Kerusuhan Belfast dan Sentimen Anti-Imigran Pasca Penusukan

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kerusuhan Belfast kembali menyala, kali ini dipicu penusukan brutal yang segera berubah menjadi amarah anti-imigran dan serangan rasial. Paul Sharkey, 71 tahun, menyaksikan sebuah van yang dibakar meluncur ke arah rumahnya, mengingatkannya pada trauma “the Troubles” yang ia kira sudah berakhir. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Paul Sharkey telah melewati puluhan tahun kekerasan sektarian antara komunitas Protestan dan Katolik Roma yang dikenal sebagai “the Troubles”. Ia mengira fase berdarah sejarah Irlandia Utara itu sudah selesai, sampai sebuah van terbakar meluncur di Antrim Road, Glengormley, di pinggiran barat laut Belfast. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

“Van itu mengarah ke saya—saya panik,” kata Sharkey. Ia juga melihat sebuah rumah kosong di seberang terbakar, sementara pemuda bertopeng balaclava “berlarian seperti tikus.” (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Kekerasan pecah setelah penusukan brutal di Belfast pada Senin, yang membuat otoritas mendakwa Hadi Alodid, pengungsi Sudan berusia 30 tahun, atas percobaan pembunuhan. Rekaman grafis serangan menyebar cepat di internet dan diperkuat aktivis sayap kanan jauh yang menyerukan protes, blokade jalan, dan titik demonstrasi. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Selasa malam, kerusuhan meledak di sejumlah kawasan, dengan perusuh bertopeng membakar bus, mobil, dan tong sampah. Polisi menyebut petugas darurat harus mengawal keluarga imigran, termasuk orang tua dengan bayi 2 bulan, keluar dari rumah yang dibakar. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Rabu malam, demonstrasi kekerasan berlanjut meski ada seruan menahan diri, termasuk dari keluarga korban, Stephen Ogilvie, yang masih dirawat di rumah sakit. Dalam situasi ini, kota seperti bergerak dari satu insiden kriminal menjadi krisis sosial yang lebih luas. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di tengah kerusuhan, sekelompok pria bertopeng mencoba mendekati hotel yang menampung pencari suaka dekat Glengormley. Mereka menghadapi polisi antihuru-hara, membajak sebuah van, membakarnya, lalu mendorongnya ke arah barikade hingga van itu berbelok dan menabrak tembok dekat rumah Sharkey. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Kerusuhan Belfast kali ini membawa gema kelam masa lalu, tetapi sasarannya bergeser dari garis sektarian klasik menjadi garis ras dan migrasi. Seorang menteri kabinet Inggris untuk Irlandia Utara, Hilary Benn, menyebutnya “premanisme rasis,” dengan warga “diintimidasi dan diusir dari rumah oleh preman bertopeng berdasarkan warna kulit.” (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Dampak langsungnya terlihat pada rasa takut komunitas minoritas. Twasul Mohammed, penggerak antirasisme di Participation and the Practice of Rights, mengatakan “semua orang takut,” terutama warga kulit hitam dan cokelat. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Mohammed menyebut ia tidak mengantar anaknya ke sekolah sejak kerusuhan dimulai. Ia juga menyebut sekitar 400 relawan membantu, termasuk menampung sekitar 12 keluarga yang dievakuasi pada Selasa malam, sementara total sekitar 200 orang perlu akomodasi darurat. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Rabu, kepanikan meningkat ketika daftar alamat yang diduga akan menjadi target beredar secara online. Ini menunjukkan pola baru: kekerasan jalanan yang dipandu “peta digital,” di mana rumor, alamat, dan ajakan bergerak lebih cepat daripada klarifikasi resmi. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Otoritas kepolisian menilai ada koordinasi yang nyata dari aktivitas media sosial. Ryan Henderson, asisten kepala konstabel Police Service of Northern Ireland, mengatakan ia “tidak punya bukti” kekerasan dikoordinasikan paramiliter loyalis, tetapi ada “koordinasi signifikan” dari media sosial, sebagian dari dalam dan sebagian dari luar Irlandia Utara. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Fakta “sebagian dari luar” penting karena memperlihatkan bagaimana ekosistem ekstremisme lintas batas bekerja. Satu kasus kriminal bisa dipaket ulang sebagai narasi invasi, lalu dijadikan bahan bakar mobilisasi massa, lengkap dengan rencana blokade dan titik kumpul. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di tingkat kota, efek ekonomi dan layanan publik juga langsung terasa. Bisnis tutup lebih awal, sebagian pekerja memilih tinggal di rumah, dan pemimpin layanan kesehatan-sosial menegaskan tidak dapat diterima bila pegawai “diintimidasi atau terlalu takut untuk bekerja.” (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di Eropa, sentimen anti-imigran memang sedang naik, didorong partai populis sayap kanan dan amplifikasi media sosial. Di Irlandia Utara, yang populasi imigrannya relatif rendah, tekanan lokal seperti krisis perumahan dan kantong-kantong kemiskinan memperlebar ruang bagi politik kambing hitam. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Masalah lain yang tidak hilang sepenuhnya adalah warisan kekuatan paramiliter. Meski proses perdamaian relatif berhasil, kelompok-kelompok semacam itu masih eksis, dan sebagian pihak menilai kondisi ini membuat Irlandia Utara rentan terhadap kekerasan yang “terorganisasi.” (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Kerusuhan Belfast memperlihatkan pergeseran berbahaya: dari konflik identitas lama menuju “politik ketakutan” yang menargetkan pendatang dan warga non-kulit putih. Ketika video penusukan dipakai sebagai pemantik, yang diserang bukan hanya pelaku yang didakwa, melainkan komunitas yang dianggap mewakilinya. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Di sinilah propaganda bekerja: mengubah insiden menjadi generalisasi, lalu generalisasi menjadi pembenaran kekerasan. Jika negara terlambat mengendalikan disinformasi, massa akan menganggap rumor sebagai mandat, dan daftar alamat sebagai izin menyerbu. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Pendeta Jacob Mercer di Glengormley mengatakan banyak demonstran bukan warga lokal. Ia juga menilai kekerasan mencerminkan bara ketidakpuasan di sebagian komunitas Protestan yang ingin menjaga posisi Irlandia Utara dalam Britania Raya. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Mercer menyebut ada komunitas sangat terdeprivasi yang merasa tidak didengar, lalu membandingkan nasib mereka dengan pencari suaka yang “mendapat hotel gratis dan makanan gratis.” Persepsi ini, benar atau salah, menciptakan ilusi kompetisi antara “warga lama” dan “pendatang,” padahal akar masalahnya sering kali kebijakan sosial yang gagal. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Ia juga mengaitkan menguatnya sentimen itu dengan kenaikan partai populis kanan seperti Reform U.K. pimpinan Nigel Farage, serta pesaing kanan-jauh baru bernama Restore Britain. Ketika orang merasa ada representasi politik yang memvalidasi kemarahan mereka, jalanan menjadi panggung, dan kekerasan terasa “masuk akal” bagi sebagian kecil pelaku. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Masood Alam, kelahiran Pakistan yang tinggal di Irlandia Utara sejak 1973, memberi perspektif yang menyentak. Ia mengatakan pada masa “the Troubles” komunitas Asia relatif aman karena tidak terlibat politik lokal, tetapi kini “jika massa sudah tersulut, jika Anda tidak putih Anda jadi target.” (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Pernyataan Alam menampar romantisme tentang masa lalu yang “lebih tertib.” Konflik dulu mungkin sektarian, tetapi setidaknya garis bahayanya dikenali, sedangkan kini kebencian bisa bergerak cair, menempel pada ras, status migran, dan apa pun yang viral hari itu. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Karena itu, jawaban tidak cukup hanya penegakan hukum di titik kerusuhan. Negara perlu menggabungkan perlindungan komunitas minoritas, komunikasi publik yang cepat, dan kebijakan sosial yang mengurangi rasa ditinggalkan, agar ruang rekrutmen ekstremisme menyempit. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Kerusuhan Belfast menunjukkan betapa rapuhnya rasa aman, bahkan di kota yang telah melewati proses perdamaian panjang. Bagi Paul Sharkey, van terbakar yang meluncur ke rumahnya bukan sekadar insiden, melainkan alarm bahwa kekerasan bisa kembali dengan wajah baru. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang bersalah dalam satu kasus penusukan, tetapi siapa yang diuntungkan ketika ketakutan kolektif diarahkan pada minoritas. Jika masyarakat membiarkan disinformasi dan politik kambing hitam tumbuh, maka “the Troubles” bisa kembali sebagai “troubles” versi digital—lebih cepat menyebar, lebih sulit dibendung, dan lebih acak memilih korban. (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)