Grindset Startup AI: Nico Laqua, Kerja 7 Hari dan Tidur 3 Jam

Business Insider

Business Insider

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Grindset startup AI kembali jadi sorotan setelah Nico Laqua, pendiri Corgi, mengaku rela memendekkan umur demi mencegah perusahaannya gagal. Ia bekerja tujuh hari seminggu, tidur di kantor, dan hanya beristirahat tiga sampai empat jam per malam. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Corgi, perusahaan asuransi berbasis AI yang didirikan 2024, melesat menjadi unicorn pada Mei dengan valuasi US$1,3 miliar. Tiga minggu kemudian, perusahaan itu disebut menggelar putaran lanjutan Series B1 dengan valuasi US$2,6 miliar. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Di podcast “20VC”, host Harry Stebbings menantang Laqua dengan dilema ekstrem: jadi perusahaan triliun dolar tapi meninggal di usia 50, atau gagal tapi hidup sampai 80. Laqua menjawab datar, “I’m dying either way,” lalu menegaskan ia lebih memilih “mengukur hidup dalam kemenangan, bukan tahun.” (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Pernyataan itu menempel pada tren yang lebih luas di teknologi: budaya kerja terkunci, grindset, dan jadwal “996” yang populer di kalangan pendiri. Dalam versi ini, jam panjang dianggap bukan sekadar strategi, melainkan identitas. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Laqua mengaku punya kasur di lantai kantor yang oleh karyawan disebut “Nico’s room”. Ia pernah mandi di pusat kebugaran dekat kantor, sampai jam tutup yang lebih cepat membuat rutinitas itu “tidak menyenangkan.” (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Ia juga menyebut tidur tiga sampai empat jam per malam sebagai harga yang layak dibayar. Dalam logika ini, tubuh diperlakukan seperti sumber daya proyek, bukan rumah yang harus dipulihkan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Soal kerja tujuh hari, Laqua berargumen sederhana: lima hari kalah produktif dibanding enam atau tujuh. Ia menambahkan bahwa startup berpertumbuhan tinggi di San Francisco sering penuh pada akhir pekan, dan ia menganggap itu bukan kebetulan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Namun Corgi tidak memberi “akhir pekan” sebagai ritual, melainkan hari libur yang muncul sesekali. Laqua bahkan berkata, bila libur Anda “kebetulan” selalu Sabtu dan Minggu, “Anda tidak akan punya tempat di Corgi.” (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Sinyal budaya itu diperkuat oleh cerita tato logo Corgi pada “dua pertiga dari 30 anggota tim pertama.” Angka tersebut muncul dari unggahan Stebbings dan laporan Wall Street Journal, meski tidak dibahas di episode podcastnya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Menurut PitchBook, Corgi memiliki 177 karyawan, sehingga kisah tato lebih tepat dibaca sebagai legenda internal awal perusahaan. Di media sosial, reaksi terbelah antara sinis, geli, dan penasaran, dari “clown show” hingga sekadar “Hmmmm.” (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Laqua membela simbol dan kosmetika merek dengan membandingkannya pada pemerintah dan agama yang menaruh perhatian pada ikon. Dalam kerangka ini, branding bukan aksesori, melainkan alat kohesi, disiplin, dan pembentuk loyalitas. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Budaya kerja ekstrem seperti ini sering dijual sebagai keberanian, padahal ia juga bisa menjadi mekanisme seleksi yang keras. Ia menyaring orang bukan berdasarkan kompetensi semata, tetapi berdasarkan kesediaan menyerahkan ritme hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Ketika pendiri berkata “mati juga pada akhirnya,” ia sedang menormalisasi gagasan bahwa kesehatan adalah variabel yang bisa dinegosiasikan. Ini berbahaya karena mengubah pengorbanan menjadi standar moral, bukan pilihan personal. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Kritik Karri Saarinen dari Linear menohok: banyak pendiri muda menjadikan startup sebagai identitas, lalu sulit memahami bahwa kerja bukan seluruh diri. Laqua membalas singkat, “Jika Anda terobsesi pada masalah, Anda bekerja keras,” dan di situlah garis tipis antara fokus dan fanatisme. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Tato logo perusahaan memperlihatkan bagaimana identitas kolektif dibangun melalui simbol permanen. Dalam organisasi, simbol bisa menguatkan solidaritas, tetapi juga dapat menekan individu agar membuktikan loyalitas dengan cara yang tidak proporsional. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Dalam sejarah bisnis, jam kerja panjang memang sering muncul pada fase awal, tetapi tidak selalu berkorelasi dengan keputusan yang lebih baik. Kurang tidur terbukti dalam banyak riset kesehatan menurunkan konsentrasi dan meningkatkan kesalahan, sehingga “lebih lama” tidak identik dengan “lebih tajam.” (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Masalahnya bukan bekerja keras, melainkan menjadikan kerja tanpa batas sebagai satu-satunya definisi keunggulan. Ketika perusahaan menolak “akhir pekan ritual,” ia sedang menguji ketaatan, bukan sekadar mengejar produktivitas. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Kisah Nico Laqua dan Corgi memperlihatkan wajah grindset startup AI yang sedang naik daun: valuasi meroket, jam kerja memanjang, dan simbol loyalitas mengeras. Ia mengundang kekaguman sekaligus kekhawatiran, karena keberhasilan jangka pendek bisa dibayar dengan kelelahan jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)

Pertanyaan akhirnya sederhana, tetapi tidak nyaman: apakah kita sedang membangun teknologi yang memanusiakan hidup, atau budaya kerja yang mengikisnya. Jika sebuah perusahaan hanya punya tempat bagi orang yang menolak Sabtu-Minggu, apa yang sebenarnya sedang diproduksi—produk, atau keyakinan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Juli 2026)