DHS dan ICE Bidik Pengacara Imigrasi, Klaim Suaka Palsu

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemerintah AS melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) memerintahkan pengacara ICE mengejar kasus penipuan administratif terhadap pengacara imigrasi yang dituduh mengajukan klaim suaka palsu. Memo tertanggal 26 Mei itu menandai babak baru pengetatan penegakan hukum imigrasi, sekaligus menguji batas antara pemberantasan fraud dan perlindungan hak atas pembelaan hukum. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Dalam memo yang diperoleh CBS News, Penasihat Hukum DHS James Percival meminta pengacara ICE di Office of the Principal Legal Advisor menyusun “kebijakan anti-penipuan” untuk “penegakan yang kuat” atas hukum anti-fraud federal yang sudah ada. Arahan itu secara eksplisit menyebut penindakan terhadap pengacara imigrasi yang mengajukan klaim suaka palsu di pengadilan imigrasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Memo ini tidak menciptakan sanksi baru, tetapi mendorong penggunaan alat penegakan administratif yang selama ini jarang dipakai seagresif yang diinginkan DHS. Fokusnya bukan hanya pada migran yang dituduh memalsukan dokumen, melainkan juga pada pengacara yang menyiapkan atau membantu pengajuan klaim. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Percival menulis bahwa “selama bertahun-tahun, jutaan imigran ilegal telah melakukan penipuan pada sistem imigrasi,” tanpa memaparkan data rinci. Ia juga menegaskan bahwa praktik itu “paling merajalela” di pengadilan imigrasi, sehingga menurutnya perlu respons yang lebih keras dari ICE. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di sisi lain, hukum AS membedakan hak untuk mengajukan suaka dan hak untuk menerimanya. Undang-undang federal menyatakan setiap nonwarga negara yang hadir secara fisik di AS atau tiba di AS, termasuk di luar pelabuhan masuk resmi dan terlepas dari status, boleh mengajukan suaka. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Namun, agar disetujui, pemohon harus membuktikan kualifikasi, umumnya “ketakutan yang beralasan” atas persekusi karena ras, agama, kebangsaan, opini politik, atau keanggotaan kelompok sosial tertentu. Ruang pembuktian inilah yang kerap menjadi arena sengketa, karena narasi ancaman sering beririsan dengan interpretasi hukum dan fakta lapangan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Instrumen yang dirujuk memo Percival memungkinkan pemerintah menjatuhkan denda perdata atas dugaan penipuan dokumen terkait imigrasi. Sasaran dapat mencakup pihak yang “secara sadar” menyiapkan, mengajukan, atau membantu mengajukan permohonan yang palsu atau berisi pernyataan palsu. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Proses biasanya dimulai dengan “notice of intent to fine,” yakni dokumen tuduhan formal yang menyatakan pemerintah meyakini terjadi pelanggaran dan denda dapat dijatuhkan. Penerima dapat menggugat tuduhan di hadapan hakim hukum administrasi, tetapi beban reputasi dan biaya pembelaan sudah berjalan sejak awal. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Angka dendanya tidak kecil dan bersifat akumulatif. Departemen Kehakiman AS mencatat pelanggaran pertama dapat didenda hingga US$4.730 per dokumen atau perbuatan, sedangkan pelanggaran berikutnya bisa mencapai US$11.823 per dokumen atau perbuatan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pemerintah juga dapat meminta perintah “cease-and-desist” terhadap target tertentu. Bagi pengacara, temuan fraud dapat dirujuk ke otoritas disipliner dan berpotensi berujung skorsing atau dikeluarkan dari praktik di pengadilan imigrasi. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Dalam kasus yang lebih serius, jaksa bahkan bisa mempertimbangkan dakwaan pidana. Sejarah penuntutan menunjukkan pemerintah sudah lama menindak skema suaka palsu yang terorganisasi, tetapi kini pendekatan administratif ditekankan sebagai jalur yang lebih cepat dan lebih sering. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Contoh yang disebut dalam laporan menunjukkan pola lama yang kini diberi akselerasi baru. Pada 2023, jaksa federal di New York City mengumumkan pengakuan bersalah pengacara imigrasi yang dituduh menyiapkan aplikasi suaka dan afidavit palsu serta melatih klien berbohong di bawah sumpah. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pada 2021, seorang pria Florida yang menyamar sebagai pengacara imigrasi dihukum lebih dari 20 tahun penjara setelah jaksa menyatakan ia mengajukan ratusan aplikasi suaka palsu. Pada 2019, seorang pengacara imigrasi di Queens, New York, dihukum lima tahun penjara karena mengoperasikan jaringan penipuan suaka. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Yang baru dari memo Percival adalah kritik internal terhadap ICE sendiri. Ia menulis bahwa secara historis ICE mengandalkan disiplin hakim imigrasi dan penegakan hukum pidana untuk mencegah perilaku ini, padahal “ICE punya alatnya sendiri.” (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Memo itu juga mengantisipasi isu konflik kepentingan. ICE diminta memastikan pengacara yang mengejar dugaan pelanggaran fraud dipisahkan secara tepat dari litigasi kasus imigrasi yang mendasarinya, agar proses tidak tampak sebagai tekanan langsung pada pembelaan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Secara politik, memo tersebut sejalan dengan dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mempercepat deportasi, memperluas penegakan, dan menantang “infrastruktur hukum” seputar imigrasi. Pada Maret, Trump mengeluarkan memo yang mengarahkan jaksa agung mencari sanksi terhadap pengacara dan firma yang membawa litigasi “sembrono, tidak masuk akal, dan mengganggu” melawan AS atau di hadapan lembaga federal. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Percival mengutip arahan Trump itu dan menuduh sebagian pengacara melatih migran untuk menyembunyikan fakta atau melebih-lebihkan klaim suaka. Ia menulis, “sebagaimana dijelaskan Presiden Trump,” bar imigrasi dan praktik pro bono firma besar kerap melatih klien untuk menyembunyikan masa lalu atau berbohong tentang keadaan saat mengajukan suaka. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Memo juga merujuk perintah eksekutif Januari berjudul “Protecting the American People Against Invasion.” Dokumen itu menyatakan pemerintah akan mengeksekusi hukum imigrasi secara setia terhadap nonwarga yang tidak dapat diterima dan dapat dideportasi, dan Percival menekankan ICE harus “menjaga dengan gigih” pengadilan imigrasi dari semua bentuk penipuan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di atas kertas, memburu penipuan dokumen adalah langkah yang tampak wajar karena sistem suaka bergantung pada kejujuran fakta. Penipuan yang dibiarkan bukan hanya merusak kepercayaan publik, tetapi juga menyabotase pemohon suaka yang benar-benar membutuhkan perlindungan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Namun, ketika target diperluas ke pengacara, garisnya menjadi lebih tipis dan lebih berbahaya. Risiko “chilling effect” muncul, karena pengacara bisa memilih menolak kasus-kasus sulit demi menghindari tuduhan, sementara pemohon yang rentan kehilangan akses pendampingan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Memo Percival menampilkan asumsi luas bahwa klaim suaka sering diproduksi massal, seolah-olah “hampir setiap” imigran ilegal dikonstruksikan sebagai korban persekusi. Pernyataan seperti ini dapat memengaruhi iklim pengadilan, karena ia menggeser praduga dari evaluasi individual menuju kecurigaan sistemik. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Padahal, hukum suaka memang menyediakan hak mengajukan permohonan yang lebih luas daripada peluang untuk disetujui. Perbedaan itu sengaja dibuat agar orang yang mungkin terancam tetap bisa didengar, meski pada akhirnya banyak yang tidak memenuhi standar pembuktian. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Di sinilah dilema kebijakan publiknya: mempercepat deportasi sambil membersihkan fraud bisa berubah menjadi proyek menekan litigasi dan advokasi. American Immigration Lawyers Association sebelumnya menyebut memo presiden Maret sebagai ancaman “berbahaya,” dan kelompok advokasi memperingatkan pemerintah berupaya menghalangi tantangan hukum serta menciutkan representasi suaka. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Jika penegakan administratif dipakai secara selektif atau agresif tanpa pagar akuntabilitas, ia berpotensi menjadi alat untuk mendisiplinkan profesi hukum, bukan sekadar menertibkan dokumen. Tetapi jika dipakai dengan standar pembuktian yang jelas dan pemisahan konflik yang ketat, ia bisa memukul jaringan penipuan yang selama ini bersembunyi di balik jasa hukum. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Memo DHS yang mengarahkan ICE memburu pengacara imigrasi dalam kasus klaim suaka palsu menunjukkan arah baru penegakan: lebih cepat, lebih administratif, dan lebih menyasar “perantara” di ruang sidang. Ini bisa menjadi koreksi penting terhadap skema fraud, tetapi juga bisa menjadi sinyal intimidasi terhadap pembelaan hukum yang sah. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pertanyaan kuncinya bukan apakah penipuan harus ditindak, melainkan bagaimana menindak tanpa mengorbankan hak untuk mengajukan suaka dan hak untuk didampingi pengacara. Ketika negara memperluas daya paksa, publik perlu menuntut transparansi standar, mekanisme banding yang adil, dan pemisahan peran yang benar-benar dijalankan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)

Pada akhirnya, integritas sistem imigrasi tidak hanya diukur dari jumlah deportasi atau denda, tetapi dari kemampuan membedakan tipu daya dari keputusasaan yang nyata. Jika pengadilan imigrasi berubah menjadi ruang yang dipenuhi ketakutan, maka kebenaran justru makin sulit ditemukan. (Orbit dari berbagai sumber, 29 Mei 2026)