Film Backrooms A24 Meledak: Box Office, Gen Z, dan Era YouTuber

Variety

Variety

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Film Backrooms A24 mencetak debut mengejutkan: US$81 juta di Amerika Utara dan US$118 juta global pada akhir pekan pembuka. Angka ini menjadikannya pembukaan terbesar sepanjang sejarah A24, sekaligus start terbesar untuk film horor orisinal.

Backrooms disutradarai Kane Parsons, kreator YouTube berusia 20 tahun, yang kini menjadi sineas termuda dengan film nomor satu di box office. Rekor itu melampaui Josh Trank, yang berusia 27 saat Chronicle memuncaki tangga box office pada 2012.

Cerita filmnya berangkat dari mitologi “ruang liminal” yang lahir di 4chan dan menyebar lewat Reddit serta TikTok. Seorang pemilik toko furnitur (Chiwetel Ejiofor) menemukan pintu rahasia menuju deretan ruang tak berujung, lalu terapisnya (Renate Reinsve) masuk untuk menyelamatkan.

Dengan biaya produksi sekitar US$10 juta dari A24 dan Chernin Entertainment, film ini sudah menjadi hit yang sangat menguntungkan. Analis Jeff Bock menyebut pembukaan di atas US$80 juta sebagai sesuatu yang “tak ada yang menduga,” seraya menyinggung obsesi publik pada mitologi Backrooms.

Ledakan Backrooms memperlihatkan satu hal: Gen Z kembali menghidupkan bioskop, tetapi dengan selera yang lebih selektif. Data audiens menunjukkan hampir 85% penonton Backrooms berusia di bawah 35 tahun, dan 50% berusia 25 tahun atau lebih muda.

Menariknya, film ini tidak “memakan” pasar horor lain yang juga viral, yakni Obsession dari kreator YouTube. Justru Obsession naik 10% pada akhir pekan ketiga dan menembus US$100 juta domestik, dengan 75% penonton awal berusia 18–25 tahun.

Kombinasi dua hit horor itu memberi sinyal bahwa “permintaan masih masif,” kata Bock, sehingga keduanya bisa hidup berdampingan. Perbedaan subgenre juga membuatnya terasa seperti paket ganda: Backrooms menawarkan teka-teki semesta paralel, sedangkan Obsession menekan pedal thriller tentang fiksasi romantis.

Namun, euforia Gen Z bukan berarti semua waralaba aman. Disney mengalami pukulan ketika The Mandalorian and Grogu jatuh 70% pada akhir pekan kedua, meski tayang di layar lebih banyak dibanding Backrooms.

Penurunan tajam itu menandakan kekuatan merek saja tidak cukup untuk menjangkau penonton muda di luar basis penggemar inti yang menua. Dengan kata lain, yang terjadi bukan sekadar “franchise fatigue,” melainkan “franchise discernment,” yaitu kejenuhan yang selektif.

Konsekuensinya besar bagi strategi musim panas yang biasanya dikuasai judul-judul raksasa. Film seperti Toy Story 5, Minions and Monsters, dan Spider-Man: Brand New Day mungkin tetap jadi juggernaut, tetapi Hollywood tidak bisa terus “kembali ke sumur” tanpa alasan kreatif yang jelas.

Poin lain yang tak kalah penting adalah validasi jalur YouTube ke Hollywood. Jason Blum menyebut YouTube sebagai “tempat baru” untuk mencari talenta generasi berikutnya, dan kasus Parsons memperlihatkan bagaimana fanbase digital bisa diterjemahkan menjadi tiket.

Model ini bukan tanpa kurasi, karena Parsons juga ditopang produser mapan seperti Peter Chernin, James Wan, dan Shawn Levy. Paul Dergarabedian dari Comscore menilai jalur kreator YouTube ke layar lebar bersifat “aditif dan komplementer” bagi pipeline produksi, meski belum tentu menandai pergeseran paradigma permanen.

Di sisi genre, horor juga sedang bergeser dari sekadar “shock value” menuju narasi yang lebih ambisius. David A. Gross menilai horor terbaik kini bergerak melampaui gore, karena elemen seramnya dipakai untuk membangun cerita yang lebih memuaskan.

Gelombang itu terlihat pada deret horor orisinal yang kuat secara ulasan dan percakapan publik. Blum menyebutnya sebagai selera horor “left-of-center,” yakni lebih nyeleneh, lebih konseptual, dan lebih berani secara ide.

Terakhir, keberhasilan Backrooms juga menjadi titik balik bagi Blumhouse setelah periode 2025 yang dingin. Setelah rentetan kegagalan dan pembatalan Soulm8te, perusahaan ini mulai bangkit lewat Black Phone 2, Five Nights at Freddy’s 2, dan reboot The Mummy.

Fenomena Backrooms seharusnya dibaca sebagai koreksi terhadap cara Hollywood mengukur “IP.” Kane Parsons menyebut Backrooms sebagai IP, tetapi IP di sini bukan nostalgia lintas generasi, melainkan mitologi internet yang hidup dan terus diperbarui.

Inilah jenis kekayaan intelektual yang tidak diwariskan dari orang tua ke anak, melainkan dibangun dari algoritma, forum, dan budaya remix. Ketika penonton muda datang, mereka tidak “patuh merek,” mereka mengejar pengalaman yang terasa baru dan bisa dibicarakan.

Karena itu, jatuhnya Mandalorian and Grogu bukan sekadar kegagalan pemasaran, melainkan sinyal bahwa kemasan lama tidak otomatis relevan. Jika cerita tidak menawarkan urgensi emosional atau estetika yang segar, Gen Z akan memindahkan atensi dalam hitungan jam.

Di saat yang sama, jalur YouTube ke bioskop tidak boleh disalahpahami sebagai karpet merah bagi semua kreator. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pembinaan, karena fanbase besar hanya membuka pintu, tetapi kualitas film yang menjaga pintu itu tetap terbuka.

Horor menjadi kendaraan paling cocok untuk transisi ini karena biaya relatif rendah dan ruang eksperimen tinggi. Saat film US$10 juta bisa meledak menjadi ratusan juta, industri akan tergoda mengulang formula, tetapi justru di situ risiko “pabrikasi” kembali muncul.

Backrooms membuktikan bioskop belum mati, dan Gen Z bukan penonton yang hilang, melainkan penonton yang menuntut. Mereka datang untuk ide yang segar, pengalaman yang unik, dan cerita yang terasa lahir dari zaman mereka.

Pertanyaannya kini bukan apakah Hollywood bisa membuat sekuel, melainkan apakah Hollywood bisa mempertahankan keberanian kreatif tanpa mengubahnya menjadi template. Jika Backrooms benar menjadi waralaba, akankah ia tetap menjadi lorong asing yang menantang, atau berubah menjadi koridor aman yang sekadar menjual merek?

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Juni 2026)