Lisan Pahlawan Bejijong: Dokumentasi Cerita Rakyat Desa Wisata
ORBITINDONESIA.COM – Program Lisan Pahlawan di Desa Bejijong, Trowulan, mengubah cerita lisan pahlawan lokal menjadi naskah tertulis yang rapi. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menandai langkah ini sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus penguat identitas desa wisata sejarah.
Bejijong berada di kawasan Trowulan yang lekat dengan jejak Majapahit, tetapi ingatan sosial warganya tidak hanya tentang batu bata kuno dan situs. Banyak tokoh lokal hidup dalam tutur keluarga, namun mudah hilang karena tidak terdokumentasi.
Sosialisasi dan pendampingan penulisan digelar di pendapa Balai Desa Bejijong pada Kamis (27/11). Kepala Desa Bejijong Pradana Tera Mardiatna menyebut program ini ditujukan untuk menggali, mendokumentasikan, dan memperkuat cerita tokoh pahlawan lokal yang berjasa bagi desa.
Peserta berasal dari perangkat desa dan perwakilan warga yang dianggap paling dekat dengan sumber cerita. Format ini membuat data lebih membumi, tetapi sekaligus memperlihatkan satu masalah klasik: sejarah lokal sering bergantung pada ingatan yang rapuh.
Pendekatan “cerita lisan pahlawan” bekerja pada dua jalur sekaligus, yakni kebahasaan dan kebudayaan. Balai Bahasa Jatim mendorong warga menuturkan kisah, lalu menuliskannya ulang dengan kaidah Bahasa Indonesia sesuai KBBI, sambil mempertahankan unsur bahasa lokal.
Di titik ini, program tampak sederhana, tetapi dampaknya bisa strategis bagi desa wisata sejarah. Narasi yang terdokumentasi dapat menjadi materi tur, konten museum desa, hingga bahan ajar muatan lokal, sehingga wisata tidak hanya menjual artefak, tetapi juga manusia.
Namun proses alih-wahana dari lisan ke tulisan selalu membawa risiko penyempitan makna. Dialek, humor, atau penekanan emosional sering hilang ketika “dirapikan”, sehingga pendampingan harus memastikan konteks sosial dan gaya tutur tetap terbaca.
Balai Bahasa memberi arahan teknik penulisan, pelestarian cerita rakyat, dan pentingnya akurasi sejarah. Ini penting karena kisah heroik mudah tergelincir menjadi glorifikasi, terutama ketika desa wisata membutuhkan cerita yang “menjual”.
Kunci akurasi tidak hanya pada ejaan, tetapi juga pada verifikasi sumber dan penandaan bagian yang bersifat ingatan kolektif. Metode sederhana seperti mencatat siapa penutur, kapan dituturkan, dan versi-versi yang berbeda dapat membuat naskah lebih jujur tanpa menghilangkan daya pikat.
Program ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dimulai dari bangunan, tetapi dari kalimat yang diingat warga. Ketika desa menulis ulang kisah pahlawannya, desa sedang menegosiasikan siapa yang dianggap penting dan siapa yang selama ini dilupakan.
Di sinilah sudut tajamnya: “pahlawan lokal” bisa menjadi ruang inklusif, tetapi juga bisa menjadi panggung seleksi sosial. Jika yang tercatat hanya tokoh elit atau figur yang dekat dengan struktur kuasa, maka dokumentasi justru mengulang ketimpangan ingatan.
Karena itu, pendampingan idealnya membuka pintu bagi cerita perempuan, pekerja tani, perajin, atau penjaga tradisi yang kontribusinya tidak selalu heroik dalam versi resmi. Pahlawan desa tidak harus selalu pejuang bersenjata, tetapi bisa juga perawat tradisi, penggerak pendidikan, atau penolong saat krisis.
Upaya menjaga unsur bahasa lokal juga patut dibaca sebagai perlawanan halus terhadap homogenisasi. Bahasa daerah bukan sekadar ornamen, melainkan penanda cara pandang, sehingga mempertahankannya berarti menjaga cara desa memahami dirinya sendiri.
Bejijong sedang membangun jembatan dari ingatan ke arsip, dari tutur ke teks, dan dari kisah ke identitas desa wisata sejarah. Jika dikerjakan dengan verifikasi, keberagaman suara, dan etika penulisan, program Lisan Pahlawan dapat menjadi model pelestarian yang tidak memfosilkan budaya.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: siapa saja yang diberi ruang untuk bercerita, dan siapa yang bersedia mendengar tanpa buru-buru mengubahnya menjadi slogan. Di antara situs tua dan wisata baru, masa depan Bejijong mungkin bergantung pada keberanian merawat cerita yang paling manusiawi.
(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juli 2026)