Perjanjian Polandia-Jerman 35 Tahun: Rekonsiliasi, Reparasi, Keamanan NATO

DW.com

DW.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Perjanjian Polandia-Jerman 1991 kembali jadi sorotan saat Berlin dan Warsawa menandai 35 tahun “Good Neighborliness Treaty” di tengah perang Ukraina. Di balik seremoni German Polish Forum 17 Juni 2026, isu reparasi perang dan kerja sama militer NATO menguji seberapa kokoh persahabatan itu.

Pada 17 Juni 1991, Perdana Menteri Polandia Jan Krzysztof Bielecki dan Kanselir Jerman Helmut Kohl menandatangani Perjanjian Bertetangga Baik, Persahabatan, dan Kerja Sama di Bonn. Dokumen itu dimaksudkan sebagai awal baru setelah puluhan tahun permusuhan dan saling curiga.

Senat Polandia menyebut perjanjian itu sebagai “fondasi tatanan baru di Eropa setelah runtuhnya Tirai Besi” dan sebuah terobosan. Bundestag pun membahas tema “Persahabatan kuat dalam damai dan kebebasan—35 tahun sejak peluncuran ulang relasi Jerman-Polandia.”

Permusuhan pasca-Perang Dunia II berpusat pada sengketa pengakuan Garis Oder–Neisse sebagai perbatasan. Propaganda rezim komunis Polandia ikut menyulut konflik, sementara Ostpolitik Willy Brandt pada 1970-an hanya menormalkan relasi tanpa membangun kemitraan penuh.

Titik balik terjadi setelah komunisme runtuh di Polandia pada 1989 dan Jerman bersatu pada 1990. Konfirmasi Garis Oder–Neisse pada 14 November 1990, lalu perjanjian persahabatan tujuh bulan kemudian, menjadi landasan kemitraan baru.

Terjemahan akurat artikel sumber: Pada 17 Juni 1991, Perdana Menteri Polandia Jan Krzysztof Bielecki dan Kanselir Jerman Helmut Kohl bertemu di Bonn untuk menandatangani Perjanjian antara Republik Federal Jerman dan Republik Polandia tentang Bertetangga Baik, Persahabatan, dan Kerja Sama. Kesepakatan itu menandai awal baru hubungan Polandia-Jerman setelah puluhan tahun permusuhan dan ketidakpercayaan.

Tiga puluh lima tahun kemudian, pada 17 Juni 2026, kedua negara yang kini menjadi mitra dekat di Uni Eropa dan NATO akan memperingati penandatanganan itu dalam sebuah acara besar di Berlin, German Polish Forum. Senat Polandia memuji perjanjian itu sebagai “fondasi tatanan baru di Eropa setelah runtuhnya Tirai Besi” dan “terobosan” dalam hubungan Polandia-Jerman.

Pada hari yang sama, Bundestag membahas topik “Persahabatan kuat dalam damai dan kebebasan—35 tahun sejak peluncuran ulang hubungan Jerman-Polandia.” Anggota parlemen konservatif Jerman Knut Abraham mengatakan warga Jerman bersyukur karena Polandia kala itu “mengulurkan tangan” melalui perjanjian tersebut dan juga “menerima tangan” yang ditawarkan Jerman.

Setelah Perang Dunia II, hubungan Polandia-Jerman ditandai permusuhan dan ketidakpercayaan. Inti konflik adalah sengketa pengakuan Garis Oder–Neisse sebagai perbatasan pascaperang, yang dipicu secara cerdik oleh propaganda rezim komunis Polandia.

Pada 1970-an, Ostpolitik Kanselir Jerman Barat Willy Brandt yang mengejar pendekatan dengan Eropa Timur komunis memang menormalkan hubungan, tetapi tidak lebih dari itu. Baru runtuhnya komunisme dan pemulihan demokrasi di Polandia pada 1989 serta penyatuan Jerman setahun kemudian membuat awal baru menjadi mungkin.

Konfirmasi Garis Oder–Neisse sebagai perbatasan Jerman-Polandia pada 14 November 1990 dan perjanjian persahabatan tujuh bulan kemudian menciptakan fondasi kemitraan. Anggota parlemen Polandia Marek Krzakala mengatakan, “Dengan perjanjian itu, kami menarik garis atas masa lalu dan meletakkan dasar kerja sama di masa depan.”

Krzakala menambahkan bahwa tanpa dukungan Jerman, masuknya Polandia ke NATO (1999) dan Uni Eropa (2004) akan jauh lebih sulit. Ketika menjadi menlu non-komunis pertama Polandia pada 1989, Krzysztof Skubiszewski menyatakan targetnya adalah menciptakan Komunitas Kepentingan Jerman-Polandia.

Sejak itu dibangun “jaringan hubungan” di politik, bisnis, budaya, dan wilayah perbatasan. Kini ada ratusan kemitraan kota, sekolah, klub olahraga, dan pemadam kebakaran, serta lebih dari 3 juta anak muda Jerman-Polandia ikut program pertukaran.

Perdagangan kedua negara tahun lalu melampaui €180 miliar untuk pertama kalinya, menjadikan Polandia mitra dagang terbesar kelima Jerman setelah Prancis. Peluang baru juga terbuka bagi minoritas Jerman di Polandia dan diaspora Polandia di Jerman.

Namun antusiasme awal Polandia memudar menjadi skeptisisme, dan kritik terhadap Jerman meningkat. Masa lalu yang bermasalah terus muncul, termasuk kontroversi akhir 1990-an ketika Erika Steinbach merencanakan pusat dokumentasi “Center Against Expulsion” yang menyorot penderitaan warga Jerman, yang di Polandia dipandang sebagai relativisasi kejahatan Jerman pada Perang Dunia II.

Kelompok konservatif kanan Polandia memanfaatkan retorika anti-Jerman untuk keuntungan politik. Jaroslaw Kaczynski dari Partai Hukum dan Keadilan (PiS) menuduh Berlin ingin membentuk “Reich Keempat” dan menempatkan Polandia “di bawah sepatu bot Jerman” lewat Uni Eropa.

Pada 2022, pemerintah PiS memasukkan reparasi perang ke agenda resmi. Kerugian Polandia akibat pendudukan Jerman 1939–1945 diperkirakan €1,4 triliun, sementara Krzakala menilai mayoritas warga Polandia tidak menganggap Jerman musuh dan menyebut relasi baik sebagai “alasan negara,” terutama saat Rusia berperang di Ukraina.

Keinginan reparasi tidak hanya datang dari kanan, karena Berlin menolak semua tuntutan reparasi dan pembicaraan beralih pada “solusi pragmatis” bagi sekitar 50.000 korban perang yang masih hidup. Usulan Jerman sekitar €200 juta ditolak Polandia pada 2024, dan tawaran baru paling cepat dibahas pada anggaran 2027.

Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, isu keamanan menjadi pusat hubungan bilateral. Bundeswehr mengerahkan sistem pertahanan udara Patriot dan jet Eurofighter untuk membantu melindungi wilayah udara di garis depan timur NATO di Polandia.

Perjanjian pertahanan Jerman-Polandia yang juga dijadwalkan ditandatangani pada 17 Juni akan meningkatkan kerja sama militer. Diplomat Janusz Reiter menekankan bahwa perbatasan timur Polandia adalah garis pertahanan pertama Jerman, dan ia menyebut integrasi Ukraina ke struktur Barat sebagai tantangan terbesar serta kerja sama tiga negara sebagai “sensasi historis.”

Dari data perdagangan €180 miliar hingga penguatan pertahanan udara, terlihat relasi ini bergerak dari simbol rekonsiliasi menuju kontrak kepentingan yang konkret. Namun angka €1,4 triliun dan perdebatan €200 juta menunjukkan luka sejarah masih menjadi variabel politik yang mudah menyala kembali.

Momentum 17 Juni 2026 memperlihatkan Eropa Timur bukan lagi pinggiran, melainkan pusat gravitasi keamanan Eropa. Karena itu, perjanjian pertahanan baru akan dibaca publik bukan sekadar dokumen militer, tetapi juga ukuran seberapa serius Berlin memandang Warsawa sebagai mitra setara.

Perjanjian Polandia-Jerman 1991 sering dipuja sebagai garis pemisah masa lalu, tetapi kenyataannya ia lebih mirip jembatan yang terus diuji beban. Jembatan itu kuat saat ekonomi tumbuh dan pertukaran sosial meriah, namun retak ketika memori perang dipolitisasi.

Penolakan total Berlin atas reparasi membuat ruang kompromi menyempit, lalu digantikan bahasa “gestur kemanusiaan” yang mudah dianggap merendahkan. Jika Jerman ingin memimpin Eropa secara moral, ia perlu menawarkan mekanisme yang terasa adil, transparan, dan tidak sekadar angka simbolik.

Di sisi lain, Warsawa juga perlu membedakan antara keadilan historis dan alat kampanye domestik. Retorika “Reich Keempat” mungkin efektif menggalang emosi, tetapi ia merusak modal kepercayaan yang dibangun puluhan tahun.

Perang Ukraina mengubah kalkulasi, karena keamanan kini menjadi mata uang utama. Ketika Patriot dan Eurofighter hadir, publik melihat solidaritas, tetapi juga menuntut konsistensi kebijakan Jerman terhadap Rusia dan terhadap garis timur NATO.

Jika integrasi Ukraina menjadi “tantangan terbesar,” maka relasi Jerman-Polandia tidak bisa lagi berjalan dengan logika lama Barat yang mengajari Timur. Kemitraan akan bertahan hanya jika kedua pihak mengakui bahwa perbatasan Polandia bukan sekadar pagar nasional, melainkan benteng Eropa.

Peringatan 35 tahun perjanjian ini mengingatkan bahwa rekonsiliasi bukan keadaan permanen, melainkan pekerjaan politik yang harus diperbarui. Perdagangan besar dan jejaring masyarakat sipil membuktikan persahabatan mungkin, tetapi reparasi dan memori perang menunjukkan masa lalu belum selesai.

Pertanyaan kuncinya bukan apakah Polandia dan Jerman “saling suka,” melainkan apakah mereka mampu membangun keadilan yang bisa diterima publik tanpa merusak persatuan Eropa. Jika solidaritas keamanan bisa dipercepat oleh perang, mengapa solidaritas kemanusiaan bagi korban perang masih berjalan lambat.

Di ujungnya, perjanjian 1991 adalah janji untuk hidup bertetangga baik, bukan sekadar bertahan dari krisis. Janji itu akan terasa nyata ketika sejarah dihormati, keamanan dijaga, dan masa depan Ukraina diperlakukan sebagai proyek bersama, bukan beban salah satu pihak. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Juni 2026)