Kasus Leptospirosis Pati Melonjak, Warga Sawah Tambak Terancam

Seputar Muria

Seputar Muria

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kasus leptospirosis di Pati melonjak tajam, dengan 172 kasus tercatat hanya dalam Januari hingga Mei 2026. Tren ini menguatkan alarm lama: musim hujan, genangan air, dan tikus menjadi kombinasi berbahaya bagi petani, nelayan, serta pekerja tambak.

Leptospirosis adalah infeksi bakteri Leptospira yang umumnya menyebar lewat urine tikus. Di wilayah agraris seperti Kabupaten Pati, kontak dengan air sawah, tambak, dan selokan membuat risiko paparan menjadi bagian dari rutinitas kerja.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati menyebut lonjakan berulang muncul pada awal tahun saat musim penghujan. Ketua Tim P2PM Dinkes Pati, Yanti, menegaskan penularan sering terjadi saat bakteri masuk melalui luka terbuka yang terendam air atau tanah terkontaminasi.

Ancaman tidak berhenti di sawah atau tambak. Makanan dan minuman yang tercemar urine tikus juga dapat menjadi jalur penularan, bahkan dari hal yang tampak sepele seperti kemasan minuman yang tidak dicuci.

Data Dinkes Pati memperlihatkan pola kenaikan yang tidak bisa lagi disebut fluktuasi biasa. Pada 2022 tercatat 7 kasus, naik menjadi 22 kasus pada 2023, lalu melonjak menjadi 61 kasus pada 2025.

Yang paling mengkhawatirkan adalah percepatan pada 2026, yaitu 172 kasus hanya dalam lima bulan pertama. Jika laju ini tidak ditekan, beban kasus tahunan berpotensi melampaui tahun-tahun sebelumnya secara signifikan.

Angka kematian juga menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar “demam musiman.” Tahun 2025 tercatat 17 kematian, sementara hingga Mei 2026 sudah 21 kematian, yang berarti fatalitas masih tinggi di tengah peningkatan kasus.

Yanti menyebut gejala awal sering menipu karena mirip flu, demam berdarah, atau tifus. Keluhan seperti demam, mual, muntah, nyeri betis, dan mata merah atau kekuningan membuat banyak orang terlambat membedakan mana penyakit yang harus segera ditangani agresif.

Dalam fase berat, gangguan ginjal dapat menurunkan produksi urine, yang menjadi tanda bahaya klinis. Pada titik ini, keterlambatan berobat tidak hanya memperpanjang rawat, tetapi juga menaikkan risiko kematian.

Masalahnya bukan semata bakteri, melainkan ekosistem penularan yang dibiarkan terbentuk. Genangan air, sanitasi lemah, pengendalian tikus yang tidak terpadu, dan kebiasaan kerja tanpa alat pelindung diri menjadikan paparan sebagai kejadian berulang.

Di lapangan, pekerja rentan sering berada pada pilihan sulit: bekerja cepat atau bekerja aman. Sepatu boot, sarung tangan, dan perawatan luka terdengar sederhana, tetapi tidak selalu menjadi kebiasaan, apalagi bila akses dan edukasi tidak konsisten.

Upaya Dinkes Pati memperkuat deteksi dini kasus suspek lewat puskesmas, desa, dan kecamatan adalah langkah penting. Namun, efektivitasnya bergantung pada satu hal: seberapa cepat warga mengenali gejala dan mau datang sebelum kondisi parah.

Lonjakan leptospirosis di Pati seharusnya dibaca sebagai indikator kualitas lingkungan dan tata kelola risiko kesehatan kerja. Ketika kasus naik tajam tiap musim hujan, itu berarti pencegahan belum menutup sumber masalah di hulu.

Kita sering menempatkan tanggung jawab pada individu, seperti imbauan memakai APD dan mencuci tangan. Imbauan itu benar, tetapi tidak cukup bila lingkungan tetap menyediakan genangan, sampah, dan habitat tikus yang stabil sepanjang tahun.

Kasus dari kaleng minuman yang terpapar urine tikus, seperti disebut Yanti, menunjukkan sisi lain yang kerap luput: keamanan pangan rumah tangga. Risiko tidak hanya mengintai pekerja sawah, tetapi juga keluarga yang menyimpan makanan terbuka atau kurang memperhatikan kebersihan kemasan.

Yang paling tajam adalah pertanyaan tentang keterlambatan penanganan. Jika kematian “bisa dicegah bila ditangani dini,” maka setiap kematian adalah tanda ada mata rantai yang putus, entah edukasi, akses, atau kepercayaan pada layanan kesehatan.

Karena itu, strategi harus bergeser dari reaktif menjadi preventif. Pengendalian tikus terpadu, perbaikan drainase, dan disiplin sanitasi perlu menjadi program lintas sektor, bukan sekadar kampanye kesehatan musiman.

Dinkes Pati sudah mengeluarkan daftar langkah pencegahan yang jelas, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan, memakai APD, hingga menyimpan makanan tertutup. Pengendalian tikus juga harus dilakukan aman, dengan bangkai dibakar atau dikubur serta diberi kaporit atau disinfektan.

Namun, data 172 kasus dalam lima bulan mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dan kebijakan besar harus berjalan bersamaan. Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah Pati akan menunggu angka bertambah lagi untuk berbenah, atau menjadikan musim hujan berikutnya sebagai ujian kesiapan yang benar-benar baru.

(Orbit dari berbagai sumber, 1 Juli 2026)