Obat Kanker RAS Daraxonrasib Tembus Target Undruggable
ORBITINDONESIA.COM – Obat kanker RAS bernama daraxonrasib memantik optimisme baru setelah uji klinis besar pada kanker pankreas stadium lanjut menunjukkan lonjakan kelangsungan hidup yang nyaris dua kali lipat. Data yang dipresentasikan di pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) di Chicago pada 31 Mei dan terbit di New England Journal of Medicine menyebut median survival naik dari 6,7 bulan menjadi 13,2 bulan.
Selama puluhan tahun, protein RAS dicap “undruggable” karena permukaannya terlalu halus untuk “dikunci” obat, padahal mutasinya menggerakkan sebagian kanker paling mematikan. RAS bekerja seperti saklar on–off pertumbuhan sel, tetapi mutasi tertentu membuatnya terkunci di posisi “on” dan mendorong tumor terus membelah.
Terobosan pertama terjadi pada 2021, ketika obat anti-RAS disetujui di Amerika Serikat untuk satu mutasi spesifik pada KRAS. Namun cakupannya sempit dan resistensi tumor muncul cepat, sehingga kebutuhan akan strategi yang lebih luas tetap mendesak.
Dalam konteks itu, daraxonrasib tampil sebagai kandidat berbeda karena menonaktifkan tiga anggota keluarga RAS sekaligus. Ini bukan sekadar kabar baik ilmiah, tetapi juga sinyal bahwa target kanker yang tampak “tak tersentuh” bisa mulai ditaklukkan.
Uji klinis pada 500 pasien kanker pankreas stadium lanjut menunjukkan kelompok daraxonrasib bertahan hidup median 13,2 bulan, dibanding 6,7 bulan pada kemoterapi. Angka ini penting karena kanker pankreas dikenal sebagai salah satu diagnosis dengan kemajuan terapi paling lambat dalam dekade terakhir.
Presentasi hasilnya bahkan disambut standing ovation, menurut Ecaterina Dumbrava dari University of Texas MD Anderson Cancer Center. “Setelah lebih dari satu dekade tanpa kemajuan besar untuk kanker pankreas, melihat ini sangat emosional,” ujarnya di forum ASCO.
Obat ini dikembangkan Revolution Medicines (Redwood City, California) dan secara konsep memecahkan masalah klasik RAS yang “licin” dan sulit ditambatkan obat. Jika pendekatan ini dapat direplikasi, ia berpotensi mengubah peta riset onkologi yang selama ini terhambat oleh target protein serupa.
Namun capaian “dua kali lipat” tidak otomatis berarti kemenangan final, karena median survival tetap dihitung dalam bulan, bukan tahun. Tantangan berikutnya adalah durability respons, efek samping, serta biaya dan akses ketika terapi ini bergerak menuju regulasi dan praktik klinis.
Kevan Shokat dari University of California, San Francisco menilai daraxonrasib mungkin baru “langkah pertama” yang membuka pintu kombinasi terapi. Ia menyebut penggabungan daraxonrasib dengan obat KRAS mutasi tunggal bisa memberi manfaat lebih lama, dan variasi molekul ke depan mungkin menurunkan toksisitas.
Gelombang optimisme ini juga merembet ke target “undruggable” lain, terutama MYC yang dikaitkan dengan sekitar 70% kanker karena kadarnya berlebihan. MYC pun berpermukaan halus, dan penyebabnya sering berupa duplikasi gen atau aktivasi berlebih, bukan satu mutasi sederhana yang mudah dibidik.
Salah satu pendekatan yang menonjol adalah OMO-103 dari Peptomyc (Barcelona), sebuah “mini protein” yang mengganggu interaksi MYC dengan protein lain. Dalam uji kecil 19 peserta, kandidat ini menunjukkan sinyal awal yang cukup menjanjikan untuk terus didorong.
Di sisi lain, riset MYC bergerak lewat penyaringan pustaka senyawa skala besar dan bantuan kecerdasan buatan. Rosalie Sears di Oregon Health and Science University memanfaatkan AI untuk mencari senyawa yang mengikat bagian MYC yang membantu perbaikan DNA, kemampuan kunci sel tumor yang membelah cepat.
Michael Cole dari Dartmouth yang meneliti MYC lebih dari 40 tahun juga memburu senyawa yang menghambat kemampuan MYC mengaktifkan gen lain. Upaya ini ikut terdorong oleh euforia persetujuan obat KRAS, yang membuat investor dan komunitas ilmiah bertanya “apa target berikutnya”.
Ed Feris, CEO sekaligus co-founder cosMYC, mengatakan gaung persetujuan obat KRAS membantu pendanaan awal perusahaan. “Semua orang bertanya, ‘apa yang bisa kita lakukan berikutnya’,” ujarnya, dan jawaban yang mengemuka adalah MYC.
Artikel sumber juga mengangkat p53, “penjaga genom” yang mencegah sel dengan DNA rusak berkembang biak, dan gen p53 adalah yang paling sering bermutasi pada kanker. Pesan implisitnya jelas: setelah RAS mulai bisa ditundukkan, fokus akan bergeser ke pemulihan fungsi p53 dan target keras lain yang selama ini menghindar dari terapi konvensional.
Keberhasilan daraxonrasib adalah kemenangan sains, tetapi juga ujian cara kita membaca “terobosan” dalam kanker. Publik mudah terpukau oleh angka dua kali lipat, padahal yang lebih menentukan adalah siapa yang merespons, berapa lama respons bertahan, dan bagaimana kualitas hidup pasien selama terapi.
Optimisme “undruggable menjadi druggable” perlu disertai skeptisisme sehat, karena resistensi biologis hampir selalu datang sebagai babak berikutnya. Jika RAS akhirnya bisa disasar, tumor akan mencari jalur lain, dan itu berarti kombinasi obat serta biomarker presisi menjadi medan perang yang sesungguhnya.
Di saat yang sama, ada pelajaran kebijakan kesehatan yang tak boleh tertinggal, yakni akses. Terapi molekuler baru sering mahal dan terkonsentrasi di pusat kanker besar, sehingga manfaatnya bisa timpang bila sistem pembiayaan dan pemerataan layanan tidak mengejar kecepatannya.
Daraxonrasib memberi bukti bahwa label “tak mungkin” dalam biologi kanker bisa retak ketika kimia, klinik, dan desain uji bertemu pada saat yang tepat. Ia belum mengubah kanker pankreas menjadi penyakit kronis yang jinak, tetapi ia mengubah arah kompas riset dan menyalakan kembali harapan yang lama redup.
Pertanyaan berikutnya bukan hanya “obat apa lagi yang bisa dibuat,” melainkan “bagaimana memastikan terobosan ini menjadi standar yang adil, aman, dan tahan lama.” Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan standing ovation di konferensi, melainkan bulan-bulan tambahan yang bermakna bagi pasien, dan sistem yang mampu menghadirkannya tanpa meninggalkan siapa pun. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)