Cekungan Kipas Antartika Timur: Rahasia Tektonik di Bawah Es

Live Science

Live Science

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Struktur raksasa berbentuk kipas di bawah Lembaran Es Antartika Timur menghubungkan sejumlah cekungan terkenal, dari Wilkes hingga Aurora, dan diduga terkait pecahnya Gondwana. Para ilmuwan menyebutnya jejak “distributed rotational extension”, proses tektonik yang membuat kerak Bumi membuka seperti jari-jari tangan yang mengembang.

Para peneliti menemukan pola mencolok: banyak cekungan terkubur di Antartika Timur tampak memancar dari satu titik pusat. Cekungan-cekungan itu sebelumnya sudah dideskripsikan, tetapi belum pernah dipahami sebagai satu sistem terpadu.

Tim yang dipimpin Egidio Armadillo dari University of Genoa menelaah topografi subglasial, geologi, serta data gravitasi, magnetik, dan seismik. Mereka juga menjalankan pemodelan untuk mensimulasikan pembentukan struktur yang kemudian dinamai East Antarctic Fan-Shaped Basin Province.

Hasilnya dipublikasikan di Nature Geoscience pada 3 Juni, dan menegaskan bahwa Antartika masih menyimpan “ruang kosong” pengetahuan karena lebih dari 99% batuan dasar tertutup es. Armadillo menekankan integrasi data menjadi kunci, sebab es setebal lebih dari 3 kilometer menyamarkan bentuk asli kerak Bumi.

Distributed rotational extension adalah deformasi kerak yang berputar dan menyebar dari titik tetap, sehingga membentuk “jari-jari” dan celah di antaranya. Celah itulah yang muncul sebagai cekungan segitiga, dan di Antartika Timur cekungan-cekungan itu tampaknya membentuk satu provinsi tektonik berskala benua.

Studi ini mengaitkan proses tersebut dengan fitur besar, termasuk Cekungan Wilkes, Cekungan Aurora, dan cekungan yang menampung Danau Vostok, danau subglasial terbesar yang diketahui di Bumi. Armadillo menyebut pengenalan struktur sebesar ini “cukup luar biasa”, karena contoh sejelas ini jarang terdeteksi pada kerak benua yang tertutup total.

Masalahnya, waktunya belum pasti dan mungkin terjadi dalam lebih dari satu fase. Namun tim menduga kuat kaitannya dengan evolusi tektonik panjang yang mendahului dan menyertai perpecahan Gondwana, terutama pemisahan Antartika dan Australia.

Gondwana mulai terpecah sekitar 180 juta tahun lalu, membentuk cikal bakal benua modern. Pemisahan Antartika-Australia diperkirakan terjadi sekitar 70 juta tahun lalu, mendekati akhir Kapur (145–66 juta tahun lalu).

Provinsi cekungan berbentuk kipas ini diduga melemahkan zona di utara provinsi yang kemudian robek, sehingga memfasilitasi pemisahan “terlambat” Antartika-Australia. Armadillo juga membuka kemungkinan kipas itu terus “mengembang” bahkan setelah kedua daratan berpisah, yang berarti deformasinya tidak berhenti pada satu episode.

Konsekuensi geologinya besar karena struktur itu membuka beberapa cekungan raksasa yang kini terkubur di bawah lebih dari 1,8 mil atau sekitar 3 kilometer es. Di barat, pembentukannya mungkin berkontribusi pada pengangkatan Pegunungan Gamburtsev yang skala dan bentuknya mirip Alpen Eropa, tetapi sepenuhnya tersembunyi.

Di timur, penyebaran “jari-jari” kemungkinan membantu memutar dan memecah Pegunungan Transantarktika yang membelah Antartika Timur dan Barat. Jika benar, peta tektonik Antartika Timur bukan mosaik cekungan terpisah, melainkan satu “mesin deformasi” yang mengatur lanskap sekelilingnya.

Namun mekanisme pemicunya masih belum diketahui, dan ini justru menjadi titik paling produktif dari temuan tersebut. Armadillo menyatakan studi ini tidak menutup masalah, melainkan membuka arah riset baru, terutama untuk mengunci waktu deformasi dengan lebih ketat.

Temuan ini menantang stereotip lama bahwa Antartika Timur adalah kraton tua yang dingin dan stabil. Ketika wilayah yang dianggap “paling tenang” ternyata menyimpan deformasi besar, kita dipaksa mengakui bahwa ketenangan geologi sering hanya ilusi akibat keterbatasan pengamatan.

Di sini, es bukan sekadar penutup, melainkan penghapus jejak yang membuat sains bergantung pada proksi seperti gravitasi, magnetik, dan seismik. Karena itu, klaim tentang “provinsi tektonik koheren” harus diperlakukan sebagai hipotesis kuat, bukan vonis final, sampai bukti waktu dan mekanisme menguat.

Yang paling relevan bagi publik adalah implikasi iklimnya, karena tektonik dapat memengaruhi jalur gletser dan ice stream ketika es mencair. Jika lanskap dasar es dikendalikan sistem kipas raksasa, maka respons Lembaran Es Antartika Timur terhadap pemanasan global mungkin lebih kompleks daripada model yang menganggap dasarannya statis.

East Antarctic Fan-Shaped Basin Province mengingatkan bahwa benua paling beku di Bumi masih bergerak dalam sejarah panjangnya, meski kini tampak membatu. Di bawah 3 kilometer es, ada rekaman pecahnya Gondwana yang mungkin masih membentuk cara es mengalir hari ini.

Pertanyaan kuncinya sederhana tetapi menentukan: kapan tepatnya kipas itu terbentuk, dan apa yang memutarnya? Selama 99% batuan dasar masih tersembunyi, Antartika akan terus memaksa kita rendah hati, bahwa peta terbaik pun bisa salah membaca dunia yang tertutup rapat. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juni 2026)