Tata Surya Pernah Punya Dua Planet Hilang, Simulasi Ungkap Jejaknya
ORBITINDONESIA.COM – Tata Surya dan planet hilang kembali jadi perbincangan setelah studi di jurnal Icarus (25 Maret 2025) menyebut dua planet raksasa tambahan mungkin pernah mengorbit dekat Uranus dan Neptunus. Dalam skenario itu, planet-planet ekstra tersebut akhirnya terlempar ke ruang antarbintang, meninggalkan jejak pada bulan-bulan raksasa seperti Jupiter dan Uranus.
Selama ini publik mengenal tata surya memiliki delapan planet, seolah susunannya sejak awal sudah “final”. Namun astronomi modern justru memandang masa muda tata surya sebagai arena yang gaduh, ketika gravitasi saling tarik-menarik bisa mengubah segalanya.
Kerangka besarnya datang dari Nice Model (2005) yang menyatakan Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus bermigrasi sebelum stabil di orbit sekarang. Versi 2011 bahkan membuka kemungkinan ada satu planet raksasa tambahan yang terlempar keluar, tetapi identitasnya tak pernah tuntas.
Studi baru yang dikutip dari Live Science mencoba mengunci pertanyaan itu lewat pendekatan berbeda. Bukan hanya melihat posisi planet, tetapi juga “membaca” ketahanan satelit alami sebagai saksi evolusi.
Tim yang dipimpin Matthew Clement dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory menjalankan lebih dari 100 simulasi komputer untuk merekonstruksi sejarah awal tata surya. Mereka memodelkan pergerakan planet raksasa dan sekitar 1.000 planetesimal selama 20 juta tahun.
Dari sekitar 100.000 simulasi yang tersedia, dipilih 122 yang hasil akhirnya paling mirip tata surya saat ini. Sebagian dimulai dengan lima planet raksasa, sebagian lagi dengan enam planet raksasa.
Temuan kuncinya sederhana tetapi mengganggu: konfigurasi “mirip sekarang” bisa lahir dari skenario yang lebih ramai. Dalam banyak simulasi, planet tambahan bergerak lincah di antara raksasa lain sebelum akhirnya terlontar keluar.
Di titik ini, satelit menjadi alat uji yang tidak mudah dibantah oleh kebetulan numerik. Bulan-bulan besar Jupiter cenderung tetap stabil dalam simulasi dengan dua planet es tambahan, sedangkan satelit Uranus lebih sering selamat dalam skenario satu planet tambahan.
Resonansi Io–Europa–Ganymede diperlakukan sebagai semacam meteran presisi. Io mengorbit empat kali untuk setiap dua orbit Europa dan satu orbit Ganymede, dan pola ini sangat stabil hingga kini.
Stabilitas seteliti itu menyiratkan gangguan besar tidak sering menyentuh sistem Jupiter setelah terbentuk. Karena itu, tim menilai skenario dua planet es tambahan yang kemudian terlempar justru lebih konsisten dengan “ketenangan” resonansi tersebut.
Uranus memberi cerita yang lebih kasar. Simulasi menunjukkan planet tambahan dapat memicu gangguan besar, memicu tabrakan antarbuluan, dan menghapus sebagian sejarah awalnya.
Hipotesis itu dipakai untuk membaca keunikan Miranda, bulan Uranus yang disebut memiliki kandungan es sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding satelit Uranus lainnya. Jika pernah ada tabrakan besar, material es yang menguap lalu mengendap kembali bisa menjelaskan komposisi yang terasa “tidak seragam” itu.
Soal ukuran planet hilang, studi ini memberi kisaran yang menggoda pencarian publik. Dalam skenario enam planet raksasa, dua planet tambahan diperkirakan bermassa di antara Bumi dan Neptunus, sehingga masuk kelas super-Earth.
Dalam skenario lima planet raksasa, planet tambahan diperkirakan hampir setara Neptunus. Nathan Kaib dari Planetary Science Institute menyebut karena massanya mirip Uranus dan Neptunus, sifat fisiknya kemungkinan juga menyerupai keduanya.
Namun, ada batas yang harus diakui agar sains tidak berubah menjadi dongeng kosmik. Para peneliti menegaskan bukti yang ada belum cukup untuk memastikan apakah tata surya purba memiliki satu atau dua planet tambahan, karena beberapa simulasi masih bisa membentuk tata surya sekarang hanya dengan satu planet ekstra.
Gagasan “dua planet hilang” mudah menjadi judul sensasional, tetapi nilai ilmiahnya justru ada pada kerendahan hati model. Simulasi tidak “menemukan” planet yang hilang, melainkan menguji skenario mana yang paling masuk akal ketika dipaksa cocok dengan banyak batasan.
Di sini, satelit berperan seperti arsip yang sulit dipalsukan. Orbit bulan-bulan raksasa menyimpan memori dinamika, dan memori itu bisa lebih jujur daripada sekadar menebak posisi planet miliaran tahun lalu.
Namun kita juga harus kritis pada risiko overfitting kosmik. Memilih 122 konfigurasi “paling mirip” dari puluhan ribu simulasi dapat membuat hasil tampak meyakinkan, padahal ketidakpastian awalnya sangat besar.
Karena itu, pertarungannya bukan antara “ada” atau “tidak ada” planet hilang, melainkan antara bukti yang semakin menajam dan cerita yang semakin disiplin. Jika kelak misi pengamatan Uranus memetakan struktur dan komposisi satelitnya lebih detail, hipotesis tabrakan besar bisa diuji lebih keras.
Di sisi publik, narasi planet hilang penting karena mengubah cara kita memandang tata surya. Ia bukan museum yang rapi, melainkan sistem yang pernah mengalami eksodus, migrasi, dan kekerasan gravitasi sebelum menjadi rumah yang relatif stabil.
Studi di Icarus ini menempatkan tata surya pada panggung yang lebih dramatis: mungkin pernah ada lima atau enam planet raksasa, lalu satu atau dua di antaranya terlempar ke gelap antarbintang. Jejaknya tidak dicari lewat teleskop semata, tetapi lewat “bahasa” orbit bulan-bulan Jupiter dan Uranus.
Jika benar ada planet yang tersingkir, pertanyaan yang tersisa bukan hanya “berapa” dan “sebesar apa,” tetapi juga “apa yang membuat kita selamat.” Mungkin kestabilan yang kita nikmati hari ini adalah hasil seleksi keras alam semesta, dan kita baru mulai membaca catatan pinggirnya. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Juni 2026)