IHSG Turun 1,20%: Net Foreign Sell Rp1,49 T Tekan Bursa

CNBC Indonesia

CNBC Indonesia

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – IHSG turun 1,20% ke 6.298,61 pada Kamis (24/9/2026), saat net foreign sell menembus Rp1,49 triliun. Kata kuncinya bukan hanya “IHSG melemah”, melainkan “asing jual bersih” yang terjadi ketika transaksi harian justru sepi.

Data penutupan menunjukkan 462 saham melemah, sementara hanya 188 yang menguat dan 144 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp11,23 triliun, dengan volume 29,31 miliar saham dan 1,66 juta kali transaksi.

Komposisi ini memberi sinyal pasar sedang rapuh, karena tekanan jual lebih dominan daripada partisipasi beli. Dalam kondisi seperti itu, satu arus dana besar dapat menggeser indeks lebih tajam dari biasanya.

Investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,49 triliun di seluruh pasar. Rinciannya Rp1,42 triliun di pasar reguler, serta Rp71,85 miliar di pasar negosiasi dan tunai.

Angka tersebut menegaskan bahwa tekanan utama bukan sekadar rotasi sektor harian, melainkan arus keluar dana yang nyata. Publik lalu bertanya, saham mana yang paling banyak dilepas asing dan seberapa besar dampaknya ke IHSG.

Dalam pasar yang likuid, jual bersih asing sering “terserap” oleh investor domestik tanpa mengubah harga secara ekstrem. Namun ketika nilai transaksi hanya Rp11,23 triliun, daya serap mengecil dan penurunan indeks lebih mudah terjadi.

Itu menjelaskan mengapa IHSG bisa turun 1,20% meski tidak semua saham anjlok serempak. Tekanan terkonsentrasi pada saham-saham tertentu, lalu menjalar menjadi sentimen negatif yang lebih luas.

Stockbit mencatat terdapat 10 saham dengan net foreign sell terbesar pada perdagangan Kamis tersebut. Daftar rinci sahamnya tidak ditampilkan dalam kutipan artikel, tetapi penekanan pada “10 teratas” mengindikasikan penjualan asing kemungkinan terkonsentrasi pada emiten berkapitalisasi besar.

Konsentrasi ini penting, karena saham-saham besar memiliki bobot signifikan terhadap IHSG. Ketika asing melepas saham berkapitalisasi besar, indeks bisa turun walau banyak saham kecil bergerak terbatas.

Perbedaan antara pasar reguler dan pasar negosiasi juga layak dicermati. Penjualan Rp1,42 triliun di pasar reguler berarti tekanan terjadi langsung di pembentukan harga harian, bukan sekadar perpindahan kepemilikan yang “sunyi” di negosiasi.

Di sisi lain, porsi Rp71,85 miliar di negosiasi dan tunai memberi sinyal ada transaksi khusus yang bisa terkait rebalancing portofolio. Jika benar demikian, pelemahan IHSG tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan strategi alokasi aset yang lebih besar.

Pasar yang sepi juga sering memunculkan perilaku “ikut arus” dari investor ritel. Ketika melihat asing keluar dan indeks turun, sebagian investor memilih mengurangi risiko, sehingga tekanan jual bertambah meski tanpa data fundamental baru.

Di titik ini, IHSG menjadi cermin psikologi kolektif, bukan hanya papan angka. Yang bergerak bukan sekadar harga, melainkan keyakinan tentang apakah penurunan ini kesempatan beli atau awal dari tren yang lebih panjang.

Net foreign sell Rp1,49 triliun mudah dibaca sebagai vonis bahwa pasar Indonesia sedang ditinggalkan. Namun kesimpulan itu bisa terlalu cepat, karena arus asing sering dipengaruhi faktor teknis seperti rebalancing indeks, kebutuhan likuiditas global, atau perubahan selera risiko.

Masalahnya, pasar domestik kerap terjebak pada narasi tunggal: “asing jual, berarti bahaya.” Padahal yang lebih mendesak adalah menguji kualitas permintaan domestik, karena pasar yang sehat tidak runtuh hanya karena satu sisi keluar.

Turunnya IHSG saat transaksi sepi mengungkap pekerjaan rumah yang lebih struktural. Likuiditas yang tidak merata membuat indeks rentan digerakkan oleh segelintir saham besar, sementara ratusan saham lain hanya menjadi latar.

Karena itu, fokus publik seharusnya tidak berhenti pada daftar 10 saham yang paling banyak dilepas asing. Fokusnya harus bergeser ke pertanyaan: apakah pasar memiliki kedalaman yang cukup untuk menyerap arus keluar tanpa memicu kepanikan.

Jika jawabannya belum, maka volatilitas akan terus mudah tersulut oleh headline. Investor ritel paling rentan menjadi korban, karena mereka masuk saat euforia dan keluar saat ketakutan, persis ketika harga sudah terlanjur turun.

IHSG yang ditutup di 6.298,61 bukan sekadar penurunan harian, melainkan sinyal tentang rapuhnya likuiditas ketika asing melakukan jual bersih jumbo. Data 462 saham melemah dan transaksi Rp11,23 triliun menegaskan bahwa tekanan jual bekerja dalam pasar yang daya serapnya terbatas.

Pertanyaan akhirnya bukan hanya “saham apa yang dijual asing”, melainkan “seberapa siap kita menghadapi siklus keluar-masuk modal global.” Jika pasar ingin lebih tahan guncangan, ia harus bertumpu pada keyakinan dan kedalaman domestik, bukan pada harapan bahwa asing selalu kembali tepat waktu.

(Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)