Deadlock Pendanaan DHS: ICE, Trump, dan Krisis Homeland Security

ORBITINDONESIA.COM – Deadlock pendanaan DHS kembali mengguncang Washington, setelah Senat AS pulang lebih cepat meski ada tenggat 1 Juni dari Presiden Donald Trump. Di balik istilah “homeland security” yang dulu menenangkan, kini yang terlihat justru ketidakamanan politik: ICE dan Border Patrol jadi sandera tarik-menarik menjelang pemilu paruh waktu.

Senat AS membubarkan sidang lebih cepat karena pimpinan Partai Republik belum siap memulihkan pendanaan untuk dua komponen kunci Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Tenggat 1 Juni yang ditetapkan Trump tidak terpenuhi, dan mesin legislasi macet di saat kalender politik semakin panas.

Di masa jabatan kedua Trump, kebuntuan paling sensitif kembali menyentuh Border Patrol dan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Demokrat menolak memberi suara yang dibutuhkan untuk mendanai kedua lembaga itu, setelah upaya reformasi mereka mentok di tengah kontroversi yang menyita perhatian publik.

Awal bulan ini, Republik sempat yakin punya jalan prosedural agar dana mengalir tanpa dukungan Demokrat. Namun Departemen Kehakiman mengumumkan “Anti-Weaponization Fund” senilai hampir 1,8 miliar dolar AS, untuk memberi kompensasi kepada orang yang mengaku pernah dituntut atau diselidiki pada era Joe Biden.

Yang diperkirakan paling cepat mengantre kompensasi adalah pihak-pihak terkait serangan 6 Januari 2021 ke Gedung Capitol, termasuk mereka yang divonis memukuli polisi. Serangan pendukung Trump itu sempat menghentikan sidang sertifikasi kekalahan Trump dari Biden pada pemilu November 2020.

Sejumlah senator Republik menilai dana kompensasi itu keterlaluan, meski program itu bukan bagian DHS. Senator Thom Tillis dari North Carolina menyebutnya “kebodohan yang ditinggikan,” dan sebagian anggota yang pernah mengungsi dari Capitol enggan melihat “cek besar pemerintah” mengalir ke pelaku yang sudah dihukum.

Ironinya, karena program itu lahir dari Gedung Putih dan Departemen Kehakiman, bukan DHS, dampak politiknya tetap menghantam DHS. Memasuki musim panas dan kuartal keempat tahun fiskal federal, komponen penting DHS terancam tetap tanpa pendanaan.

DHS sejak awal memang magnet kontroversi dan ajang brinkmanship, sehingga menyebutnya saja kini memanggil bayang-bayang kekacauan. Publik mengaitkannya dengan ICE dan Customs and Border Protection, termasuk narasi penggerebekan bertopeng tanpa perintah pengadilan dan pembangunan pusat-pusat detensi besar-besaran.

Padahal, bagi generasi yang lebih muda, mungkin mengejutkan bahwa DHS dulu dirancang untuk persatuan. Istilah “homeland security” awalnya dimaksudkan sebagai kata yang menenangkan, bukan pemicu polarisasi.

Gagasan DHS lahir dari trauma 9/11, ketika hampir 3.000 orang tewas dan citra Menara Kembar runtuh mengubah Amerika dalam sehari. Peristiwa itu menyatukan publik seperti Pearl Harbor 1941, dan tingkat persetujuan Presiden George W. Bush di Gallup melonjak dari kisaran 40 persen ke lebih dari 90 persen.

Di tangga Capitol pada 11 September 2001, banyak anggota Kongres berdiri bersama menyanyikan “God Bless America.” Energi kolektif itu diharapkan mendorong dukungan publik dan melahirkan undang-undang baru untuk menutup celah keamanan yang terbuka.

DHS dirancang untuk menyatukan intelijen, keselamatan, penyelamatan, bantuan, dan keamanan di bawah satu komando. Tujuannya memecah “stove-piping,” kebiasaan lembaga menyimpan informasi sendiri, yang diyakini ikut memungkinkan teror 9/11 terjadi.

Penggabungan 22 lembaga dimaksudkan menciptakan massa politik yang cukup kuat agar reformasi bertahan. Komponen populer seperti Coast Guard dan keamanan bandara membantu menopang fungsi yang lebih problematik secara politik seperti ICE dan Border Patrol.

DHS dibentuk pada akhir 2002 lewat Homeland Security Act, dengan sekitar 260.000 pegawai saat ini, hanya kalah besar dari Departemen Pertahanan dan Urusan Veteran. Namun perjalanan legislasi yang awalnya bipartisan itu segera terseret tekanan partisan yang membuat “gridlock” menjadi kebiasaan Washington.

Retaknya persatuan dipicu isu hak perundingan kolektif bagi pegawai federal yang dipindahkan ke DHS. Bush dan Republik memaksakan pembatasan, Demokrat menolak, dan perdebatan serikat pekerja yang sudah lama membelah Kongres kembali meledak.

Saat perdebatan itu menunda RUU selama berbulan-bulan, Republik menstigma penentang sebagai “lemah terhadap teror.” Sejak itu, kebutuhan menjaga fungsi krusial seperti Transportation Security Administration memicu adu kuat berkepanjangan dan ancaman shutdown berulang.

Artikel sumber bahkan menyebut shutdown federal penuh terpanjang berlangsung 43 hari pada musim gugur 2025. Polanya jelas: isu penghambat sering kali tidak terkait langsung dengan keamanan nasional, tetapi menumpang pada label “homeland security” agar punya daya tekan.

Secara teknis, DHS dan pembentukan Director of National Intelligence dua tahun setelahnya memang meningkatkan arus informasi antarlembaga. Namun, menyatukan begitu banyak fungsi kritis membuat DHS menjadi tuas politik yang menggoda, karena memblokirnya menciptakan efek domino yang luas.

Preseden 2015 menunjukkan bagaimana pendanaan DHS dipakai sebagai senjata politik saat Republik memprotes kebijakan imigrasi Barack Obama. Kini, di era Trump, arah pertarungan berbalik: Demokrat menahan pendanaan karena menuntut reformasi ICE.

Episode 2002 memperlihatkan betapa efektif label keamanan digunakan dalam kampanye. Karl Rove melihat Homeland Security Act sebagai peluang politik, dan perdebatan hak pegawai dijadikan panggung untuk menekan Demokrat.

Senator Max Cleland, veteran Vietnam yang kehilangan tiga anggota tubuh, akhirnya menerima kompromi dan memilih meloloskan RUU. Namun penantangnya, Saxby Chambliss, menayangkan iklan yang menampilkan Osama bin Laden lalu mempertanyakan komitmen Cleland, iklan yang dikecam tetapi memukul telak.

Chambliss menang, dan Republik meraih lonjakan dukungan yang tidak lazim dalam pemilu paruh waktu 2002. Bush menjadi presiden pertama sejak FDR pada 1934 yang partainya menambah kursi di DPR dan Senat pada midterm, dan kisah Cleland menjadi peringatan abadi bagi politisi yang menentang sesuatu yang bisa diberi label “homeland security.”

Kini, “mata rantai terlemah” pendanaan DHS adalah komponen yang paling tidak populer di Capitol Hill, yakni ICE. Pengetatan imigrasi yang dikaitkan dengan Stephen Miller memicu penolakan, dan Demokrat memblokir pendanaan bukan hanya ICE, tetapi untuk waktu lama juga DHS sebagai induknya.

Republik menolak bernegosiasi soal reformasi ICE atau Border Patrol, sehingga kebuntuan berlanjut. Mereka mencoba jalur “budget reconciliation” agar bisa meloloskan pendanaan dengan suara sendiri, tetapi itu menuntut disiplin penuh di barisan yang sedang gelisah.

Di saat yang sama, paket rekonsiliasi sempat ingin memuat 1 miliar dolar AS untuk ballroom baru di dekat Gedung Putih. Ada juga dorongan legislasi terpisah untuk memperketat dokumentasi kewarganegaraan pemilih, dan kedua ide itu membuat sebagian Republik sendiri ragu.

Masuknya “Anti-Weaponization Fund” menjadi beban tambahan yang menggerus kesatuan internal. Peta pemilu Senat 2026 memang cenderung menguntungkan Republik karena banyak negara bagian yang dimenangi Trump pada 2024, tetapi jajak pendapat terbaru digambarkan membuat prospek itu jauh kurang pasti.

Konflik dengan Iran yang berlarut dan kenaikan harga bensin serta kebutuhan pokok ikut mempersempit ruang manuver. Saat mayoritas di Capitol Hill terasa rapuh, pendanaan lembaga yang seharusnya melindungi negara justru semakin mudah dijadikan alat tawar.

Deadlock pendanaan DHS menunjukkan paradoks Amerika modern: keamanan dijual sebagai moralitas, tetapi dipraktikkan sebagai transaksi politik. Istilah “homeland security” berubah dari bahasa persatuan pasca-9/11 menjadi stempel yang mematikan debat rasional.

Masalahnya bukan sekadar Demokrat melawan Republik, melainkan insentif sistem yang mendorong politisi menjadikan DHS sandera agar lawan terlihat ekstrem. Ketika pendanaan TSA, Coast Guard, dan layanan darurat ikut terganggu hanya karena sengketa ICE, publik membayar harga dari permainan citra.

Dana kompensasi 1,8 miliar dolar AS memperlihatkan bagaimana isu yang tidak terkait DHS bisa menjatuhkan DHS. Ini menegaskan bahwa yang diperebutkan bukan hanya kebijakan, tetapi narasi: siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang berhak atas legitimasi negara.

Jika “homeland security” terus dipakai sebagai payung untuk agenda yang saling bertabrakan, maka keamanan menjadi slogan yang kehilangan makna. Pada titik itu, negara tidak lagi bertanya bagaimana melindungi warga, tetapi bagaimana memenangkan putaran berita berikutnya.

DHS lahir dari luka 9/11 dan janji untuk meruntuhkan tembok antarinstansi, tetapi justru menjadi tembok baru di politik Washington. Kebuntuan ICE, Border Patrol, dan paket-paket tambahan seperti ballroom atau aturan pemilih menunjukkan betapa mudah keamanan dipelintir menjadi alat tawar.

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya kapan pendanaan akan disahkan, melainkan apa yang sebenarnya dimaksud Amerika dengan “keamanan.” Jika keamanan terus dipertukarkan demi keuntungan elektoral jangka pendek, publik akan mewarisi negara yang keras dalam retorika tetapi rapuh dalam tata kelola.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Mei 2026)