survei AP-NORC pada Juni menunjukkan hanya 33% orang dewasa AS menyetujui kepemimpinan ekonomi Trump.

Acara itu sekaligus mempromosikan peluncuran Trump Accounts, rekening investasi untuk anak-anak yang menaruh dana pada indeks saham. Program ini disebut sebagai bagian dari rancangan besar pemotongan pajak dan belanja Partai Republik untuk 2025.

Terjemahan inti berita sumber menyebut: banyak warga Amerika tidak punya paparan langsung ke saham. Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan “38% keluarga Amerika tidak memiliki paparan apa pun terhadap pasar ekuitas kita yang hebat.”

Angka itu menjelaskan jurang antara euforia bursa dan pengalaman ekonomi harian pemilih. Ketika saham naik, manfaatnya lebih cepat dirasakan rumah tangga mapan, sementara rumah tangga lain menghadapi harga kebutuhan yang terus menekan.

Data pasar yang dikutip AP menunjukkan S&P 500 naik 17,9% pada 2025, setelah return tahunan 25% pada 2024 dan 26,3% pada 2023 saat Biden menjabat. Indeks acuan itu juga naik sekitar 10% sejauh tahun ini.

Di sisi lain, indeks harga konsumen naik 4,2% dalam 12 bulan terakhir, dari 3% saat Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025. AP menulis tekanan inflasi baru dipicu tarif Trump dan dimulainya perang di Iran.

Di sinilah kontradiksi politiknya menjadi tajam: Trump menawarkan “biaya turun” sebagai janji kemenangan 2024, tetapi kebijakan dan gejolak geopolitik justru memantik kenaikan harga. Ketika harga naik, pemilih jarang terhibur oleh grafik hijau di layar bursa.

Trump Accounts dirancang untuk memberi generasi muda “taruhan” ekonomi jangka panjang melalui indeks saham. Pemerintah memberi $1.000, lalu program ini didorong oleh sumbangan tokoh kaya dan perusahaan besar.

Michael Dell dan istrinya, Susan, tampil bersama Trump dan berjanji menyumbang $6,25 miliar untuk program tersebut, menurut AP. Ada pula komitmen dari investor Ray Dalio dan Presiden SpaceX Gwynne Shotwell, yang menyatakan akan menyumbangkan saham perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu.

Trump bahkan bergurau bahwa anak-anak “ketinggalan” kenaikan pasar karena peluncuran program terlambat. “Seharusnya kita bertindak lebih cepat,” katanya, mengakui momentum pasar menjadi bagian dari cerita yang ingin ia jual.

Secara komunikasi politik, membunyikan bel bursa dari Oval Office adalah panggung yang kuat dan mudah diklip. Tetapi panggung yang kuat tidak otomatis menjadi kebijakan yang terasa, terutama saat inflasi membuat dompet pemilih menipis.

Penekanan pada saham juga mengandung risiko elitisme terselubung. Ketika 38% keluarga tidak tersambung ke pasar ekuitas, menjadikan bursa sebagai “rapor nasional” bisa terdengar seperti perayaan untuk sebagian kecil, bukan solusi untuk mayoritas.

Trump Accounts memang bisa memperluas literasi finansial dan kepemilikan aset, namun manfaatnya bersifat tertunda. Pemilih yang menghadapi kenaikan harga hari ini akan menilai pemerintah dari biaya sewa, pangan, dan energi, bukan dari portofolio anak yang baru matang puluhan tahun lagi.

Selain itu, ketergantungan pada donasi miliarder menimbulkan pertanyaan tata kelola dan persepsi konflik kepentingan. Program publik yang dibungkus filantropi korporat mudah dipandang sebagai kampanye kebijakan yang menukar legitimasi politik dengan dukungan pemodal.

Dalam konteks pemilu paruh waktu November, taruhan Trump tampak jelas: mengubah percakapan dari inflasi ke pasar saham dan “masa depan anak-anak.” Namun jika harga terus naik, narasi tentang indeks saham bisa menjadi pengalih yang tidak meyakinkan.

Berita AP tentang Trump membunyikan bel bursa dan mempromosikan Trump Accounts menunjukkan satu hal: ekonomi diperlakukan sebagai panggung simbolik sekaligus alat kampanye. Di tengah inflasi 4,2% dan dukungan ekonomi 33%, simbol itu bisa memukau, tetapi belum tentu menenangkan.

Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kepemilikan saham untuk generasi depan mampu menutup rasa cemas generasi sekarang yang dihantam harga? Jika pemerintah ingin memulihkan kepercayaan, ia harus membuat pasar “naik” sejalan dengan biaya hidup yang benar-benar “turun.”

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Juli 2026)