Waspada Influenza A di Sulsel: Dinkes Perketat Surveilans ILI

ANTARA News Makassar

ANTARA News Makassar

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Peningkatan aktivitas virus influenza A secara nasional membuat Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan memperketat surveilans ILI dan kesiapsiagaan layanan. Kepala Dinkes Sulsel dr Evi Mustikawati Arifin menegaskan, hingga awal Oktober 2026 belum ada temuan kasus influenza A di Sulsel, tetapi kewaspadaan tidak boleh turun.

Isu ini muncul saat Kementerian Kesehatan mencatat aktivitas influenza meningkat pada Agustus hingga September 2026 dalam pola musiman Indonesia dan sejumlah negara ASEAN. Sulsel memilih tidak menunggu lonjakan, karena penyakit serupa influenza dapat tampak ringan di permukaan namun berbahaya bagi kelompok rentan.

Di ruang publik, peningkatan influenza kerap disederhanakan sebagai dampak cuaca panas atau El Nino. Dinkes Sulsel mengingatkan korelasi semacam itu sering menyesatkan, karena influenza adalah infeksi virus yang bergerak mengikuti musim dan mobilitas manusia.

Strategi kunci yang diambil adalah penguatan deteksi dini melalui pemantauan influenza-like illness (ILI) dan infeksi saluran pernapasan akut berat. Ini penting karena ILI adalah pintu masuk surveilans, sementara kasus berat menjadi alarm untuk kesiapan rujukan dan kapasitas rumah sakit.

Ketika pemerintah menyebut situasi nasional masih dalam “rentang kewaspadaan”, frasa itu seharusnya dibaca sebagai ajakan mengencangkan sistem, bukan alasan untuk santai. Pengalaman wabah pernapasan menunjukkan lonjakan sering terlihat jelas setelah fasilitas kesehatan mulai penuh, artinya terlambat untuk pencegahan.

Dinkes Sulsel menyiapkan puskesmas hingga rumah sakit untuk deteksi, pemeriksaan, pemantauan, dan penanganan sesuai derajat klinis. Pada gejala ringan, pesan yang ditekankan adalah istirahat dan terapi suportif, sementara gejala berat dan kelompok berisiko tinggi diarahkan ke evaluasi medis lanjutan.

Di sisi farmasi, Kementerian Kesehatan mempercepat distribusi antivirus seperti Oseltamivir ke fasilitas layanan kesehatan. Namun Dinkes Sulsel menegaskan obat ini bukan untuk konsumsi massal, karena penggunaan tanpa indikasi dapat memicu kepanikan, kelangkaan, dan keputusan terapi yang tidak tepat.

Larangan “aksi borong” obat bukan sekadar soal etika belanja, melainkan soal keadilan akses kesehatan. Jika stok tersedot oleh pembelian panik, pasien bergejala berat yang benar-benar membutuhkan justru berisiko tertunda mendapat terapi.

Cuaca ekstrem tetap relevan, tetapi lebih sebagai faktor yang melemahkan kebugaran melalui dehidrasi, kurang tidur, dan kelelahan. Dalam kondisi tubuh menurun, infeksi apa pun lebih mudah masuk, sehingga perilaku hidup bersih dan sehat menjadi lapis pertahanan yang paling murah dan efektif.

Langkah Dinkes Sulsel patut dibaca sebagai upaya memperbaiki “nalar kewaspadaan” publik yang sering terjebak pada dua ekstrem: panik atau abai. Di tengah banjir informasi, kewaspadaan yang rasional justru berarti percaya pada data surveilans, bukan rumor cuaca atau kabar obat mujarab.

Namun ada catatan kritis: surveilans hanya kuat bila pelaporan fasilitas kesehatan konsisten dan cepat. Jika pencatatan ILI dan kasus pernapasan berat masih tersendat, maka klaim “belum ditemukan kasus” bisa lebih mencerminkan keterbatasan deteksi ketimbang situasi sebenarnya.

Komunikasi risiko juga harus lebih tajam, terutama membedakan influenza musiman dengan ancaman lain yang gejalanya mirip. Publik perlu tahu kapan cukup istirahat di rumah, kapan harus tes, dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan, agar beban layanan tidak menumpuk sia-sia.

Di titik ini, pesan “tetap tenang” harus disertai panduan praktis yang terukur. Tenang bukan berarti pasif, melainkan disiplin pada kebersihan tangan, etika batuk, pemakaian masker saat sakit, dan membatasi kontak bila gejala muncul.

Sulsel mungkin belum mencatat influenza A, tetapi pencegahan selalu bekerja sebelum angka kasus naik. Ketika surveilans diperkuat dan layanan disiagakan, yang diuji sesungguhnya adalah kedewasaan publik dalam merespons risiko tanpa kepanikan.

Influenza mengajarkan satu hal sederhana: kesehatan masyarakat dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama. Pertanyaannya, apakah kita menunggu ruang tunggu penuh dulu untuk mulai disiplin, atau memilih waspada sejak sekarang dengan cara yang masuk akal?

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Oktober 2026)