Transportasi Ramah Lingkungan: Emisi Transportasi Darat dan Solusi Mobilitas Hijau

RRI.co.id

RRI.co.id

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Transportasi ramah lingkungan mendadak terasa personal ketika kita sadar setiap perjalanan ikut menambah jejak emisi. Di Indonesia, emisi transportasi darat menjadi sorotan karena menyumbang porsi terbesar dari polusi yang kita hirup setiap hari.

Mobilitas modern menuntut kita bergerak cepat, murah, dan fleksibel. Namun konsekuensinya datang dalam bentuk udara kotor, kebisingan, dan kota yang makin sesak.

Kementerian Perhubungan mencatat sektor transportasi menghasilkan sekitar 157 juta ton CO₂ pada 2024. Sekitar 87% di antaranya berasal dari transportasi darat, yang berarti sumber masalah paling besar ada di jalan raya.

Di titik ini, transportasi ramah lingkungan bukan lagi jargon kampanye. Ia berubah menjadi kebutuhan kesehatan publik dan strategi bertahan hidup kota-kota besar.

Perubahan perilaku tidak akan terjadi jika pilihan transportasi hijau sulit diakses. Karena itu, pembangunan MRT, LRT, KRL, dan peremajaan layanan bus menjadi tulang punggung yang menentukan apakah orang mau meninggalkan kendaraan pribadi.

Tren kendaraan listrik juga menunjukkan akselerasi, meski belum merata. Data GAIKINDO mencatat penjualan kendaraan elektrik mencapai 175.144 unit pada 2025, naik dari 103.228 unit pada 2024.

Kenaikan itu penting, tetapi tidak otomatis menyelesaikan kemacetan dan ketimpangan akses. Jika satu mobil bensin diganti satu mobil listrik, jalan tetap padat dan ruang kota tetap habis untuk parkir.

Di sisi lain, elektrifikasi transportasi umum memberi efek pengganda yang lebih kuat. Satu bus listrik yang nyaman dapat memindahkan puluhan orang sekaligus, sehingga emisi per penumpang turun lebih signifikan.

Masalah berikutnya adalah “biaya transisi” yang sering dipindahkan ke warga. Tarif, integrasi antarmoda, dan kepastian jadwal menjadi faktor yang menentukan, bukan sekadar teknologi kendaraan.

Transportasi ramah lingkungan juga mencakup pilihan yang paling murah sekaligus paling sehat. Berjalan kaki dan bersepeda untuk jarak dekat sering kalah bukan oleh niat, melainkan oleh trotoar rusak, jalur sepeda terputus, dan rasa tidak aman.

Kita kerap menganggap solusi ada pada pembelian kendaraan listrik, seolah masalah selesai di garasi rumah. Padahal akar persoalan ada pada desain kota yang memaksa orang bergantung pada kendaraan pribadi.

Mengurangi emisi transportasi darat berarti mengubah sistem, bukan hanya mengganti mesin. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan berapa banyak mobil listrik terjual, melainkan berapa banyak perjalanan harian yang bisa dilakukan tanpa mobil.

Pilihan individu tetap penting, tetapi jangan dijadikan satu-satunya beban moral. Ketika transportasi umum tidak terhubung, tidak tepat waktu, dan tidak nyaman, ajakan “naik angkutan umum” terdengar seperti nasihat yang tidak menjejak realitas.

Karena itu, langkah paling masuk akal adalah strategi berlapis. Warga bisa mulai dari berbagi kendaraan, memilih transportasi umum saat memungkinkan, berjalan kaki untuk jarak dekat, atau mengubah sebagian urusan menjadi online.

Pemerintah daerah dan pusat perlu memastikan prasyaratnya hadir di lapangan. Trotoar, jalur sepeda, integrasi tiket, dan kepastian headway adalah bentuk keberpihakan yang lebih nyata daripada sekadar slogan hijau.

Transportasi ramah lingkungan pada akhirnya bukan lomba menjadi paling suci, melainkan keberanian untuk memulai dari pilihan yang paling mungkin. Setiap perjalanan adalah suara kecil tentang kota seperti apa yang ingin kita tinggali.

Jika emisi transportasi darat terus mendominasi, maka perubahan harus dimulai dari cara kita merancang jalan, layanan, dan kebiasaan. Pertanyaannya sederhana tetapi menohok: besok pagi, apakah kita bergerak hanya untuk cepat sampai, atau juga untuk memastikan kota tetap layak bernapas? (Orbit dari berbagai sumber, 30 Oktober 2026)