Kubik Society Pajang Wajah Penjahit di Label Produk, Hadirkan Apresiasi bagi Sosok di Balik Layar
Di dunia fesyen, perhatian publik umumnya tertuju pada desain, tren, atau nama besar sebuah merek. Sementara itu, orang-orang yang bekerja di balik proses produksi sering kali luput dari perhatian. Berbeda dengan kebanyakan brand clothing, Kubik Society, brand streetwear asal Surakarta, memilih menghadirkan cara yang lebih personal untuk mengapresiasi para penjahit yang menjadi bagian penting dalam setiap produknya.
Melalui label yang terpasang pada setiap pakaian, Kubik Society tidak hanya mencantumkan informasi produk seperti umumnya. Brand ini juga menampilkan foto, nama, dan profil singkat para penjahit yang terlibat dalam proses pembuatannya. Langkah sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap pakaian lahir dari tangan-tangan terampil yang selama ini bekerja di balik layar.
Di tengah industri fesyen yang identik dengan strategi pemasaran menggunakan model atau figur publik, pendekatan Kubik Society menawarkan sudut pandang berbeda. Label produk tidak lagi sekadar menjadi identitas merek, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan orang-orang yang berperan dalam menghasilkan kualitas setiap produk.
Kubik Society sendiri merupakan brand streetwear yang berdiri pada 2021. Didirikan oleh Ahmad Fauzan Tirmidzi, usaha ini berawal dari aktivitas sebagai reseller dengan modal sekitar Rp900 ribu. Melihat potensi industri fesyen lokal, ia kemudian membangun mereknya sendiri dengan mengusung konsep pakaian kasual yang menyasar kalangan anak muda. Seiring perkembangannya, Kubik Society menghadirkan berbagai produk fesyen, mulai dari kaos, kemeja, flanel, celana, sling bag, tas, hingga aksesori seperti kacamata.
Pemasarannya dilakukan melalui berbagai platform digital, termasuk marketplace dan media sosial, sehingga mampu menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Bahkan, produk Kubik Society telah dipasarkan hingga Malaysia, Thailand, dan Jepang melalui program ekspor berbasis platform digital.
Namun, di balik pertumbuhan bisnis tersebut, Kubik Society berusaha mempertahankan nilai yang jarang diangkat dalam industri fesyen, yakni memberikan ruang apresiasi kepada para pekerja konveksi. Dalam salah satu kampanyenya, label produk memuat wajah serta identitas singkat para penjahit, seperti Pak Anton, Pak Victura, dan Bu Jeki. Kehadiran mereka pada label produk menjadi simbol bahwa keberhasilan sebuah brand tidak hanya dibangun oleh pendiri atau tim pemasaran, tetapi juga oleh para pekerja yang mengerjakan setiap jahitan dengan ketelitian dan dedikasi.
Inisiatif tersebut mendapat perhatian publik karena menghadirkan sisi kemanusiaan dalam sebuah produk komersial. Konsumen tidak hanya membeli pakaian, tetapi juga diajak mengenal cerita di balik proses pembuatannya. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa transparansi dan penghargaan terhadap sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari identitas sebuah merek. Langkah Kubik Society menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu hadir dalam bentuk desain atau teknologi baru. Dengan mengangkat sosok-sosok yang selama ini berada di balik layar, Kubik Society menghadirkan nilai emosional yang memperkuat kedekatan dengan konsumennya. Sebab, di balik setiap karya, selalu ada tangan-tangan terampil yang layak dikenal dan dikenang.